Kearifan Kehidupan


Kearifan kehidupan

Seiring berjalannya waktu, pengalaman akan membentuk seseorang menjadi sosok yang  berkarakter. Kemampuan mengelola masalah  menempah seseorang  menjadi pribadi yang sangat bijak. Begitu harapan setiap orang terdidik, namun pada situasi yang berbeda pengalaman hidup tidak memberi pelajaran kearifan kepada yang lain, terkadang aturan aturan tentang fairness, harus berlaku pada orang lain saja, tapi pada saat yang bersamaan seseorang  menggunakan standar ganda tentang  keadilan, kejujuran dan hal-hal baik yang lain. Karena kejujuran, keadilan ternyata  memang pahit, memberi gejolak dan gelorah keserakahan.

Kearifan tentang kehidupan ini saya goreskan kembali untuk berbagi dengan sahabat-sahabat terbaik,  bahwa meski kiamat akan datang besok, jangan pernah berhenti untuk menabur kebaikan, bila kebiasaan  yang baik yang senantiasa dilakukan, maka kebaikan-kebaikan itu juga akan kembali kepada  dirimu.  Begitu pula sebaliknya, siapa yang menabur kebiasaan buruk akan menuai badai. Sudah begitu banyak  fakta disekitar kita, sehingga belajarlah dari hal-hal yang  baik, amalkan dan nikmati hasilnya.  Menikmati  hidup adalah menghargai setiap waktu yang telah di sediakan  dengan  berbuat kebajikan; belajar, menolong orang lain, jujur pada diri sendiri, orang lain dan tentu jujur pada sang Khalik.

Menikmati hidup bukan berarti sibuk mengurus diri sendiri, tetapi memberi manfaat seluas-luasnya  kepada alam.   Menjadi penyubur kehidupan, karena  kehidupan yang kita nikmati ini adalah kebaikan-kebaikan yang telah ditanam oleh orang-orang baik sebelum kita. Karena itu kalau kamu berbuat kebaikan hari ini, mungkin ada baiknya tidaklah menharap bahwa  padi yang kau tanam hari ini kamu akan panen besok, kalau itu yang terfikirkan; ibaratlah pak tani yang menggarap sawahnya, menanami padi dan menunggu  3 bulan kemudian dia akan panen. Seorang arif, akan senantiasa menanam kabaikan untuk kehidupan, sebagai wujud suka citanya dan terimaksihnya kepada sang Khalik.

Kalau kamu merasa terdidik, kemudian kebaikan yang kamu lakukan hari ini harus kamu dapatkan imbalannya 3 bulan kemudian; jadi, apa bedanya kamu dengan seorang pak tani??? Berhentilah berfikir seperti itu, sekarang bangunlah kosep baru kehidupanmu, petakan dekade kehidupanmu, mendaki terus menuju puncak kesuksesanmu, berpetualan dalam kebaikan dan menghargai kehidupan. Ukurlah bila sesuatu tidak adil menurut batinmu, mungkin kamu telah menganiaya seseorang, jadi bangunlah kepekaan sosial kamu, sehingga   dunia ini menjadi tempat yang indah dimana pun kamu berada. Berhentilah untuk sibuk memikirkan sumber kekayaan orang lain, karena tidak pernah tertukar rezeki kamu dengan siapapun.

Setiap insan telah lahir dengan kodratnya; semua harus berusaha mengikuti kodratnya, karena ternyata semut hitam yang ada di dalam batu hitam di tengah malam sekalipun Tuhan telah menyiapkan rezekinya. Karena itu kebaikan-kebaiakan yang dibiasakan; ketukan hati, pikiran, sikap, tindakan adalah iramah kehidupan  untuk melancarkan rezeki itu. Begitu hukum siklus kehidupan, jangan pernah menyumbat aliran kehidupan, karena bila itu kamu lakukan, yakinlah kamu sedang menyumbat aliran kehidupanmu sendiri.

R.A.

Unipark Brisbane

22 oct 2011

Tujuan Kehidupan


Tulisan ini diinspirasi dari perenungan beberapa minggu dalam long tour di Australia, bergantinya hari demi hari, berputarnya siang dan malam, adalah sebuah sunnatullah. tersedianya sumber sumber kehidupan juga adalah sunnatullah. Begitu luar biasanya kehidupan ini, sehingga sering sekali kita mendengar ayat; maka nikmat tuhanmu yang mana lagi engkau ingkari.

Sungguh sebuah kerugian, bila berputarnya hari, siang dan malam, berlalu hanya sebagai sebuah peristiwa yang tercatat di kalender harian. Semestinya, hari hari yang berlalu ini diisi dengan berbagai aktifitas yang tentu harus memberi manfaat yang seluas-luasnya bagi kehidupan.

Seorang guru sejatinya mengajari murid-muridnya dengan sepenuh hati, sebagai bentuk terima kasihnya pada penciptanya, seorang siswa tentu belajar dengan giat adalah bentuk terima kasihnya kepada yang Maha Kuasa, seorang pedagang di pasar sejatinya melayani pembeli dengan sepenuh hati. Setiap interaksi kehidupan, sejatinya adalah bentuk kesyukuran yang sangat dalam pada sang Khalik.
Kehidupan seharusnya di hargai, dijunjung dan di nimati, bukan menjadikan kehidupan ini sebagai beban karena bila itu yang terlahir, sungguh sangat meruginya kita dilahirkan dan sangat tersiksanya hari demi hari yang dilewati.

Memberi pelayanan terbaik kepada orang lain, adalah bentuk penghormatan yang sangat luhur bagi diri sendiri, melayani dengan senyum, bertutur kata yang menyenangkan, bertindak tanduk yang sopan, sungguh sangat mulia dan tentu betapa nikmatnya hidup ini.

Kutulis ini dengan sepenuh hati untuk menbagi kebahagian diantara sahabat sahabatku. Bahwa hari ini saya sangat bahagia, menjalani hidup dengan penuh gairah, berterima kasih kepada sang khalik setiap tarikan nafasku, membantu teman, melayani mahasiswa, membimbing putra-putriku, berbagi cerita dengan keluarga, serta merampungkan tugas-tugas kantor dengan penuh tanggung jawab, sungguh merupakan hari-hari yang luar biasa.

Kiranya demikian goresan hari ini.

University Park
Griffith University
Brisbane Australia
21 Oct. 2011

Ketika nilai sahabat sama dengan sebuah kepentingan Oleh; R.Amiruddin


Bagian I
Ketika nilai sahabat sama dengan sebuah kepentingan
R.Amiruddin
Persahabatan pada dasarnya adalah sebuah esensi kemanusiaan untuk saling berbagi dalam berbagai suasana. Persahabatan tidak lekang oleh waktu, tempat maupun karena adanya orang lain. Persahabatan adalah sebuah kejujuran untuk saling memahami, saling mengerti, tanpa tendensi untuk saling meniadakan. Persahabatan sejati lahir dari interaksi intensif dalam berbagai suasana yang penuh dinamika. Begitulah sejatinya pemahaman saya tentang sebuah nilai dari persahabatan yang saling memahami. Karena kau sahabatku aku bisa sangat mengerti apa yang kau pikirkan, apa yang kau sembunyikan dan apa yang kau inginkan.
Akhir-akhir ini saya ingin menggugat semuanya itu, benarkah memang hal tersebut yang disebut sebuah persahabatan? Penuh emphati terhadap sahabat? Atau sekarang nilai persahabatan juga sudah luntur oleh berbagai kepentingan? Nafsu kekuasaan? Sehingga saya harus meninggalkan sahabat saya untuk mencapai ambisi kekuasaan saya? Saya harus mengabaikan prinsip-prinsip kompetensi terhadap orang atau sahabat saya untuk sebuah pencapaian demi janji yang telah saya tebar?
Saya mungkin telah dibutakan oleh birahi kekuasaan saya sehingga tidak bisa lagi memisahkan mana sahabat sejati saya dan mana yang bukan? Atau siapa sahabat saya yang mampu dan mana yang pura-pura mampu. Aku telah silau oleh sebuah kepentingan sesaat. Atau mungkin memang saya harus berbuat seperti itu? Sejujurnya nurani saya berontak, Pada saat semua hal menjadi hubungan transaksional, maka semua hal yang terkait dengan kapasitas atau kompetensi bukan lagi menjadi ukuran. Semuanya sudah beralih pada kemampuan mempermainkan dan memanipulasi keadaan.
Setelah melewati pergumulan batin yang begitu menggelisahkan saya, aku semakin sadar bahwa aku ternyata mempunyai banyak teman yang belum tentu sebagai sahabat. Teman teman saya ternyata ada yang pura pura hebat, ada yang pura pura dibuat hebat, ada udstas, ada juga mungkin pura pura udstas? Ada orator ulung, ada petualang, dan ada hipokrit. Akhirnya aku melihat bahwa, apa mungkin aku dapat memiliki sahabat dengan latar belakang teman teman yang demikian? Kalau mau lihat berapa teman saya bisa membuka di facebook saya, hampir seribuan. Wow fantastis, begitu banyak teman, yang kadang aku tidak mengerti mereka sedang berdiskusi tentang apa? Tentu mereka bukan sahabat sejati saya, tentu mereka sekedar teman. Karena aku tidak memiliki ikatan emosional yang begitu kuat dengan mereka. Bahkan kehadiran mereka justru mulai mangambil ruang-ruang pribadi saya. Secara tidak sengaja mereka telah menjejali berbagai hal yang saya tidak perlukan di email saya, dan saya harus menghapusnya setiap saat, betul betul mereka telah mencuri waktu saya. Aku akhirnya sadar bahwa akhir-akhir ini aku banyak menghabiskan waktu untuk sekedar say hello dengan mereka, sehingga pekerjaan utama saya terabaikan. Yah, aku harus menata ulang teman temanku, toh aku masih belum yakin mereka sebagai sahabat saya. Karena bagi saya sahabat sejati, mengerti kalau aku sedang bersedih atu sedang bahagia, dan aku harus membaginya dengan mereka tanpa ada transaksi kepentingan.
Namun, kelihatannya hal tersebut menjadi barang mahal disaat semua orang hanya peduli pada dirinya sendiri. Atau mungkin saya yang terlalu egois, terlalu banyak menuntut pada hal-hal yang berada diluar jangkauan saya.
Perjalanan batin telah memberikan pelajaran berharga bahwa adalah lebih bijak melihat diri pribadi anda yang paling dalam ketimbang mencari pembenaran dengan menyalahkan orang lain. Adalah lebih bijak untuk menyadari bahwa begitu banyak hal diluar kendali kita, sehingga semakin memberikan penyadaran bahwa tidaklah pada tempatnya untuk mengumbar sikap angkuh dan takabur. Adalah lebih bijak untuk berserah diri hanya kepada sumber segala kekuasaan dari pada kekuasaan sementara yang menjadi perebutan diantara teman-teman saya. Dan aku sangat meyakini bahwa pada sejatinya bekerja ikhlas, penuh dedikasi, senantiasa mengembangkan diri dan kapasitas selangkah lagi sukses di depan mata saudara. Karena sejatinya sukses itu selalu bersama orang yang mengikuti hukum hukum sukses. (hukum sukses paling tidak; kerja cerdas, kreative, dan seorang pembelajar), Sehingga bila dilihat lebih luas lagi, sebuah pencapaian tanpa mengikuti aturan hukum sukses adalah sebuah penginkaran terhadap diri sendiri, sebuah penyiksaan batin berkepanjangan. Dan tak kalah mengerikannya adalah keruntuhan di puncak kamuflase kekuasaan.
Tulisan ini aku paparkan untuk sebuah penyaluran terhadap gugatan hati kecil saya tentang arti sebuah sahabat. Bahwa sahabat tidak sekedar sebuah kepentingan.

Makassar
15 mei 2010

kota kalong


April 10, 2009 we went to the down town 150 km from Makassar city South Sulawesi Indonesia. It is small town, almost people called it “city kalong” or “bat city” because commonly we found many bat life in the center of the city. Thousands bats with black color were hang on the tree and make noisy city. That is make Soppeng district well known as bat city.
I was born in this city about 40 years ago, and it always brought nice memory for myself. Now days my family very like spend their time for week end in this city. Beside well known as bat city, Soppeng also popular as sources of rice in South Sulawesi. Thousands tons rice each year from this city were distributed to other province and for export to abroad. Furthermore, This city popular with mountains and fresh water in every where, the most popular is Pool Lejja. It is hot water for swimming pool, every week many people came to this site with family.

MENUJU KESEHATAN PUBLIK YANG MANDIRI.


MENUJU KESEHATAN PUBLIK YANG MANDIRI.

Ridwan Amiruddin

Perhelatan kampanye telah usai, dan kini yang tersisa adalah berbagai pertanyaan dalam benak publik. Diantaranya, Pemilu yang beda dengan sebelumnya. Gambar partai yang jumlahnya dua lusin diikuti daftar caleg dengan huruf yang kecil. Foto-foto DPD yang tidak dikenal semakin membuat publik bingung. Untuk mereka yang tinggal di kota besar, setiap hari terekspos dengan berbagai media ( audio dan visual ), serta berbagai upaya sosialisasi pemilu, kebingungan itu bukan masalah baginya, tapi bagaimana dengan publik yang tinggal jauh dari segenap media tersebut ? bukankah 70% penduduk tinggal di daerah pedesaan dengan tingkat pendidikan yang rendah.

Jargon kampanye senantiasa menggugah kita semua. Misalnya partai yang akan memberikan biaya kesehatan publik sebesar 20 %, bukankan itu sudah diputuskan oleh DPR sebelumnya. Dan tidak dilaksanakan dengan alasan keterbatasan anggaran ? dan yang terjadi adalah anggaran untuk sektor kesehatan dan pendidikan hanya teralokasi sekitar 3-5% dari APBN saja. Sebuah ironi untuk selalu membohongi publik. Selanjutnya anggaran yang kecil tersebut juga salah sasaran. Sebagian dana tersebut justru mensubsidi kaum yang berpunya. Hal ini disebabkan alokasi biaya untuk sektor kesehatan selalu pada orientasi Rumah Sakit, Dokter, dan Obat. Kalau ketiga komponen tersebut dapat diupayakan oleh pemda maka selesailah masalah kesehatan kabupaten/kota tersebut. Hal ini sebuah masalah kurangnya pemahaman legislatif dan eksekutif tentang kesehatan publik. Bangsa ini tidak akan keluar dari persoalan kesehatan tradisional ( penyakit infeksi yang berbasis lingkungan) sepanjang mindset birokrat dan legislatif tidak diperkaya dengan persoalan kesehatan terkini.

Sebuah kegagalan reformasi dalam sektor kesehatan telah mencapakkan mutu SDM Indonesia kedalam rangking terakhir daftar human development indeks (HDI). Masalah kesehatan publik tidak akan pernah selesai dengan hanya menyelesaikan tiga faktor tersebut di atas. Di Perguruan Tinggi Kesehatan dengan jelas disebutkan dalam Hendrik L.Blum bahwa status kesehatan dipengaruhi oleh empat komponen dasar yaitu, faktor Lingkungan , perilaku, pelayanan kesehatan dan faktor genetika/kependudukan. Begitu juga diperjelas dalam analisis Alan Dever dalam Epidemiology and Health Management.

Kemudian hal tersebut semakin dipertegas dengan munculnya berbagai penyakit menular yang menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB), ada Avian influenza, SARS, Leptospirosis, TB dan yang sedang menjadi KLB nasional sekarang adalah Demam berdarah Dengue (DBD). Semuah kasus tersebut merupakan penyakit berbasis lingkungan. Di sisi lain penyakit yang berbasis perilaku juga semakin tinggi angka kematiannya. Penyakit degeneratif, jantung koroner telah menjadi pembunuh nomor tiga di Indonesia. Situasi ini diperburuk dengan munculnya berbagai transisi kesehatan dan krisis multidimensi. Sementara pola kebijakan cenderung statis. Kebijakan desentralisasi dengan berbagai kelebihan dan kelemahannya, juga berkontribusi terhadap sistem penyelenggaran pelayanan kesehatan diberbagai daerah. Daerah kaya dapat membebaskan publiknya dari biaya pelayanan kesehatan ( mis. Kab. Kutai Kertanegara) , sementara daerah minus justru menjadikan RS dan Puskesmas sebagai lahan meningkatkan PAD.

Mencermati situasi tersebut pada dasarnya yang dibutuhkan adalah keberpihakan legislatif dan eksekutif terhadap pembangunan sektor kesehatan. Hal tersebut karena pembangunan sektor kesehatan adalah sebuah hak azazi dan investasi. Arah kebijakan kesehatan dengan kedua hal tersebut bermuara pada pengembangan paradigma baru kesehatan. Semuah faktor yang berpengaruh terhadap peningkatan status kesehatan sebaiknya di dekati dengan pola baru dari konsep sebelumnya. Konsep sebelumnya selalu pada orientasi kedokteran klinik dan ternyata situasi selama ini status kesehatan semakin terpuruk, indikator angka kematian bayi Indonesia masih tertinggi di antara negara ASEAN, begitu juga dengan angka kematian ibu 390/100.000 kelahiran hidup.

Konsep baru pembangunan kesehatan dalam era desentralisasi harus direvisi total. Seluruh perencanaan kesehatan kabupaten/kota harus berbasis komunitas. Harus ada diagnosis komunitas, didukung oleh data epidemiologi, dan keterlibatan publik dalam perencanaan pembangunan kesehatannya. Sehingga dalam pelaksanaan program akses dan cakupan publik terukur dalam perbaikan status kesehatan. Berbagai kejadian KLB seharusnya tidak perlu terjadi kalau saja sistim surveilens epidemiologi deteksi dini penyakit yang berpotensi mewabah berjalan dengan baik. Karena setiap penyakit mempunyai siklus trend, misalnya DBD bersiklus mewabah setiap 5 tahun sekali. Dengan pemahaman riwayat penyakit yang baik serta antisipasi seluruh aparat kita tidak perlu harus kehilangan orang-orang tercinta kita. Bila melihat silkus KLB DBD maka pada tahun 2009 akan terjadi lagi KLB DBD dengan angka serangan yang lebih hebat dari sekarang. Bertepatan dengan setahun lagi memasuki Indonesia sehat 2010. Apa yang harus kita lakukan ? Penanggulangan DBD tidak bisa didentikkan dengan memadamkan kebakaran. Tetapi dibutuhkan upaya sistematis dan terencana sehingga pada siklusnya kelak tidak akan mewabah sehebat yang telah terjadi. Bahkan sama sekali dapat di eradikasi. Reformasi pusat pelayanan kesehatan harus dikaji ulang, pembangunan pusat pelayanan orang sakit dan pusat pelayanan upaya-upaya pencegahan harus dikembangkan sesuai tuntutan paradigma baru kesehatan.

Berdasarkan uraian tersebut jelaslah bahwa pembiayaan sektor kesehatan harus dibangun di sektor hulu, yaitu pada bidang promosi kesehatan, pencegahan dan diagnose dini. Dengan tidak melupakan sektor lain. Situasi ironis yang terjadi selama ini adalah ibarat petugas kesehatan hanya menunggu di daerah hilir yang mengambil setiap mayat yang lewat di hadapannya tanpa pernah berfikir apa yang terjadi di daerah hulu. Ternyata dari survey yang dilaksanakan telah terjadi pencemaran sumber air minum, serta berbagai kegiatan penduduk yang merugikan kesehatan.

Konsep kesehatan publik yang mandiri berangkat dari penjabaran visi Indonesia sehat 2010. Bahwa dalam pembangunan kesehatan pemerintah harus melibatkan sektor swasta, dan masyarakat secara keseluruhan yang tertuang dalam sistem kesehatan nasional. Pengembangan pembiayaan berbasis praupaya, dengan melibatkan partisipasi aktif seluruh masyarakat tanpa kecuali. Kesehatan mandiri adalah konsep yang inheren dengan eksistensi publik yang dikembangkan berdasarkan corak etnik dan budayanya. Peran pemerintah dalam hal ini sebagai fasilitator saja, namun yang berhak merencanakan, dan melaksanakannya sebaiknya adalah masyarakat sendiri. Sehingga nilai-nilai kemandirian tumbuh dimasyarakat. Selanjutnya pemerintah tinggal menfasilitasi tenaga pendamping ahli kesehatan masyarakat, sehingga proses dinamika pembangunan kesehatan tumbuh dari masyarakat. Disisi lain pemberdayaan profesi kesehatan masyarakat dapat dioptimalkan.

Berbagai sarana kesehatan yang telah dibangun oleh pemerintah ternyata tidak dibarengi dengan meningkatnya status kesehatan. Telah banyak bukti sarana kesehatan tidak dimanfaatkan secara optimal. Karena pengadaanya tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat, tidak ada akses transportasi, jarak yang jauh, biaya yang semakin mahal, serta pelayanan yang lama dan berbelit-belit. Hal tersebut dapat diubah dengan pendekatan partisipatory rapid appraisal. Dengan melibatkan seluruh stakeholder dalam pembangunan sektor kesehatan.

Semua persoalan tersebut diatas membutuhkan perhatian semua pihak, namun akan bermuara pada pola policy yang dijalankan oleh rezim yang berkuasa. Apakah janji manis pada masa kampanye parpol dapat dilaksanakan atau dapat kita maafkan begitu saja ? sehingga ada baiknya kita memilih wakil masyarakat yang peduli kesehatan publik.

Kalau saya walikota (1)


Akhir-akhir ini sangat ramai di media tentang pemilihan walikota dan bupati, gubernur, bahkan presiden. Salah satu jualan para candidat itu adalah perbaikan sektor kesehatan; kesehatan gratis, pengobatan gratis, dan berbagai harapan gratis yang lain.. pertanyaannya adalah Benarkah ada yang gratis???? kalau gratis dimana mendapatkannya??? Apakah kesehatan yang dimaksud itu sama dengan rumah sakit??? atau kesehatan sama dengan penyediaan obat???

Kalau konsep itu yang ada di pemikiran para kandidat tersebut, alamat buruklah bagi pembangunan sektor kesehatan.

Kesehatan bukanlah menyediakan obat semata, kesehatan bukan menyediakan biaya perawatan rumah sakit; konsep ini adalah konsep kesakitan atau pendekatan kuratif semata “ini kuliah semester 2 di FKM”. Konsep kesehatan semestinya lebih komprehensif. Konsep itu dijabarkan dalam rencana strategis berupa peningkatan umur harapan hidup penduduk, peningkatan cakupan air bersih, peningkatan penggunaan jamban keluarga, peningkatan cakupan imunisasi, perbaikan gizi keluarga, gaya hidup sehat; tidak merokok, berolah raga tertur, makan teratur dengan gizi yang cukup.

Kalau saya walikota, saya akan membangun sistem kesehatan terpadu, dimana seluruh keluarga mempunyai akses terhadap pelayanan kesehatan, seluruh warga terpenuhi kebutuhan air bersihnya, seluruh rumah tangga memiliki jamban keluarga, semua anak diimunisasi lengkap, semua warga hidup sehat tanpa merokok, sarana olah raga dan rekreasi tersedia di mana mana, taman taman kota akan menghiasi seluruh sudut kota. Semua angkutan kota menyiapkan tempat sampah dan tidak ada yang merokok di tempat-tempat umum termasuk angkot.

Kalau saya walikota saya akan menegakkan hukum dan aturan dengan tegas, sehingga semua warga saya mengerti hak dan kewajibannya.
Saya akan membuka akses-akses baru bagi pertumbuhan ekonomi, mengembangakan kota-kota satelit, sehingga warga saya yang tinggal di pinggiran kota tidak perlu masuk ke kota, sehingga mengurangi kemacetan lalu lintas.

Kalau saya walikota.. (berlanjut)

Kaji ulang Kebangkitan Indonesia


Saudara sebangsa dan setanah air, akhir-akhir ini negara dan bangsa Indonesia sedang mengalami krisis yang berkepanjangan. Saya terkadang malu sebagai warga negara Indonesia, dalam beerbagai pertemuan International Indonesia kadang hanya muncul sebagai yang “ter” dalam konteks yang kurang bagus. Sebut misalnya ; korupsi, angka status kesehatan terburuk, angka human developmen index 5 terendah, hanya negara2 afrika di bawahnya. Indeks kepercayaan negara lain yang rendah, dan berbagai hal dalam image yang kurang sedap.

Di sektor politik, sepanjang tahun pergolakan politik berjalan terus, sementara rakyat hanyut dalam buaian orasi kampanye partai. Kesehatan gratis, pendidikan gratis; tapi kenyataan di lapangan, rakyat mati kelaparan, penderita atau pasien di tolak di puskesmas atau rumah sakit. angka gizi buruk semakin meningkat. Penyediaan kebutuhan pokok di pasaran sangat terbatas dengan harga yang semakin meningkat.

Di sektor lingkungan apa lagi, bencana alam setiap tahun selalu terjadi tanpa ada pembelajaran dari keadaan tersebut. Pemerintah selalu bersikat reaktive terhadap setiap kondisi bencana yang terjadi. Tidak pernah terpetakan dengan baik proyeksi atau prediksi bencana yang akan terjadi secara maksimal.

Berangat dari kondisi tersebut, sangat mendesak untuk segera mengkaji ulang kebangkitan Indonesia. Menapak tilas kebangkitan Indonesia pada awal abad ke 18. Beragam permasalahan yang dihadapai bangsa ini tidak lagi berhadapan dengan kuatnya genggaman imperialisme dan kolonialisme, namun justru ada tiga faktor yang melekat di dalam diri bangsa Indonesia, pertama mentalitas, kedua gagap globalisasi, dan ketiga penghargaan terhadap orang lain.

Mentalitas bangsa Indonesia mengalami degradasi yang sangat tajam, sangat mudah untuk menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Akibatnya korupsi, kolusi, nepotisme, penipuan, manipulasi sangat rawan terjadi di semua lini pemerintahan. Solusinya, tegakkan hukum, walau langit akan runtuh sekalipun. Perkuat sistem pemerintahan dan kontrol sosial terhadap berbagai kemungkinan terjadinya hal2 negatip. Deteksi setiap penyimpangan secara dini dan sekali lagi tegakkan hukum.

Kondisi ke dua, Bangsa Indonesia mengalami gagap teknologi; Hampir semua teknologi baru di lempar ke pasar Indonesia, alasannya sederhana, jumlah penduduk kedua terbesar dunia, masyarakat sangat modis; mencari proiduk terbaru walau harga selangit, kalau perlu di cicil untuk, membayarnya. Bangsa Indonesia, sangat mudah menggunakan teknologi terbaru, tanpa pernah berpikir untuk menjadi penemu dari teknologi tersebut. Bangsa Indonesia tidak kreatif untuk memproduksi barang dan jasa. Keadaan ini terkait dengan sistem pendidikan, sistem sosial dan nilai masayarakat. Kondisi ini harus segera di ubah paradigmanya menjadi masyarakat pembejar, masyarakat kreatif dan penemu. Olah bahan lokal yang ada untuk meningkatkan produktifitas bangsa dan kurangi tingkat ketergantungan pada bangsa2 lain tertama dalam bidang finansial.

Kodisi ketiga yang dialami bangsa Indonesia adalah kurangnya penghargaan terhadap orang lain. Memanusiakan manusia Indonesia, mengalami krisis yang sangat tajam. Dalam dunia pendidikan, seorang mahasiswa terkadang tidak mengenal dosennya. Dimasyarakat luas, nilai tatakrama sebagai bangsa mengalami degradasi yang luar biasa. Kalau kita sering mendengar bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang luhur budi pekertinya, bertatakrama yang baik, wah justeru hal itu dilaksanakan oleh bangsa2 lain. Solusinya, pendidikan di tingkat terkecil rumah tangga jangan diserahkan ke pembantu semata mata, pertemuan intensif dengan keluarga sangat penting. Bina kerukunan dengan tetangga, dengan masyarakat luas, dan hargai mereka sebagai manusia bukan sebagai pesain segala galanya.

Saudara sebangsa dan setana air, kaji ulang kebankitan bangsa ini sebagai sebuah refleksi betapa kritisnya fundamental bangsa Indonesia menghadapi tantangan yang semakin keras. Tidak ada salahnya berguru pada Malaysia, atau Singapura, bagaimana menata dan mendorong kemajuan bangsanya.

Bangkitlah negara dan bangsaku

Jayalah Indonesiaku.

Ridwan Amiruddin