Smoking Behaviors Of Street Childrens In Makassar Indonesia Oleh:Ridwan Amiruddin, Darmawangsa, Jumriani, Awaluddin, Darmawan, Nurul Azizah, Epidemiology Department, Public Health Faculty, Hasanuddin University Makassar


ABSTRACT
Street children are vulnerable groups of risky behavior, one of which is smoking behavior. Smoking behavior is influenced by several factors. This study aims to describe smoking behavior of street children in Makassar and its relation with school status, living with parents, family history of smoking, peer influence, and level of religiosity of the street children.
The research design used was analytical observational cross sectional study. Research was carried out in January until February 2013. The population of this study are 990 street children with the sample of 277 street children in Makassar. Sample election technique used is non probability in accidental sampling with inclusion criteria of respondents aged 10-19 years and Muslims. Data analyzed with chi square test with confidence interval of 95% (α=0.05).
Results of this research show that 48% of street children have ever smoked and 37.2% of street children were still smoking in the last 30 days. Results of statistical test using chi square test showed that there is a relationship between living with parents (p = 0.002; phi = -0196) and levels of religiosity (p = 0023; phi = -0137) with smoking behavior of street children that have the strength of a weak association. However, there was no relationship with school status (p = 0613), family history (p = 0874), and peer influence (p = 0157) with the smoking behavior of street children.
This research suggests to give education about dangers of smoking, provide religious values for them and involve them in religious social activities, family empowerment approach to parents to guide their children not to smoke, and optimize function of NGOs or shelters for street children.
Keywords : smoking behavior, street children, school status, living with parents, family history, peer influence, religiosity, Makassar

Advertisements

RISK FACTORS AND EARLY DETECTION TYPE 2 DIABETES MELLITUS IN TEMPE WAJO DISTRICT SOUTH SULAWESI INDONESIA Ridwan Amiruddin 1, Anna Widiastuty Rahmah 2 Stang3Jumriani4Dian


Abstract

The prevalence of type 2 diabetes is increasing in all populations in the worldwide. The research aimed to know the relationship between risk factors and early detection of the Type 2 Diabetes Mellitus. This study was use a cross sectional design. Respondents in this research were 300 samples. Data collection was carried out through interviews, antropometry measurement and uptake of blood sugar levels,. The data were analyzed by using statistical test of chisquare bivariat and multivariate test with logistic regression test. The result showed central obesity (p=0,000), vegetable and fruit consumption (p=0,000), physical activities (p=0,033), smoking (p=0,000) and stress (p=0,021) have the relationship with the occurence of Type 2 Diabetes Mellitus. Multivariate logistic regression test showed that the consumption of vegetable and fruit is the most influential factors on the occurence of Type 2 Diabetes Mellitus (p=0,000). The validity value of early detection using Modified AUSDRISK score compared plasma glucose as the gold standard are the sensitivity of 93,46% and specificity of 70,98%. This study proves that the risk factors (central obesity, fruit and vegetable consumption, smoking and stress) associated with the incidence of type 2 diabetes mellitus.

Keywords: Risk factors, early detection, Type 2 DM.

http://www.ijcrar.com/currentissue.php

Original Research Articles

1. Ridwan Amiruddin, Stang, Jumriani Ansar, Dian Sidik, and Anna Widiastuty Rahman
Diabetic Mellitus Type 2 in Wajo South Sulawesi, Indonesia
Int.J.Curr.Res.Aca.Rev. 2014.2(12): 1-8
[View Full Text-PDF]

surveilans HIV dan AIDS


 

 

 

 

 

 

MODUL SURVEILANS HIV DAN AIDS

 

 

 

RIDWAN AMIRUDDIN

 

 

  KPAN 2013


                                   

Contents

I.     DESKRIPSI SINGKAT.. 3

II.        TUJUAN PEMBELAJARAN.. 5

III.       POKOK BAHASAN.. 5

IV.      BAHAN BELAJAR.. 5

V.    LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN.. 5

VI. URAIAN MATERI 8

1.    Konsep Surveilans HIV dan AIDS.. 8

2.    Metode surveilans. 12

3.    Karakteristik data HIV dan AIDS. 19

4.    Manfaat hasil surveilens dalam pengambilan keputusan. 23

5.    RANGKUMAN : 25

DAFTAR SINGKATAN.. 26

VII.     DAFTAR PUSTAKA.. 27

 


                                         

 

I.    DESKRIPSI SINGKAT

Surveilans kesehatan masyarakat adalah pengumpulan, analisis, dan analisis data secara terus menerus dan sistematis yang kemudian didiseminasikan (disebarluaskan) kepada pihak-pihak yang bertanggungjawab dalam pencegahan penyakit dan masalah kesehatan lainnya (DCP2, 2008).

Surveilans memantau terus-menerus kejadian dan kecenderungan penyakit, mendeteksi dan memprediksi outbreak pada populasi, mengamati faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit, seperti perubahan-perubahan biologis pada agen, vektor, dan reservoir. Selanjutnya surveilans menghubungkan informasi tersebut kepada pembuat keputusan agar dapat dilakukan langkah-langkah pencegahan dan pengendalian penyakit (Last, 2001). Kadang digunakan istilah surveilans epidemiologi. Baik surveilans kesehatan masyarakat maupun surveilans epidemiologi hakikatnya sama saja, sebab menggunakan metode yang sama, dan tujuan epidemiologi adalah untuk mengendalikan masalah kesehatan masyarakat, sehingga epidemiologi dikenal sebagai sains inti kesehatan masyarakat (core science of public health).

Surveilans menurut WHO menjelaskan bahwa surveilans dapat diartikan sebagai aplikasi metodologi dan teknik epidemiologi yang tepat untuk mengendalikan penyakit.

Penjelasan tentang pola penyakit yang sedang berlangsung  dapat diuraikan beberapa contoh kegiatan yang dilakukan sebagai berikut:

  1. Melakukan deteksi perubahan akut dari penyakit yang terjadi dan distribusinya.
  2. Melakukan identifikasi dan perhitungan trend dan pola penyakit menurut frekuensi kejadiannya.
  3. Melakukan identifikasi faktor risiko dan penyebab lainnya, seperti vektor yang dapat menyebabkan penyakit di kemudian hari.
  4. Mendeteksi perubahan pelayanan kesehatan  yang terjadi di masyarakat.

Penggunaan data untuk evaluasi serta pengendalian dan pencegahan penyakit dapat berkaitan dengan hal-hal sebagai berikut:

  1. Beberapa informasi tentang penyakit menstimulasi untuk pelaksanaan riset lebih lanjut tentang proses terjadinya penyakit, misalnya sumber-sumber penyebab penyakit memungkinkan untuk dieksplorasi secara mendalam.
  2. Informasi tentang pola penyakit dan kecenderungannya sangat penting untuk perencanaan pelayanan kesehatan dimasa mendatang karena dapat dijadikan landasan yang kokoh dalam pengambilan keputusan.
  3. Evaluasi dan tindakan pencegahan, misalnya evaluasi terhadap program vaksinasi.

Dalam upaya mempelajari riwayat alamiah penyakit (natural history of disease) dan epidemiologi penyakit, khususnya untuk mendeteksi epidemi penyakit melalui pemahaman riwayat penyakit, dapat membantu beberapa hal sebagai berikut:

  1. Membantu menyusun hipotesis untuk dasar pengambilan keputusan dalam intervensi kesehatan masyarakat.
  2. Membantu untuk mengindetifikasi penyakit untuk keperluan penelitian epidemiologi.
  3. Mengevaluasi program-program pencegahan dan pengendalian penyakit.
  4. Memberikan informasi dan data untuk memproyeksikan kebutuhan pelayanan kesehatan dimasa mendatang.

 

II.  TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. A.    Tujuan Pembelajaran Umum

Setelah mengikuti materi ini, peserta mampu menjelaskan konsep surveilans HIV dan AIDS

  1. B.    Tujuan Pembelajaran Khusus

Setelah mengikuti materi ini, peserta mampu:

  1. Menjelaskan surveilans HIV dan AIDS
  2. Menjelaskan Metode surveilans
  3. Menjelaskan Karakteristik data Surveilans HIV dan AIDS
  4. Menjelaskan Manfaat hasil surveilans dalam pengambilan keputusan.

III.       POKOK BAHASAN

Dalam modul ini akan dibahas pokok bahasan-pokok bahasan sebagai berikut yaitu :

Pokok Bahasan dan sub pokok bahasan:

  1. Pengertian surveilans HIV dan AIDS
  2. Metode surveilans
  3. Karakteristik data Surveilans HIV dan AIDS
  4. Manfaat hasil surveilans dalam pengambilan keputusan.

IV.          BAHAN BELAJAR

  1. Modul surveilans .
  2. Petunjuk diskusi kelompok.

 

V. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN

Agar proses pembelajaran dapat berhasil secara efektif, maka perlu disusun langkah-langkah pembelajaran sebagai berikut :

A. Langkah 1 : Penyiapan Proses pembelajaran

  1. Kegiatan Fasilitator
  2. Fasilitator memulai kegiatan dengan melakukan bina suasana dikelas
  3. Fasilitator menyapa peserta dengan ramah dan hangat.
  4. Apabila belum pernah menyampaikan sesi di kelas mulailah dengan memperkenalkan diri, Perkenal kan diri dengan menyebutkan nama lengkap, instansi tempat bekerja, materi yang akan disampaikan.
  5. Menggali pendapat pembelajar (apersepsi) tentang apa yang dimaksud dengan pelayanan prima dengan metode curah pendapat (brainstorming).
  6. Menyampaikan ruang lingkup bahasan dan tujuan pembelajaran tentang pelayanan prima yang sebaiknya dengan menggunakan bahan tayang.
  7. Kegiatan Peserta
  8. Mempersiapkan diri dan alat tulis yang diperlukan
  9. Mengemukakan pendapat atas pertanyaan fasilitator
  10. Mendengar dan mencatat hal-hal yang dianggap penting
  11. d.   Mengajukan pertanyaan kepada fasilitator bila ada hal-hal yang belum jelas dan perlu diklarifikasi.

B. Langkah 2 : Review pokok bahasan

1. Kegiatan Fasilitator

  1. Menyampaikan Pokok Bahasan dan sub pokok bahasan 1 sampai dengan 4 secara garis besar dalam waktu yang singkat
  2. Memberikan kesempatan kepada pembelajar untuk menanyakan hal-hal yang kurang jelas
  3. Memberikan jawaban jika ada pertanyaan yang diajukan peserta
  4. Kegiatan Peserta
  5. Mendengar, mencatat dan menyimpulkan hal-hal yang dianggap penting
  6. Mengajukan pertanyaan kepada fasilitator sesuai dengan kesempatan yang diberikan
  7. Memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan fasilitator.

C. Langkah 3 : Pendalaman pokok bahasan

  1. Kegiatan Fasilitator
  2. Meminta kelas dibagi menjadi beberapa kelompok (4 kelompok) dan setiap kelompok akan diberikan tugas diskusi kelompok.
  3. Menugaskan kelompok untuk memilih ketua, sekretaris dan penyaji.
  4. Meminta masing-masing kelompok untuk menuliskan hasil dikusi untuk disajikan.
  5. Mengamati peserta dan memberikan bimbingan pada proses diskusi.
  6. 2.    Kegiatan Peserta
  7. Membentuk kelompok diskusi dan memilih ketua, sekretaris dan penyaji.
  8. Mendengar, mencatat dan bertanya pada hal-hal yang kurang jelas pada fasilitator.
  9. Melakukan proses diskusi sesuai dengan pokok bahasan / sub pokok bahasan yang ditugaskan dan menuliskan hasil dikusi untuk disajikan.

D. Langkah 4 : Penyajian dan pembahasan hasil pendalaman pokok bahasan dikaitkan dengan situasi dan kondisi di tempat tugas.

  1. 1.   Kegiatan Fasilitator

a. Meminta masing-masing kelompok diminta untuk mempresentasikan  hasil diskusi

b. Memimpin proses tanggapan (tanya jawab)

  1. Memberikan masukan khususnya dikaitkan dengan situasi dan kondisi di daerah kerja

d. Merangkum hasil diskusi

  1. 2.   Kegiatan Peserta

a. Mengikuti proses penyajian kelas

b. Berperan aktif dalam proses tanya jawab yang dipimpin oleh fasilitator

  1. Bersama fasilitator merangkum hasil presentasi masing – masing pokok bahasan yang dikaitkan dengan  situasi dan kondisi di daerah kerja.

E. Langkah 5 : Rangkuman dan evaluasi hasil belajar

  1. 1.    Kegiatan Fasilitator

a. Mengadakan evaluasi dengan melemparkan 3 pertanyaan sesuai topik pokok bahasan

b. Memperjelas jawaban peserta terhadap masing – masing pertanyaan

c. Bersama peserta merangkum poin-poin penting dari hasil proses pembelajaran koordinasi lintas program dan lintas sektor.

d. Membuat kesimpulan.

  1. 2.    Kegiatan Peserta

a. Menjawab pertanyaan yang diajukan fasilitator.

b. Bersama fasilitator merangkum hasil proses pembelajaran koordinasi lintas program dan lintas sektor.

VI. URAIAN MATERI

1.    Konsep Surveilans HIV dan AIDS

1). Dasar surveilans

a). Tujuan dari surveilans AIDS ini adalah memberikan suatu data terhadap pelayanan kesehatan di Indonesia agar melakukan suatu perencanaan, pelaksanaan dan pemantauan terhadap penanggulangan AIDS di Indonesia. Sedangakn definisi kasus AIDS guna keprluan surveilans sendiri adalah seseorang yang HIV positif dan didapatkan minimal 2 tanda mayaor seperti diare kronis selama 1 bulan, berat badan menurun lebih dari 10% dalam 1 bulan, demam berkepanjangan, dll disertai dengan 1 tanda minor yaitu seperti salah satunya batuk menetap selama kuarang lebih 1 bulan dan dermatitis generalisata yang disertai sensasi gatal.

b).      Prosedur pemeriksaan darah untuk penderita AIDS adalah yang pertama harus mengisi informed consent yang artinya ketersediaan subjek untuk diambil darahnya kemudian diberikan konseling sebelum serta sesudah test terhadap subjek dan yang terpenting harus rahasia agar subjek yag diambil darahnya merasa nyaman dan tidak timbul rasa khawatir misalnya tidak di beri nama bisa langsung nama kota atau nama samara saja.

c).      Cara pencatatan kasus surveilans AIDS yaitu yang pertama malakukan pemeriksaan fisik terhadap penderita yang mencurigakan terkena AIDS seperti terdapat 2 tanda mayor serta 1 tanda minor, kedua yaitu pemeriksaan laboratorium untuk menguatkan dugaan terhadap penderita, selanjutnya pemeriksaan laboratorium akan menghasilkan data apakah penderita positif AIDS atau tidak. Apabila penderita positif menderita AIDS maka wajib mengisi formuir penderita AIDS agar semua kasus dapat dilaporkan baik yang sudah meninggal atau yang masih hidup, untuk yang sudah meninggal meskipun sebelumnya sudah lapor pada saat meninggal juga wajib lapor, karena penguburan mayat positif AIDS berbeda dengan yang biasa.

d).      Pelaporan kasus surveilans AIDS yaitu dengan menggunakan formulir dari laporan penderita positif AIDS yang kemudian laporan kasus ini dikirim secepatnya tanpa menunggu suatu periode waktu dan harus dilaporkan pada saat menemukan penderita positif AIDS bisa melalui fax atau email untuk sementara tetapi kemudian disusul dengan data secara tertulis.

2). Surveilans Sentinel HIV

a)    Pengertiannya adalah melakukan kegiatan untuk menganalisis secara terus menerus untuk menurunkan risiko terjadinya peningkatan serta penularan HIV  dengan menggunakan populasi sentinel atau kelompok tertentu pada lokasi tertentu untuk memantau prevalensi penyakit tertentu seperti HIV misalanya pada tempat lokalisasa atau pada kelompok berisiko tertentu yaitu seperti  PSK, pengguna NAPZA dan waria agar dapat melakukan pencegahan dan penanggulangn HIV serta memberikan informasi terhadap pelayanan kesehatan.

b)    Tujuan surveilans sentinel HIV sendiri adalah melakukan pemeriksaan seroprevalens HIV pada kelompok risiko pada klinik, kemudian memantaun kecenderungan infeksi HIV serta dampak dari pemberian program pada kelompok tersebut. menyediakan data tentang proyeksi kasus HIV/AIDS di Indonesia berdasarkan kegiatan analisis dan menyediakan informasi untuk perencanaan pencegahan dan penanggulangan terhadap pelayanan kesehatan.

c)    Tes HIV dilakukan tanpa memberikan identitas dengan menggunakan kode tertentu yng tidak dapat dikaitkan dengan subjek yang diambil darahnya, misalnya menggunakan nama kotanya saja atau nama samaran, yang tidak ada kaitannya dengan subjek agar dapat menjaga kerahasiaan, karena penderita HIV/ AIDS sekarang cebderung terdiskriminasi dan dikucilkan dari kelompok yang lainnya karena dianggap sebagai penyakit kutukan dari tuhan terhadap balasan apa yang telah diperbuat, dan itu persepsi yang salah karena penularan HIV/AIDS tidak hanya karena perilaku seks dengan berganti-ganti pasangan tetapi bisa saja dari pisau cukur yang sebelumnya di gunakan oleh penderita HIV/ AIDS, atau mendapatkan donor darah dari penderita HIV/ AIDS yang tidak ada sangkut pautnya dengan hubungan seks.

3). Survei Surveilans perilaku

Tujuan survey surveilans perilaku yaitu melakukan pemantuan terhadap perilaku seksual dari kelomok berisiko dari waktu ke waktu untuk menyediakan informasi guna menilai efektifitas dari upaya pencegahan yang telah dilakukan serta mengembangkan program selanjutya. Peranan dari surveilans perilaku ini adalah sebagai sitem peringatan dini, perencanaan suatu program pencegahan dan penanggulangan dan membantu evaluasi program serta membantu menjelaskan perubahan suatu prevalensi. Prinsip dari pelaksanaan surveilans perilaku sama dengan surveilans HIV yaitu survei yang dilakukan berulang untuk mengumpulkan data tentang perilaku terhadap populasi berisiko tertular seperti PSK, waria, pengguna NAPZA suntik dll.

4).    Surveilans Generasi Kedua

Surveilans ini lebih mementingkan penggunaan data mengenai perilaku terhadap suatu populasi, yang potensial tertular HIV/AIDS sebagai informasi dan menjelaskan tren HIV pada pada suatu populasi. Surveilans generasi kedua ini merupakan penggabungan dari surveilans biologis dan surveilans perilaku, informasi yang penting didapatkan dari surveilans generasi kedua ini adalah perilaku suatu populasi yang berisiko tertular HIV sebagai system kewaspadaan dini, kemudian mengambil informasi dari perilaku populasi berisiko tinggi untuk membuat suatu program agar terpusat dan tepat pada sasaran, serta mendapatkan informasi terhadap perilaku apa saja yang bisa di ubah untuk mencegah penularan, dan melakukan pengamatan perilaku suatu populasi yang sudah diberikan program kemudian di evaluasi hasilnya apakah perilaku populasi tersebut berubah yang artinya perilalku tersebut dapat menurunkan prevalensi HIV pada populasi itu.

2.      Metode surveilans

Dalam surveilans epidemiologi, kita mengenal adanya surveilans epidemiologi penyakit menular, surveilans epidemiologi penyakit tidak menular, surveilans epidemiologi penyakit infeksi, surveilans epidemiologi penyakit akut dan surveilans epidemiologi penyakit kronis. Terdapat beberapa persamaan dan perbedaan secara konseptual antara kegiatan surveilans epidemiologi penyakit akut dan kronis:

Ruang lingkup surveilans epidemiologi menurut tempatnya dapat dibedakan menjadi 2, yaitu surveilans epidemiologi dalam masyarakat dan surveilans epidemiologi di rumah sakit.

  1. Surveilans epidemiologi dalam masyarakat

Surveilans epidemiologi ini dilakukan pada suatu wilayah administrasi atau pada kelompok populasi tertentu. Dengan analisis secara teratur berkesinambungan terhadap data yang dikumpulkan mengenai kejadian kesakitan atau kematian, dapat memberikan kesempatan lebih mengenal kecenderungan penyakit menurut variabel yang diteliti. Variabel tersebut diantaranya adalah distribusi penyakit menurut musim atau periode waktu tertentu, mengetahui daerah geografis dimana jumlah kasus/penularan meningkat atau berkurang, serta berbagai kelompok risiko tinggi menurut umur, jenis kelamin, ras, agama, status sosial ekonomi serta pekerjaan.

Tabel 1 Surveilans Penyakit Akut dan Kronis

Karakteristik Umum Surveilans Epidemiologi Penyakit Akut Surveilans Epidemiologi Penyakit Kronis
Maksud dan tujuan

–    Monitor kecenderungan

–    Menguraikan masalah dan estimasi beban penyakit

–    Mengarahkan dan evaluasi  program pengendalian dan pencegahan penyakit

Monitor perubahan atau variasi mingguan dan bulanan Monitor perubahan dari tahun ke tahun
Data

–    Rutin atau berkala

Tergantung pelaporan oleh petugas kesehatan dan laboratorium Lebih menggantungkan pada data basis diluar petugas kesehatan, termasuk dari rumah sakit, registrasi penduduk, dsb
Analisis data Statistika deskriptif untuk orang, tempat dan waktu Menekankan jumlah kasus atau penderita Menekankan pada angka-angka statistik misalnya “rate”
Penyebarluasan data dan informasi Rutin, frekuensinya seiring dengan periode pelaporan Lebih sering Relatif lebih jarang
  1. Surveilans epidemiologi di rumah sakit

Saat ini penderita penyakit menular yang dirawat d rumah sakit jumlahnya masih cukup besar. Suatu keadaan khusus dimana faktor lingkungan, secara bermakna dapat mendukung terjadinya risiko meendapatkan penyakit infeksi, sehingga tekhnik surveilans termasuk kontrol penyakit pada rumah sakit rujukan pada tingkat propinsi dan regional memerlukan perlakuan tersendiri. Pada rumah sakit tersebut, terdapat beberapa penularan penyakit dan dapat menimbulkan infeksi nosokomial. Selain itu, rumah sakit mungkin dapat menjadi tempat berkembangbiaknya serta tumbuh suburnya berbagai jenis mikro-organisme.

Untuk mengatasi masalah penularan penyakit infeksi di rumah sakit maka telah dikembangkan sistem surveilans epidemiologi yang khusus dan cukup efektif untuk menanggulangi kemungkinan terjadinya penularan penyakit (dikenal dengan infeksi nosokomial) di dalam lingkungan rumah sakit.

Tabel  2: Macam-macam metoda surveilans untuk mengukur prevalensi infeksi HIV
Metoda surveilans Survei periodik (khusus) Metoda sentinel Data dari layanan rutin
Deskripsi Survei sero-prevalensi HIV cross-sectional dalam suatu negara. sistem surveilans sentinel HIV secara umum pada suatu wilayah, atau Data dikumpulkan dari layanan rutin pasien yang dites HIV secara sukarela dan rahasia. Jika kasus HIV meningkat pada populasi umum, negara harus melakukan tes HIV pada semua pasien tuberkulosis. Negara dengan keadaan epidemi HIV generalised harus menjamin bahwa tes HIV secara aktif dipromosikan dan ditawarkan kepada semua pasien tuberkulosis.
Tujuan pokok • Metoda ini sebaiknya digunakan jika prevalensi sebelumnya tidak diketahui. Tujuannya untuk memberikan estimasi point.• Sistem ini juga dapat digunakan di negara yang sudah ada sistem surveilansnya berdasarkan data dari layanan rutin pasien, untuk •  Informasi ini berguna dalam merencanakan, melaksanakan dan memantau program kesehatan masyarakat untuk pencegahan dan pengendalian .• Estimasi prevalensi secara rutin juga dapat digunakan untuk, identifikasi secara dini daerah dimana program testing HIV harus dilaksanakan. • Tujuan utama adalah memberikan informasi yang bermanfaat untuk perencanaan, pelaksanaan dan monitoring program pencegahan dan pengendalian

Jenis Surveilans

Dikenal beberapa jenis surveilans: (1) Surveilans individu; (2) Surveilans penyakit; (3) Surveilans sindromik; (4) Surveilans Berbasis Laboratorium; (5) Surveilans terpadu; (6) Surveilans kesehatan (Murti,2010).

1. Surveilans Individu

Surveilans individu (individual surveillance) mendeteksi dan memonitor individu-individu yang mengalami kontak dengan penyakit serius, misalnya pes, cacar, tuberkulosis, tifus, demam kuning, sifilis. Surveilans individu memungkinkan dilakukannya isolasi institusional segera terhadap kontak,sehingga penyakit yang dicurigai dapat dikendalikan. Sebagai contoh, karantina merupakan isolasi institusional yang membatasi gerak dan aktivitas orang-orang atau binatang yang sehat tetapi telah terpapar oleh suatu kasus penyakit menular selama periode menular. Tujuan karantina adalah mencegah transmisi penyakit selama masa inkubasi seandainya terjadi infeksi (Last, 2001).

Isolasi institusional pernah digunakan kembali ketika timbul AIDS 1980an dan SARS. Dikenal dua jenis karantina: (1) Karantina total; (2) Karantina parsial. Karantina total membatasi kebebasan gerak semua orang yang terpapar penyakit menular selama masa inkubasi, untuk mencegah kontak dengan orang yang tak terpapar. Karantina parsial membatasi kebebasan gerak kontak secara selektif, berdasarkan perbedaan tingkat kerawanan dan tingkat bahaya transmisi penyakit. Contoh, anak sekolah diliburkan untuk mencegah penularan penyakit campak, sedang orang dewasa diperkenankan terus bekerja. Satuan tentara yang ditugaskan pada pos tertentu dicutikan, sedang di pospos lainnya tetap bekerja. Dewasa ini karantina diterapkan secara terbatas, sehubungan dengan masalah legal, politis, etika, moral, dan filosofi tentang legitimasi, akseptabilitas, dan efektivitas langkah-langkah pembatasan tersebut untuk mencapai tujuan kesehatan masyarakat (Bensimon dan Upshur, 2007).

2. Surveilans Penyakit

Surveilans penyakit (disease surveillance) melakukan pengawasan terus-menerus terhadap distribusi dan kecenderungan insidensi penyakit, melalui pengumpulan sistematis, konsolidasi, evaluasi terhadap laporan-laporan penyakit dan kematian, serta data relevan lainnya. Jadi fokus perhatian surveilans penyakit adalah penyakit, bukan individu. Di banyak negara, pendekatan surveilans penyakit biasanya didukung melalui program vertikal (pusat-daerah). Contoh, program surveilans tuberkulosis, program surveilans malaria. Beberapa dari sistem surveilans vertikal dapat berfungsi efektif, tetapi tidak sedikit yang tidak terpelihara dengan baik dan akhirnya kolaps, karena pemerintah kekurangan biaya. Banyak program surveilans penyakit vertikal yang berlangsung paralel antara satu penyakit dengan penyakit lainnya, menggunakan fungsi penunjang masing-masing, mengeluarkan biaya untuk sumberdaya masingmasing, dan memberikan informasi duplikatif, sehingga mengakibatkan inefisiensi.

3. Surveilans Sindromik

Syndromic surveillance (multiple disease surveillance) melakukan pengawasan terus-menerus terhadap sindroma (kumpulan gejala) penyakit, bukan masing-masing penyakit. Surveilans sindromik mengandalkan deteksi indikator-indikator kesehatan individual maupun populasi yang bisa diamati sebelum konfirmasi diagnosis. Surveilans sindromik mengamati indikator-indikator individu sakit, seperti pola perilaku, gejala-gejala, tanda, atau temuan laboratorium, yang dapat ditelusuri dari aneka sumber, sebelum diperoleh konfirmasi laboratorium tentang suatu penyakit. Surveilans sindromik dapat dikembangkan pada level lokal, regional, maupun nasional. Sebagai contoh, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menerapkan kegiatan surveilans sindromik berskala nasional terhadap penyakit-penyakit yang mirip influenza (flu-like illnesses) berdasarkan laporan berkala praktik dokter di AS. Dalam surveilans tersebut, para dokter yang berpartisipasi melakukan skrining pasien berdasarkan definisi kasus sederhana (demam dan batuk atau sakit tenggorok) dan membuat laporan mingguan tentang jumlah kasus, jumlah kunjungan menurut kelompok umur dan jenis kelamin, dan jumlah total kasus yang teramati. Surveilans tersebut berguna untuk memonitor aneka penyakit yang menyerupai influenza, termasuk flu burung, dan antraks, sehingga dapat memberikan peringatan dini dan dapat digunakan sebagai instrumen untuk memonitor krisis yang tengah berlangsung (Mandl et al., 2004; Sloan et al., 2006). Suatu sistem yang mengandalkan laporan semua kasus penyakit tertentu dari fasilitas kesehatan, laboratorium, atau anggota komunitas, pada lokasi tertentu, disebut surveilans sentinel.

Pelaporan sampel melalui sistem surveilans sentinel merupakan cara yang baik untuk memonitor masalah kesehatan dengan menggunakan sumber daya yang terbatas (DCP2, 2008; Erme dan Quade, 2010).

4. Surveilans Berbasis Laboratorium

Surveilans berbasis laboartorium digunakan untuk mendeteksi dan menonitor penyakit infeksi. Sebagai contoh, pada penyakit yang ditularkan melalui makanan seperti salmonellosis, penggunaan sebuah laboratorium sentral untuk mendeteksi strain bakteri tertentu memungkinkan deteksi outbreak penyakit dengan lebih segera dan lengkap daripada sistem yang mengandalkan pelaporan sindroma dari klinik-klinik (DCP2, 2008).

5. Surveilans Terpadu

Surveilans terpadu (integrated surveillance) menata dan memadukan semua kegiatan surveilans di suatu wilayah yurisdiksi (negara/ provinsi/ kabupaten/ kota) sebagai sebuah pelayanan publik bersama. Surveilans terpadu menggunakan struktur, proses, dan personalia yang sama, melakukan fungsi mengumpulkan informasi yang diperlukan untuk tujuan pengendalian penyakit. Kendatipun pendekatan surveilans terpadu tetap memperhatikan perbedaan kebutuhan data khusus penyakitpenyakit tertentu (WHO, 2001, 2002; Sloan et al., 2006). Karakteristik pendekatan surveilans terpadu: (1) Memandang surveilans sebagai pelayanan bersama (common services); (2) Menggunakan pendekatan solusi majemuk; (3) Menggunakan pendekatan fungsional, bukan struktural; (4) Melakukan sinergi antara fungsi inti surveilans (yakni, pengumpulan, pelaporan, analisis data, tanggapan) dan fungsi pendukung surveilans (yakni, pelatihan dan supervisi, penguatan laboratorium, komunikasi, manajemen sumber daya); (5) Mendekatkan fungsi surveilans dengan pengendalian penyakit. Meskipun menggunakan pendekatan terpadu, surveilans terpadu tetap memandang penyakit yang berbeda memiliki kebutuhan surveilans yang berbeda (WHO, 2002).

 

 

 

6. Surveilans Kesehatan Masyarakat Global

Perdagangan dan perjalanan internasional di abad modern, migrasi manusia dan binatang serta organisme, memudahkan transmisi penyakit infeksi lintas negara. Konsekunsinya, masalah-masalah yang dihadapi negara-negara berkembang dan negara maju di dunia makin serupa dan bergayut. Timbulnya epidemi global (pandemi) khususnya menuntut dikembangkannya jejaring yang terpadu di seluruh dunia, yang manyatukan para praktisi kesehatan, peneliti, pemerintah, dan organisasi internasional untuk memperhatikan kebutuhan-kebutuhan surveilans yang melintasi batas-batas negara. Ancaman aneka penyakit menular merebak pada skala global, baik penyakit-penyakit lama yang muncul kembali (re-emerging diseases), maupun penyakit-penyakit yang baru muncul (new emerging diseases), seperti HIV/AIDS, flu burung, dan SARS. Agenda surveilans global yang komprehensif melibatkan aktor-aktor baru, termasuk pemangku kepentingan pertahanan keamanan dan ekonomi (Calain, 2006; DCP2, 2008).

3.      Karakteristik data HIV dan AIDS

Berdasarkan data resmi Kementerian Kesehatan, sekitar 26. 400 pengidap AIDS dan 66. 600 pengidap HIV positif di Indonesia tahun 2011 ini, lebih dari 70 persen di antaranya adalah generasi muda usia produktif yang berumur di antara 20- 39 tahun. Angka ini belum mencerminkan data yang sesungguhnya, karena AIDS merupakan fenomena gunung es, di mana yang terlihat hanya sekitar 20 persen saja, sedangkan yang tidak diketahui jumlahnya akan lebih banyak. Saat ini Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) yang mengetahui diri mereka terinfeksi HIV hanya sekitar 20 persen. Dengan kata lain, 8 dari 10 ODHA tidak mengetahui bahwa diri mereka sudah terinveksi HIV, dan bisa menularkan virus tersebut kepada orang lain. Hal ini turut andil meningkatkan kasus HIV di Indonesia. Pengidap HIV bukan hanya kelompok resiko tinggi saja, tetapi juga dari keluarga dan masyarakat biasa, termasuk ibu-ibu rumah tangga. Oleh karena, sangat penting untuk melakukan deteksi dini infeksi HIV. Deteksi dini dapat dilakukan melalui konseling dan testing secara sukarela bagi mereka yang memiliki perilaku dengan resiko tinggi tertular HIV, sebagai upaya pencegahan agar tidak terinfeksi
HIV. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah dalam menanggulangi masalah HIV dan AIDS. Tetapi epidemi HIV dan AIDS terus saja berlanjut seiring dengan maraknya pemakaian narkoba di Indonesia.

Di beberapa provinsi di Indonesia sudah terjadi epidemi yang terkonsentrasi, di mana kelompok populasi yang beresiko terkena HIV mencapai lebih dari 5 persen. Bahkan di Provinsi Papua, ada kecenderungan generalized epidemic, di mana masyarakat umum sudah terinfeksi lebih dari 2 persen, dengan rata-rata kasus 180,69. Artinya, terdapat 180 orang terinfeksi HIV pada setiap 100 ribu penduduk di Papua.

Analisis Data HIV dan AIDS

4.      Manfaat hasil surveilens dalam pengambilan keputusan

Informasi kesehatan yang berasal dari data dasar pola penyakit sangat penting untuk menyusun perencanaan dan untuk mengevaluasi hasil akhir dari intervensi yang telah dilakukan. Semakin kompleksnya proses pengambilan keputusan dalam bidang kesehatan masyarakat, memerlukan informasi yang cukup handal untuk mendeteksi adanya perubahan-perubahan yang sistematis dan dapat dibuktikan dengan data (angka).

Keuntungan

Keuntungan dari kegiatan surveilans epidemiologi disini dapat juga diartikan sebagai kegunaan surveilans epidemiologi, yaitu :

  1. Dapat menjelaskan pola penyakit yang sedang berlangsung yang dapat dikaitkan dengan tindakantindakan/intervensi kesehatan masyarakat.

Dalam rangka menguraikan pola kejadian penyakit yang sedang berlangsung, contoh kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut :

  1. Deteksi perubahan akut dari penyakit yang terjadi dan distribusinya
  2. Identifikasi dan perhitungan trend dan pola penyakit
  3. Identifikasi dan faktor risiko dan penyebab lainnya, seperi vektor yang dapat menyebabkan sakit dikemudian hari
  4. Deteksi perubahan pelayanan kesehatan  yang terjadi
  5. Dapat melakukan monitoring kecenderungan penyakit endemis
  6. Dapat mempelajari riwayat alamiah penyakit dan epidemiologi penyakit, khususnya untuk mendeteksi adanya KLB/wabah

Melalui pemahaman riwayat penyakit, dapat bermanfaat  sebagai berikut :

  1. Membantu menyusun hipotesis untuk dasar pengambilan keputusan dalam intervensi kesehatan masyarakat
  2. Membantu untuk mengidentifikasi penyakit untuk keperluan penelitian epidemiologi
  3. Mengevaluasi program-program pencegahan dan pengendalian penyakit
  1. Memberikan informasi dan data dasar untuk memproyeksikan kebutuhan pelayanan kesehatan  dimasa mendatang

Data dasar sangat penting untuk menyusun perencanaan dan untuk mengevaluasi hasil akhir intervensi yang diberikan. Dengan semakin kompleksnya pengambilan keputusan dalam bidang kesehatan masyarakat, maka diperlukan data yang cukup handal untuk mendeteksi adanya perubahan-perubahan yang sistematis dan dapat dibuktikan dengan data (angka).

  1. Dapat membantu pelaksanaan dan daya guna program pengendalian khusus dengan membandingkan besarnya masalah sebelum dan sesudah pelaksanaan program.
  2. Membantu menetapkan masalah kesehatan dan prioritas sasaran program pada tahap perencanaan program.

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam membuat prioritas masalah dalam kegiatan surveilans epidemiologi adalah :

  1. Frekuensi kejadian (insidens, prevalens dan mortalitas);
  2. Kegawatan/ Severity (CFR, hospitalization rate, angka kecacatan);
  3. Biaya (biaya langsung dan tidak langsung);
  4. Dapat dicegah (preventability);
  5. Dapat dikomunikasikan (communicability);
  6. f.      Public interest
  7. Mengidentifikasi kelompok risiko tinggi menurut umur, pekerjaan, tempat tinggal dimana masalah kesehatan sering terjadi dan variasi terjadinya dari waktu ke waktu (musiman, dari tahun ke tahun), dan cara serta dinamika penularan penyakit menular.

VII.       RANGKUMAN :

Surveilans berbeda dengan pemantauan (monitoring) biasa. Surveilans dilakukan secara terus menerus tanpa terputus (kontinu), sedang pemantauan dilakukan intermiten atau episodik. Dengan mengamati secara terus-menerus dan sistematis maka perubahan-perubahan kecenderungan penyakit dan faktor yang mempengaruhinya dapat diamati atau diantisipasi, sehingga dapat dilakukan langkah-langkah investigasi dan pengendalian penyakit dengan tepat.

Tujuan dari surveilans AIDS adalah memberikan suatu data terhadap pelayanan kesehatan di Indonesia agar melakukan suatu perencanaan, pelaksanaan dan pemantauan terhadap penanggulangan AIDS di Indonesia. Informasi kesehatan yang berasal dari data dasar pola penyakit sangat penting untuk menyusun perencanaan dan untuk mengevaluasi hasil akhir dari intervensi yang telah dilakukan. Semakin kompleksnya proses pengambilan keputusan dalam bidang kesehatan masyarakat, memerlukan informasi yang cukup handal untuk itu pelaksanakan surveilans yang handal harus dilaksanakan.

 

 


 

 

VIII.DAFTAR  ISTILAH


AIDS Acquired Immuno Deficiency Syndrome
ART Antiretroviral Treatment = Terapi Antiretroviral
ELISA Enzyme-Linked Immunosorbent Assay
HIV Human Immunodeficiency Virus
IDU Injecting Drug Users = Pengguna Napza Suntik
IPT Isoniazid Preventive Therapy = Terapi pencegahan dengan isoniazid (INH)
MSM Men who have Sex with Men = Lelaki suka seks lelaki
NAPZA Narkotika Psikotropika dan Zat Additif lainnya
ODHA Orang dengan HIV/AIDS
PSK Pekerja Seks Komersial
TB Tuberkulosis
TB/HIV Ko-infeksi TB dan HIV
UNAIDS The Joint United Nations Programme on HIV/AIDS
VCT Voluntary Counseling and Testing = Konseling dan Testing secara sukarela
WHO World Health Organization


 

IX.          DAFTAR PUSTAKA

Amiruddin, Ridwan (2012). Surveilans Kesehatan Masyarakat. IPB Press.Bogor.

Amiruddin. Ridwan. 2011. Epidemiologi Perencanaan dan Pelayanan Kesehatan. Makassar.  Masagena press. Jogjakarta.

Amon J.; Brown T.; Hogle J.; Macneil J.; Magnani R.; Mills S.;Pisani E.; Rehle T.; Saidel T. 2000 Behavioral Surveillance Surveys (BSS) : Guidelines for repeated behavioral surveys

Bensimon CM, Upshur REG (2007). Evidence and effectiveness in decisionmaking for quarantine. Am J Public Health;97:S44-48.

Centers for Disease Control and Prevention. 2000. Monitoring hospital-acquired infections to promote patient safety–United States, 1990-1999. MMWR Morb Mortal Wkly Rep.49(RR-8):149-53.

DCP2 (2008). Public health surveillance. The best weapon to avert epidemics. Disease Control

Departemen Kesehatan RI. Pedoman Nasional Terapi Antiretroviral. Panduan Tatalaksana Klinis Infeksi HIV pada Orang Dewasa dan Remaja. Departemen Kesehatan RI. Jakarta.

Erme MA, Quade TC (2010). Epidemiologic surveillance. Enote. www.enotes.com/public-health…/ epidemiologic-surveillance. Diakses 21 Agustus 2010.

Giesecke J (2002). Modern infectious disease epidemiology. London: Arnold.

Gordis, L (2000). Epidemiology. Philadelphia, PA: WB Saunders Co.

In Populations at risk of HIV. Family Health International.

Murti, Bisma (2010), Surveilan Kesehatan masyarakat

Priority Project. http://www.dcp2.org/file/153/dcpp-surveillance.pdf

USAID, FHI. 2007. Scaling Up the Continuum of Care for People Living with HIV in Asia and the

WHO. 2007. Surveillance of Population at High Risk for HIV Transmission. World Health Organization.

WHO.2007. Surveillance of HIV Risk Behaviors. Participant Manual. World Health Organization.

Erme MA, Quade TC (2010). Epidemiologic surveillance. Enote. http://www.enotes.com/public-health…/

epidemiologic-surveillance. Diakses 21 Agustus 2010.

JHU (=Johns Hopkins University) (2006). Disaster epidemiology. Baltimore, MD: The Johns Hopkins and IFRC Public Health Guide for Emergencies.

Last, JM (2001). A dictionary of epidemiology. New York: Oxford University Press, Inc.

Mandl KD, Overhage M, Wagner MM, Lober WB, Sebastiani P, Mostahari F, Pavlin JA, Gesteland PH,

Treadwell T, Koski E, Hutwagner L, Buckeridge DL , Aller RD, Grannis S (2004). Implementing syndromic surveillance: A practical guide informed by the early experience. J Am Med Inform Assoc., 11:141–150.

McNabb SJN, Chungong S, Ryan M, Wuhib T, Nsubuga P, Alemu W, Karande-Kulis V, Rodier G (2002).Conceptual framework of public health surveillance and action and its application in health sector reform. BMC Public Health, 2:2 http://www.biomedcentral. Com

Pavlin JA (2003). Investigation of disease outbreaks detected by “syndromic” surveillance systems.

Journal of Urban Health: Bulletin of the New York Academy of Medicine, 80 (Suppl 1): i107-

i114(1).

Sloan PD, MacFarqubar JK, Sickbert-Bennett E, Mitchell CM, Akers R, Weber DJ, Howard K (2006).

Syndromic surveillance for emerging infections in office practice using billing data. Ann Fam

Med 2006;4:351-358.

WHO (2001). An integrated approach to communicable disease surveillance. Weekly epidemiological

record, 75: 1-8. http://www.who.int/wer

_____ (2002). Surveillance: slides. http://www.who.int

Wuhib T, Chorba TL, Davidiants V, MacKenzie WR, McNabb SJN (2002). Assessment of the infectious

diseases surveillance system of the Republic of Armenia: an example of surveillance in The

Republics of the former Soviet Union. BMC Public Health, 2:3 http://www.biomedcentral.com.

X.        Lembar Penugasan:

  1. 1.    Kelas di bagi menjadi 4 kelompok dengan kegiatan
    1. Diskusi pelaksanaan surveilan; data collecting, data compilasi, data analysis, data interpretasi dan disseminasi data HIV dan AIDS  di Indonesia
    2. Menjelaskan epidemiologi HIV dan AIDS di Indonesia  berdasarkan karakteristik data HIV dan AIDS di Indonesia tahun 2012 (IV.3)
    3. Merumuskan manfaat surveilans HIV dan AIDS berdasarkan data yang telah di analisis.
    4. 2.    Kegiatan Praktik Lapangan untuk dimaksudkan untuk memberikan kesan dan pengalaman bagi peserta pelatihan tentang bagaimana pelaksanaan surveilans HIV dan AIDS di unit Pelayanan kesehatan ( PKM, RS, LSM), meliputi :
      1. Bagaimana epidemiologi HIV dan AIDS (distribusi kasus HIV dan AIDS menurut variable orang(;mis.umur, jenis kelamin,), variable waktu (kecenderungan kasus HIV dan AIDS dari waktu ke waktu) dan variable tempat di tempat praktek (unit layanan kesehatan).
      2. Bagaimana pelaksanaan surveilans di unit layanan yang dikunjungi (bagaimana pengumpulan data HIV dan AIDS, analisis data, dan penyebar luasan data HIV dan AIDS).
      3. Bagaimana kelengkapan dan validitas  laporan kasus HIV dan AIDS
      4. 3.    Merencanakan program pencegahan HIV dan AIDS berdasarkan hasil analisis data surveilans.
      5. 4.    Rencana Aksi Penanggulangan HIV dan AIDS

TerLampir

 

  1. 5.   

Merokok dan Efeknya terhadap Kesehatan


Merokok dan Efeknya terhadap Kesehatan

Ridwan Amiruddin

Email:ridwan.amiruddin@gmail.com FKM.UNHAS

Data akibat merokok sigaret sangat menakutkan, dan suram. Diperkirakan bahwa angka kematian berlebihan tahunan di Amerika Serikat yang disebabkan oleh merokok sigaret adalah 350.000, lebih daripada kehilangan total jiwa orang Amerika dalam, perang dunia I, Korea dan Vietnam. Dalam tahun 1979, laporan US Surgeon General menyatakan : “merokok sigaret merupakan faktor lingkungan tunggal yang paling penting dalam meningkatkan kematian dini di Amerika Serikat”. Royal College of Physician, dan banyak penelitian telah mendukung kesimpulan itu. Angka kesakitan, dan kematian yang berhubungan dengan merokok sigaret hampir berkorelasi linier dengan jumlah batang rokok yang diisap setiap hari dan tahun pemakaian. Tahun pemakaian biasanya dinyatakan dengan istilah “tahun-bungkusan” (yaitu satu bungkus sehari selama 20 tahun sesuai dengan 20 tahun bungkusan). Seorang ahli statistik mengukur bahwa pada perokok selama 5 – 8 tahun, setiap batang sigaret mengurangi harapan hidup 5,5 menit. Terdapat beberapa bukti bahwa mode mutakhir pemakaian filter, dan sigaret “rendah nikotin” telah mengurangi risiko itu secara nyata, tetapi masih membutuhkan waktu lebih lama untuk menilai kegunaan cara tersebut. Cerutu dan merokok dengan pipa juga menghadapi risiko, tetapi jauh lebih rendah daripada merokok sigaret. Baru-baru ini sejumlah besar keprihatinan tentang efek samping pada ‘perokok pasif’ Kelainan ringan fungsi ventilasi telah ditemukan, dan yang lebih buruk lagi, sudah dibuat pernyataan tentang peningkatan risiko terkena kanker, walaupun penelitian lebih lanjut masih diperlukan. Penyakit spesifik yang berkaitan dengan merokok tidak akan dibicarakan. Beberapa konsep tentang prekuensi kelainan ini dihasilkan dari data berikut. Bukti yang mengaitkan merokok sigaret dengan kanker paru hampir dapat dipastikan, dan kanker paru merupakan penyebab nomor satu kematian karena kanker baik pada pria, maupun wanita di AS dalam tahun 1985. Perokok pria kira-kira 10 kali lebih mudah mati karena karsinoma bronkogenik daripada bukan perokok. Perokok wanita pada masa lalu juga telah mengalami risiko separuh dari perokok pria, tetapi perubahan perilaku telah mengurangi perbedaan ini. Risiko akibat merokok 2 bungkus sigaret sehari dalam 3 kali lebih tinggi daripada mereka yang merokok setengah bungkus sehari. Data yang berkaitan dengan kematian karena kardiovaskular sama menyedihkan. Merokok sigaret merupakan faktor risiko utama pada perkembangan penyakit aterosklerosis, dan penyebab penyakit jantung koroner, terutama infark jantung, yang merupakan penyebab nomor satu kematian disebagian besar negara industri. Sebagai tambahan, anak yang belum dilahirkan juga tidak terbebas dari bahaya merokok pada kehamilan, telah juga mengalami penurunan berat badan, dan peningkatan angka kematian prenatal. Pada tahun-tahun terakhir ini, usaha untuk menghindari bencana ini telah menyebabkan penggunaan rokok tak berasap seperti penghirupan rokok lewat hidung, mengunyah tembakau, atau segumpal tembakau disusupkan kedalam lipat pipi bagian dalam. Dengan menyesal dinyatakan bahwa praktek seperti ini telah meningkatkan insidensi karsinoma sel skuamosa pada gusi dan mukosa. Perokok dapat ”memperoleh semangat” karena dalam waktu setahun berhenti merokok angka insidensi serangan jantung yang meningkat pada pria dibawah 55 tahun mulai merosot, dan dalam dua tahun dapat mencapai batas dasar risiko bukan perokok. Sebagai tambahan, penurunan kecil jumlah kematian akibat karsinoma bronkogenik telah dicatat pada pria, tetapi tidak pada wanita. Apakah cukup bisa dipercaya bahwa usaha untuk mengurai penggunaan rokok telah berhasil mengurangi kematian pria akibat kanker paru, yang merupakan awal dari kecenderungan yang akan terjadi pada wanita juga? kesimpulannya jelas, bahwa sigaret merupakan penyebab kematian sejati. Apabila seorang menghisap asap rokok, maka bermacam-macam senyawa tertimbun di dalam paru-paru. Sebagian dari senyawa-senyawa tidak berbahaya, dapat terlarut dalam aliran darah dan dibawa keginjal untuk dikeluarkan dari tubuh. Tetapi ada senyawa yang tidak dapat larut dalam darah , sehingga tertimbun di dalam paru-paru, yang bila dibiarkan saja akan timbul keracunan. Untuk menjaga diri, badan membuat enzim yang mengubah senyawa itu menjadi senyawa yang dapat dikeluarkan dari tubuh. Salah satu senyawa berbahaya ialah hidrokarbon polisiklik. Salah satu enzim yang dimaksud diatas adalah AHH (aril hidrokarbon hidroksilase). Hidrokarbon polisiklik merupakan zar prokarsinogen, yaitu suatu zat yang tidak dapat menimbulkan kanker, tetapi bila bertemu dengan agen lain dapat bersifat karsinogen. Seorang ahli paru-paru mengemukakan bahwa asap rokok akan merusak epitel saluran nafas, menyebabkan rusaknya bulu getar epitel. Sekresi yang berlebihan akan terjadi, sehingga jalan nafas akan tersumbat oleh secret. Setelah diketahui bahayanya merokok bagi kesehatan, maka para pemilik industri rokok berusaha mengurangi banyaknya nikotin dan tar yang dikandung oleh asap rokok, yaitu dengan memasang sebuah filter pada pangkal batang rokok. Hasil penelitian tentang kandungan nikotin dan tar dalam asap rokok di beberapa Negara serta dosis rokok tiap hari dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 1. Dosis rokok, klasifikasi dan angka kematiannya 0 1-10 11-22 23 + – ringan sedang berat 18 87 168 383 Sumber : Cuyler, 2000. Table 2 dapat dilihat bahwa rokok di Australia mengandung lebih sedikit nikotin dan tir dibandingkan dengan rokok dinegara lainnya. Juga merk rokok yang tergolong “berat” (artinya pengandungan nikotin dan tar tinggi) tidak dijual lagi di pasaran. Di Indonesia sampai sekarang belum dilakukan penelitian sejauh itu, semoga segera dapat dilaksanakan. Tabel 2. Kandungan tar dan nikotin rokok dari berbagai Negara. Negara Sampai 12 mgm 13 – 18 mgm 19 – 24 Mgm Di atas 24 Jumlah Merk yang dites _Amerika Serikat Inggris Kanada Australia Indonesia 21 (14,8) 12 (11,9) 5 (5,4) 19 (18,8) ? 47 (33,1) 22 (21,8) 29 (31,6) 41 (77,4) ?_ 56 (39,4) 46 (45,5) 53 (57,6) 2 (3,8) ?_ 18 (12,7) 21 (20,8) 5 (5,4) 0 ?_142 101 92 5 Sumber : Cuyler, 2000. Angka di dalam tanda kurung adalah persentase F. Asap Rokok dan Efek Nikotin Terhadap BBLR 1. Bahan kimia Kalau kita sadar, satu batang rokok yang hanya seukuran pensil sepuluh sentimeter itu, ternyata ibarat sebuah pabrik berjalan yang menghasilkan bahan kimia berbahaya. Satu batang rokok yang dibakar Nikotin ini menghalangi kontraksi rasa lapar. Itu sebabnya seseorang bisa merasakan tidak lapar karena merokok. Ammonia, merupakan gas yang tidak berwarna yang terdiri dari nitrogen dan hidrogen. Zat ini sangat tajam baunya dan sangat merangsang. Begitu kerasnya racun yang ada pada ammonia sehingga kalau disuntikkan (baca: masuk) sedikit pun kepada peredaraan darah akan mengakibatkan seseorang pingsan atau koma. Formic acid, sejenis cairan tidak berwarna yang bergerak bebas dan dapat membuat lepuh. Cairan ini sangat tajam dan menusuk baunya. Zat ini dapat menyebabkan seseorang seperti merasa digigit semut. Hydrogen cyanide, sejenis gas yang tidak berwarna, tidak berbau dan tidak memiliki rasa. Zat ini merupakan zat yang paling ringan, mudah terbakar dan sangat efisien untuk menghalangi pernapasan. Cyanide adalah salah satu zat yang mengandung racun yang sangat berbahaya. Sedikit saja cyanide dimasukkan langsung ke dalam tubuh dapat mengakibatkan kematian. Nitrous oxide, sejenis gas yang tidak berwarna, dan bila terisap dapat menyebabkan hilangnya pertimbangan dan mengakibatkan rasa sakit. Nitrous oxide ini adalah jenis zat yang pada mulanya dapat digunakan sebagai pembius waktu melakukan operasi oleh para dokter. Formaldehyde, sejenis gas tidak berwarna dengan bau yang tajam. Gas ini tergolong sebagai pengawet dan pembasmi hama. Gas ini juga sangat beracun keras terhadap semua organisme-organisme hidup. Phenol, merupakan campuran dari kristal yang dihasilkan dari distilasi beberapa zat organik seperti kayu dan arang, serta diperoleh dari tar arang. Zat ini beracun dan membahayakan, karena phenol ini terikat ke protein dan menghalangi aktivitas enzim. Acetol, adalah hasil pemanasan aldehyde (sejenis zat yang tidak berwarna yang bebas bergerak) dan mudah menguap dengan alkohol. Hydrogen sulfide, sejenis gas yang beracun yang gampang terbakar dengan bau yang keras. Zat ini menghalangi oxidasi enxym (zat besi yang berisi pigmen). Pyridine, sejenis cairan tidak berwarna dengan bau yang tajam. Zat ini dapat digunakan mengubah sifat alkohol sebagai pelarut dan pembunuh hama. Methyl chloride, adalah campuran dari zat-zat bervalensi satu antara hidrogen dan karbon merupakan unsurnya yang terutama. Zat ini adalah merupakan compound organis yang dapat beracun. Methanol, sejenis cairan ringan yang gampang menguap dan mudah terbakar. Meminum atau mengisap methanol dapat mengakibatkan kebutaan dan bahkan kematian. Dan tar, sejenis cairan kental berwarna cokelat tua atau hitam. Tar terdapat dalam rokok yang terdiri dari ratusan bahan kimia yang menyebabkan kanker pada hewan. Bilamana zat tersebut diisap waktu merokok akan mengakibatkan kanker paru-paru. 2. Bahayakan tubuh Melihat dari kandungan bahan-bahan kimia yang terdapat dalam rokok tersebut, kita tidak akan menyangsikan lagi kalau rokok itu merupakan sumber bencana dan perusak tubuh bagi yang mengisapnya. Salah satu proses yang memang belum berdampak pada penampilan fisik perokok adalah gangguan pada sistem sirkulasi darah, yang akhirnya memicu penyakit jantung. Kami menggolongkan mereka sebagai ‘perokok sehat,’ kata Johannes Czenin (baca: SHAR’niin), Rektor kepala pada Departemen Molekular dan Farmakologi UCLA.(Arda Dinata, 2003) Lebih lanjut dikemukakan, walau belum ada indikasi jantung koroner, toh ada abnormalitas yang kami sebut vosomotion, atau perubahan pada aliran darah. Sementara itu, berdasarkan laporan Badan Lingkungan Hidup Amerika (EPA – Environmental Protection Agency) mencatat tidak kurang dari 300 ribu anak-anak berusia 1 hingga 1,5 tahun menderita bronchitis dan pneumonia, karena turut mengisap asap rokok yang diembuskan orang di sekitarnya terutama ayah-ibunya. Selain anak-anak, kecenderungan peningkatan jumlah korban asap rokok juga terlihat pada kaum wanita. Nasib kaum ibu bersuamikan perokok agaknya tak berbeda jauh dengan anak-anak yang memiliki keluarga perokok. Penelitian yang dilakukan EPA menghasilkan kesimpulan bahwa dari 30 wanita, 24 di antaranya berisiko tinggi terserang kanker paru-paru bila suaminya perokok. Menurut para peneliti di Fakultas Kedokteran Universitas New York, wanita yang merokok lebih dari 10 batang per hari memiliki peluang memasuki monopause dini 40 persen lebih besar ketimbang para wanita yang tidak merokok. Dalam studi itu, para peneliti mengamati 4.694 wanita selama lebih dari lima tahun. Ternyata, wanita perokok rata-rata memasuki masa monopause lebih cepat 9 bulan ketimbang wanita yang tidak merokok. Setelah kita mengetahui kandungan bahan-bahan kimia berbahaya dalam rokok dan akibatnya bagi kesehatan manusia, maka alangkah bodohnya manusia yang masih merokok dan tidak ada niatan untuk berhenti merokok. Buat apa kita dilengkapi akal dan pikiran kalau diri kita tidak dapat memilah-milah mana yang baik dan tidak baik dari sesuatu barang yang akan kita konsumsi? 3. Berhenti merokok Kurt Salzer (1950:59), dalam Thrirteen Ways to Break the Smoking Habit, mengemukakan, ada 13 metode berhenti merokok. (1) Menyadari apa sebabnya Anda merokok. (2) Langsung berhenti merokok. (3) Jangan merokok waktu melakukan sesuatu atau sewaktu mengemudikan kendaraan. (4) Katakan kepada diri, “Saya tidak akan merokok hari ini”. (5) Tentukan suatu hari untuk berhenti merokok. (6) Katakan, “ya” bagi kesehatan Anda, dan katakan “tidak” untuk penyakit. (7) Merokok mengurangi kecantikan Anda. Oleh karena itu, katakan “ya” untuk kecantikan muka Anda dan “tidak” atas kerusakan kecantikan karena rokok. (8) Adalah watak orang-orang muda, bahwa walaupun ada sifat menentang ibu-bapak atau guru, namun mencoba meniru mereka. Bapak atau guru yang melarang anak-anak merokok, tetapi mereka sendiri merokok, akan diikuti anak-anak jadi perokok. Oleh karena itu, Anda perlu menyadari pengaruh Anda sebagai orang tua atau guru, kalau Anda masih tetap merokok. (9) Pernahkah Anda membakar uang lembaran seribu rupiah? Anda, dengan merokok telah membuatnya. (10) Seseorang perokok telah terbiasa dengan bau rokok yang sangat tajam. Organismenya telah terbiasa dengan kadar nikotin tertentu. Gantinya memarahi seorang anak yang merokok, dipaksa merokok sampai dia merasa sakit. Akibatnya, kapan saja anak itu mencium bau rokok, dia merasa sakit. (11) Tersedak atau ketegukan akan berhenti dengan memperhatikan diafragma Anda, bagaimana diafragma itu mengembang dan mengempis. Amati diri Anda, kalau Anda sedang ingin merokok. Keinginan itu datang dari luar. Lalu tutup mata Anda dan pikirkan mengalahkan pengaruh luar tersebut. (12) Dalam pertentangan antara kuasa kemauan dan kuasa imajinasi, maka kuasa imajinasi itu akan menang. Bayangkanlah Anda tidak akan merokok lagi, maka Anda akan berhasil. (13) Agar metode imajinasi itu berhasil, jangan bimbang. Dengan santai katakanlah kepada diri, “Saya tahu bahwa saya tidak akan merokok lagi”. Oleh karena itu, Anda tidak akan merokok lagi. Nikotin pada asap sigaret bersifat agak asam dan tidak diabsorbsi dengan baik di mulut, berlainan dengan asap pipa dan cerutu yang lebih alkalis (pH 8.5) dan mungkin lebih baik absorpsinya. Tetapi, kadar nikotin dalam plasma dari mereka yang tidak menginhalasi (cerutu) lebih rendah. Efeknya terhadap susunan saraf pusat (SSP), nikotin yang diabsorpsi dapat menimbulkan tremor tangan dan kenaikan kadar pelbagai hormon dan neurohormon dopamin di dalam plasma. Berdasarkan rangsangan terhadap “chemoreseptor trigger zone’ dari sumsum tulang (medulla oblingata) dan stimulasinya dari refleks vagal, nikotin menyebabkan mual dan muntah. Di lain pihak nikotin meningkatkan daya ingat, perhatian, dan kewaspadaan, mengurangi sifat mudah tersinggung dan agresi, serta menurunkan berat badan akibat penekanan nafsu makan dan meningkatnya pengeluaran energi. Toksisitas kronis merokok dikaitkan dengan pelbagai penyakit serius, dari gangguan arteri koroner sammpai kanker paru. Kecenderungan mendapatkan penyakit-penyakit ini meningkat dengan derajat eksposurenya, yang di ukur dari jumlah sigaret yang dihisap sehari atau diekspresikan dalam; packs years. Perbandingan mortalitas keseluruhan dari perokok pria terhadap non perokok adalah 1.7 :1 ratio ini menjadi 2.0 bagi mereka yang mengisap 2 pak perhari dan lebih tinggi lagi pada mereka yang menginhalasi dibandingkan dengan yang non inhalasi. Mortalitas juga meningkat bila menghisap cerutu, tetapi tidak demikian tinggi dibandingkan yang menghisap cigaret. Perokok wanita yang menghisap 1 pak sehari mempunyai risiko mendapatkan penyakit jantung koroner fatal yang lima kali lebih tinggi. Interaksi dengan obat-obat. Perokok memetabolisasi pelbagai jenis obat lebih cepat dari pada non perokok, yang disebabkan oleh induksi enzim-enzim di mukosa usus atau hati oleh komponen dalam asap tembakau. Dengan demikian, efek obat-obat dimaksud berkurang, misalnya teofilin, iminprami, dan kafein. Pada prokok membutuhkan dosis yang lebih tinggi dari analgetika (opioida), angksiolitika (oksazepam), dan obat-obat antiangina (nifedipin, atenolol, propanolol, dan lain-lain) (Tjay, TH, dkk., 2003). Nikotin sebagai derivat-piridin terdapat sebagai alkaloid pada daun tembakau (nicotiana tabacum). Nikotin diikat pada reseptor -N di SSP dan SS perifer dan menghasilkan efek terhadap otak, jantung, pembuluh, saraf, lambung-usus, dan otot kerangka. Pada dosis rendah berdaya stimulasi, pada dosis tinggi bekerja inhibisi (Tjay, dkk, 2003; Sartono,2002). Merokok selama kehamilan berpengaruh terhadap bayi berat lahir rendah, angka SIDS (sudden infant death syndrome ), masalah perilaku, dan kesulitan belajar. Diyakini bahwa merokok mengurangi aliran oksigen dan nutrisi ke janin. Hal tersebut juga meningkatkan risiko keguguran bagi wanita hamil yang merokok. Bayi dan anak yang hidup disekitar perokok lebih mudah terkena batuk, infeksi telinga dan flu. Anak yang memiliki orang tua perokok lebih cepat tumbuh menjadi seorang perokok juga. Kerusakan gamet dan embrio akibat rokok oleh Zenzez, M.T. (2000), dijelaskan bahwa, seorang ayah yang merokok akan mengalami kualitas sperma yang rendah dan konsentrasi sperma yang rendah. Adapun komponen kariogenik rokok yang utama adakah cadmiun, cotinin dan benzo a pyrene, hal tersebut dapat menyebabkan kerusakan DNA atau chromosom. Transmisi unsur kariogenik dapat menyebabkan 1). Keagagalan implantasi, 2). Kelahiran prematur dan 3). Gangguan perkembangan postnatal. Sejumlah studi telah menggambarkan bahwa ibu hamil yang merokok selama kehamilan berhubungan dengan menurunnya berat bayi yang dilahirkan (gambar 3). Ibu yang merokok didentifikasi sebagai faktor modifikasi risiko terbesar untuk BBLR. Meskipun tidak semua wanita yang merokok melahirkan bayi BBLR. Untuk alasan ini variasi pemahaman masih sangat luas, tetapi mungkin berhubungan dengan kerentanan genetik ibu (Wang, 2002). Sebuah review tentang efek nikotin terhadap kehamilan, menyebutkan efek pharmakodinamika nikotin menyebabkan fetal hypoxemia melalui reduksi darah dari plasenta (Oncken C.A.2000). Sumber : Bonnie, S, 2000. Gambar 3: Hubungan Ibu Hamil Merokok dengan BBLR Kandungan asap rokok hampir sekitar 4000 campuran bahan kimia, dan hampir semua karsinogen ada dalam asap rokok misalnya polycyclic aromatic hydrocarbons (PAHs). Arylmines, dan N-nitrisamins. Kemampuan individu menkoversi metabolisme racun asap rokok yang berbahaya sangat penting untuk meminimalkan efek terhadap kesehatan. Penelitian di RS Umum Sarawak Malaysia ditemukan bukti bahwa pajanan asap rokok ( suami – merokok) mempunyai kaitan dengan berat bayi lahir rendah. OR = 1,65 96 % CI 1-3.00 , p <0,05. Demikian juga penelitian Wang CS, merokok lebih mudah melahirkan bayi BBLR (BMN.Com, 2002). Tabel 3. Hasil temuan rokok hubungannya dengan kejadian BBLR menurut berbagai riset No Nama Peneliti Tahun Lokasi penelitian Ringkasan hasil temuan Jurnal 1 Mac Mahon et.al. 1966 USA Tidak ada bukti efek dosis respon rokok dengan kejadian BBLR Schaffer library of Drug Policy (7/4/2006) 2 Comstock and Lundin 1967 Maryland Rata rata berat lahir dengan ayah perokok lebih ringan 42 g dibanding yang tidak merokok Idem 3 Underwood, et.al. 1967 Ayah merokok berefek lebih besar lahir BBLR (sekitar 100 g) Idem 4. Borlee et.al. 1978 Belgia Rata –rata berat bayi dari ibu yang tidak merokok turun 228 g jika ayah merokok sebelum konsepsi Idem 5 Magnus et.al. 1984 Norwegia Ayah merokok berhubungan dengan penurunan 48 g berat lahir (p<0.01)(bivariat). Ayah merokok berhubungan dengan penurunan 5 g rata-rata berat lahir (multivariat) Idem 6. Karakostov 1985 Bulgaria Bayi dari ibu yang terpajan ETS dilaporkan mengalami penurunan BBLR 84 g. Idem Sumber : Schaffer library of Drug Policy, 2005 Kotinin dalam urine, satu dari metabolisme utama nikotin, telah digunakan secara luas sebagai biomarker untuk menilai langsung atau tidak langsung pajanan asap rokok. Walaupun terdapat variasi yang sangat lebar terhadap level kotinin diantar perokok dengan jumlah rokok yang sama. Penggunaan kotinin urin sebagai biomarker eksposure rokok, variasi antar individu terhadap bentuk kotinin harus menjadi pertimbangan (Mihi Yang, et.al.2001). Tabel 4. Hasil temuan hubungan rokok dengan kejadian BBLR menurut berbagai riset 7 Rubin et.al. 1986 – Ibu yang merokok mengalami penurunan berat bayi lahir sebesar 9.2 g. Idem 8 Mac Arthur and Knox 1987 – Bayi mengalami penurunan berat lahir 14 g jika ayah merokok. Idem 9 Schwartz-Bickenbach et.al. 1987 Berlin Bayi dengan ayah perokok dan ibu tidak merokok rata-rata bayinya lebih ringan 205 g dibanding bayi dengan ayah tidak merokok. Idem 10 Campbell et.al. 1988 England Ayah perokok berhubungan dengan penurunan berat bayi lahir sebesar 113 g. Penurunan menjadi lebih besar bila kedua orang tua merokok idem 11 Brooke et.al 1989 London Terdapat perbedaan rata-rata berat lahir dengan pajanan ETS 18 g untuk bukan perokok dan 39 g untuk perokok. Idem 12. Chen et.al. 1989 Shanghai, China Rata-rata penurunan berat lahir 9-11 g bila anggota keluarga merokok 1-9 batang perhari atau > 10 batang perhari. Idem 13. Saito 1991 Japan Bayi dengan ayah perokok dan ibu tidak merokok mengalami penurunan berat bayi 33.4 g (p<0.05) dibandingkan orang tua yang tidak merokok. Bila ayah dan ibu merokok maka penurunan menjadi 66 g. Ditemukan dose respon efek terhadap ayah yang merokok dengan penurunan 111 g (p<0.01) dengan jumlah rokok 40 batang perhari. Idem 14 Mathai et.al. 1990 & 1992 Liverpool England Bayi yang terpajan ETS mengalami penurunan 66 g dibandingkan bukan perokok. Item 15 Martinez et.al. 1994 Arizona Bayi dari ayah yang merokok lebih 20 batang perhari mengalami penurunan berat badan 88 g. Ibu yang merokok lebih dari 20 batang perhari berhubungan dengan penurunan 250 g berat bayi lahir. idem Sumber : Schaffer library of Drug Policy, 2005 Kotinin sebagai biomarker mempunyai masa aktif 15-40 jam, merupakan indikator biologi yang paling absah untuk menilai pajanan asap rokok secara aktif atau pasif selama masa beberapa hari sebelumnya. Kotinin dapat melintasi plasenta dan terdeteksi pada janin. Tingkat kotinin digunakan sebagai dosimeter internal pada beberapa studi wanita hamil yang bukan perokok untuk mengevaluasi pengaruh pajanan asap rokok (Frederica P.Perera, dkk, 1999).

Risk Factors of Heart Coroner Disease


Faktor risiko Penyakit Jantung Koroner
di RSUP. Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar tahun 2007

Fitriani

Abstrak

Penyakit jantung koroner adalah salah satu penyakit degeneratif yang banyak dipengaruhi oleh gaya hidup suatu masyarakat. Data penyakit jantung koroner di Rumah Sakit Dr.Wahidin Sudirohusodo tahun 2004 sebanyak 336 kasus, tahun 2005 sebanyak 311 kasus tahun 2006 sebanyak 332 kasus (data morbiditas rekam medik rawat inap), sedangkan data morbiditas rawat jalan PJK tahun 2004 sebanyak 136 kasus baru dengan jumlah kunjungan 7328 orang , tahun 2005 sebanyak 250 kasus baru dengan jumlah kunjungan 5402 orang, tahun 2006 sebanyak 216 kasus baru. Berbagai faktor dapat menjadi penyebab penyakit jantung koroner diantaranya hipertensi, hiperkolesterol, merokok, obesitas, kurang olah raga, dan riwayat keluarga.
Tujuan studi ini adalah untuk menganalisis faktor risiko Penyakit Jantung Koroner di Rumah Sakit Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar.
Studi ini bersifat observasional dengan rancangan studi kasus kelola (case control study). Subyek kasus adalah penderita Penyakit Jantung Koroner, sedangkan kelompok kontrol adalah pasien yang bukan penderita Penyakit Jantung Koroner.
Hasil studi menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan terhadap Penyakit Jantung Koroner dengan hipertensi OR = 6,10 (2,73 < CI : 95% < 13,61), hiperkolesterol OR = 8,66 (3,74 < CI : 95% < 20,05), obesitas OR = 2,25 (2,08 < CI : 95% < 4,67), merokok OR = 2,75 (1,20 < CI : 95% < 6,33), dan riwayat keluarga OR = 5,06 (1,58 < CI : 95% < 10,21). sedangkan variabel yang tidak signifikan adalah kurang olah raga, akan tetapi berisiko. Pada analisis multivariat di temukan hiperkolesterol yang paling berpengaruh terhadap Penyakit Jantung Koroner.
Kata kunci: Penyakit Jantung Koroner, hipertensi, kolesterol, obesitas, rokok, olahraga, riwayat keluarga.

Abstract
Coronary heart disease is one of disease degeneratif which is a lot of influenced by life style of a society. Coronary heart disease data at Dr.Wahidin Sudirohusodo Public Hospital Macassar in 2004 as much 336 case, in 2005 as much 311 in case 2006 as much 332 case (data morbiditas record the sis take care of to lodge), while data morbiditas take care of the road of PJK in 2004 as much 136 new case with the visit amount 7328 people ,in 2005 as much 250 new case with the visit amount 5402 people, in 2006 as much 216 new case. Various factor can become the cause of Coronary heart disease among other things hypertension, hiperkolesterol, smoking, obesitas, lack exercises, and family history.
This research aimed to analyze risk factors of coronary heart disease at Dr Wahidin Sudirohusodo Public Hospital Macassar.
This study was an observational research with a control case study. The subject was the patient of coronary heart disease and the control group was non coronary heart disease patients.
The result show that there is a significant correlation between coronary heart disease and hypertension OR = 6,10 (2,73 < CI : 95% <13,61), hypercholesterol OR = 8,66 (3,74 < CI : 95% < 20,05), obesity OR = 2,25 (2,08 < CI : 95% < 4,67), smoking OR = 2,75 (1,20 < CI : 95% < 6,33), and family hystory OR = 5,06 (1,58 < CI : 95% < 10,21). On the other hand the insignificant variable is lack of exercisesbut it is risky. Based on multivariate analysis, it is found that hypercholesterol the most significant factors affecting coronary heart disease at Dr. Wahidin Sudirohusodo Public Hospital.
Recomendation The community should consuming low cholesterol and lead a healthy life by doing sports and not smoking.
Key words : Coronary Heart Disease, cholesterol, obesity, smoking, exercise, and family hystory.

Laporan Magang Epidemiologi di PKM Layang Makasar 2009


ABSTRAK LAPORAN AKHIR MAGANG EPIDEMIOLOGI UNIVERSITAS HASANUDDIN FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT BAGIAN EPIDEMIOLOGI DIAH UTAMI & FRANS NANLOHY “LAPORAN AKHIR MAGANG EPIDEMIOLOGI PUSKESMAS LAYANG KEL. LAYANG KEC. BONTOALA KOTA MAKASSAR 5-19 JANUARI TAHUN 2009” Indonesia mengalami beban ganda (double burden) karena terjadi peningkatan kematian akibat penyakit tidak menular sementara penyakit menular masih menjadi masalah kesehatan (Bustam, 2000). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pola penyakit, gambaran pelaksanaan sistem surveilans, gambaran epidemiologi ISPA, diare, dan hipertensi di Puskesmas Layang kecamatan bontoala kota makassar tahun 2006-2008. Metode penelitian adalah survey khusus dengan pendekatan deskriptif. seluruh pasien yang datang berkunjung di Puskesmas Layang tahun 2006-2008. Sampel adalah seluruh pasien yang datang berkunjung di Puskesmas Layang tahun 2006-2008. Data yang sudah dikumpulkan diolah menggunakan sistem komputerisasi dengan program fox base dan Excel dan hasilnya dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pada tahun 2006 dan 2007, penyakit dengan jumlah terbesar adalah ISPA, pada tahun 2008 adalah penyakit lain pada saluran pernafasan bagian atas. Sistem survelans ISPA, diare dan hipertensi di puskemas berjalan dengan cukup baik, walaupun masih terdapat kekurangan. Sedangkan dilihat distribusi penderita ISPA, diare dan hipertensi berdasarkan orang, tempat, dan waktu didapatkan bahwa pada kejadian ISPA, karakteristik penderita yang paling banyak adalah anak berumur 1-4 tahun, berjenis kelamin laki-laki, bertempat tinggal di Kelurahan Layang, dan terjadi pada bulan februari dan maret. Pada kejadian diare, karakteristik penderita yang paling banyak adalah anak berumur 1-4 tahun, berjenis kelamin laki-laki, bertempat tinggal di Kelurahan Layang, dan terjadi pada bulan Oktober. Pada kejadian hipertensi, karakteristik penderita yang paling banyak adalah kelompok umur 60-69 tahun dengan jumlah yang semakin meningkat setiap tahunnya. Berdasarkan data yang ditemukan di puskesmas Layang, tidak ada kematian akibat penyakit ISPA, diare dan hipertensi pada tahun 2006-2008. Perlu diberikan perhatian khusus pada kelompok umur 1-4 tahun dan 60-69 tahun untuk menurunkan angka kejadian penyakit ISPA, diare dan hipertensi pada kelompok umur tersebut. Perlu penambahan petugas kesehatan di Puskesmas Layang, agar pencatatan penyakit dapat dilakukan secara maksimal. Perlu dilakukan antisipasi dalam bentuk kegiatan penyuluhan dalam menghadapi perubahan musim. Perlu dilakukan kegiatan pelatihan bagi petugas untuk peningkatan keterampilan petugas dalam melakukan pengolahan data dan penggunaan komputer dalam pencatatan dan pengolahan data. Meningkatkan kemampuan petugas dalam pencatatan angka kematian sehingga seluruh kematian dapat terdeteksi. Kata kunci : Surveilans, Gambaran epidemiologi, ISPA, diare, hipertensi.

Laporan Magang Surveilens Epidemiologi FKM Unhas di PKM Rappokalling


LAPORAN MAGANG SURVEILANS EPIDEMIOLOGI
PENYAKIT HIPERTENSI DAN DIARE PUSKESMAS RAPPOKALLING

(Andi Nur Utami1, Diah Dwi Pratiwi1)
1 Mahasiswa Jurusan Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masayarakat Universitas Hasanuddin

Abstrak : Kegiatan Magang merupakan suatu proses belajar untuk mendapatkan kemampuan profesional kesehatan masyarakat yang didapatkan selain melalui Pengalaman Belajar Ceramah (PBC) dan Pengalaman Belajar Praktek (PBP). Rangkaian kegiatan yang dilaksanakan dalam magang harus memungkinkan dapat ditumbuhkan serta dibinanya sikap dan kemampuan pada mahasiswa sesuai dengan tujuan pendidikan yang dirumuskan. Tujuan magang surveilans ini yakni untuk melihat gambaran surveilans penyakit hipertensi dan diare puskesmas Rappokalling pada tahun 2006-2008 menurut komponen Surveilans, menurut atribut Surveilans, menurut orang, waktu dan tempat.
Surveilans epidemiologi merupakan suatu kegiatan yang berkesinambungan, sistematik dan teratur untuk mengetahui adanya distribusi suatu penyakit atau masalah kesehatan serta faktor yang mempengaruhi terjadinya penyakit atau masalah kesehatan tersebut, mengetahui besarnya serta menentukan upaya untuk mengatasi masalah tersebut (Halpe in Baker, 1992, Thacker , 1994 ).
Hipertensi adalah tekanaan sistolik > mmHg dan tekanan diastolic > 90 mmHg secara kronik. Hipertensi sering dijumpai pada individu diabetes mellitus (DM) dimana diperkirakan prevalensinya mencapai 50-70%. Modifikasi gaya hidup sangat penting dalam mencegah tekanan darah tinggi dan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam mengobati tekanan darah tinggi. Merokok adalah faktor risiko utama untuk mobilitas dan mortalitas Kardiovaskuler. Di Indonesia banyaknya penderita Hipertensi diperkirakan 15 juta orang tetapi hanya 4% yang merupakan hipertensi terkontrol. Prevalensi 6-15% pada orang dewasa, 50% diantaranya tidak menyadari sebagai penderita hipertensi sehingga mereka cenderung untuk menjadi hipertensi berat karena tidak menghindari dan tidak mengetahui factor risikonya, dan 90% merupakan hipertensi esensial.Saat ini penyakit degeneratif dan kardiovaskuler sudah merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Hasil survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1972, 1986, dan 1992 menunjukkan peningkatan prevalensi penyakit kardiovaskuler yang menyolok sebagai penyebab kematian dan sejak tahun 1993 diduga sebagai penyebab kematian nomor satu. Diare adalah penyakit yang ditandai dengan bertambahnya frekuensi defekasi lebih dari biasanya (>3 kali/hari) disertai perubahan konsistensi tinja (menjadi cair), dengan/tanpa darah dan/atau lendir. Diare terbagi atas diare akut dan diare kronik (Suraatmaja, 2005:1).
Key words: Surveilans epidemiologi, Hipertensi, Diare