surveilans HIV dan AIDS


 

 

 

 

 

 

MODUL SURVEILANS HIV DAN AIDS

 

 

 

RIDWAN AMIRUDDIN

 

 

  KPAN 2013


                                   

Contents

I.     DESKRIPSI SINGKAT.. 3

II.        TUJUAN PEMBELAJARAN.. 5

III.       POKOK BAHASAN.. 5

IV.      BAHAN BELAJAR.. 5

V.    LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN.. 5

VI. URAIAN MATERI 8

1.    Konsep Surveilans HIV dan AIDS.. 8

2.    Metode surveilans. 12

3.    Karakteristik data HIV dan AIDS. 19

4.    Manfaat hasil surveilens dalam pengambilan keputusan. 23

5.    RANGKUMAN : 25

DAFTAR SINGKATAN.. 26

VII.     DAFTAR PUSTAKA.. 27

 


                                         

 

I.    DESKRIPSI SINGKAT

Surveilans kesehatan masyarakat adalah pengumpulan, analisis, dan analisis data secara terus menerus dan sistematis yang kemudian didiseminasikan (disebarluaskan) kepada pihak-pihak yang bertanggungjawab dalam pencegahan penyakit dan masalah kesehatan lainnya (DCP2, 2008).

Surveilans memantau terus-menerus kejadian dan kecenderungan penyakit, mendeteksi dan memprediksi outbreak pada populasi, mengamati faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit, seperti perubahan-perubahan biologis pada agen, vektor, dan reservoir. Selanjutnya surveilans menghubungkan informasi tersebut kepada pembuat keputusan agar dapat dilakukan langkah-langkah pencegahan dan pengendalian penyakit (Last, 2001). Kadang digunakan istilah surveilans epidemiologi. Baik surveilans kesehatan masyarakat maupun surveilans epidemiologi hakikatnya sama saja, sebab menggunakan metode yang sama, dan tujuan epidemiologi adalah untuk mengendalikan masalah kesehatan masyarakat, sehingga epidemiologi dikenal sebagai sains inti kesehatan masyarakat (core science of public health).

Surveilans menurut WHO menjelaskan bahwa surveilans dapat diartikan sebagai aplikasi metodologi dan teknik epidemiologi yang tepat untuk mengendalikan penyakit.

Penjelasan tentang pola penyakit yang sedang berlangsung  dapat diuraikan beberapa contoh kegiatan yang dilakukan sebagai berikut:

  1. Melakukan deteksi perubahan akut dari penyakit yang terjadi dan distribusinya.
  2. Melakukan identifikasi dan perhitungan trend dan pola penyakit menurut frekuensi kejadiannya.
  3. Melakukan identifikasi faktor risiko dan penyebab lainnya, seperti vektor yang dapat menyebabkan penyakit di kemudian hari.
  4. Mendeteksi perubahan pelayanan kesehatan  yang terjadi di masyarakat.

Penggunaan data untuk evaluasi serta pengendalian dan pencegahan penyakit dapat berkaitan dengan hal-hal sebagai berikut:

  1. Beberapa informasi tentang penyakit menstimulasi untuk pelaksanaan riset lebih lanjut tentang proses terjadinya penyakit, misalnya sumber-sumber penyebab penyakit memungkinkan untuk dieksplorasi secara mendalam.
  2. Informasi tentang pola penyakit dan kecenderungannya sangat penting untuk perencanaan pelayanan kesehatan dimasa mendatang karena dapat dijadikan landasan yang kokoh dalam pengambilan keputusan.
  3. Evaluasi dan tindakan pencegahan, misalnya evaluasi terhadap program vaksinasi.

Dalam upaya mempelajari riwayat alamiah penyakit (natural history of disease) dan epidemiologi penyakit, khususnya untuk mendeteksi epidemi penyakit melalui pemahaman riwayat penyakit, dapat membantu beberapa hal sebagai berikut:

  1. Membantu menyusun hipotesis untuk dasar pengambilan keputusan dalam intervensi kesehatan masyarakat.
  2. Membantu untuk mengindetifikasi penyakit untuk keperluan penelitian epidemiologi.
  3. Mengevaluasi program-program pencegahan dan pengendalian penyakit.
  4. Memberikan informasi dan data untuk memproyeksikan kebutuhan pelayanan kesehatan dimasa mendatang.

 

II.  TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. A.    Tujuan Pembelajaran Umum

Setelah mengikuti materi ini, peserta mampu menjelaskan konsep surveilans HIV dan AIDS

  1. B.    Tujuan Pembelajaran Khusus

Setelah mengikuti materi ini, peserta mampu:

  1. Menjelaskan surveilans HIV dan AIDS
  2. Menjelaskan Metode surveilans
  3. Menjelaskan Karakteristik data Surveilans HIV dan AIDS
  4. Menjelaskan Manfaat hasil surveilans dalam pengambilan keputusan.

III.       POKOK BAHASAN

Dalam modul ini akan dibahas pokok bahasan-pokok bahasan sebagai berikut yaitu :

Pokok Bahasan dan sub pokok bahasan:

  1. Pengertian surveilans HIV dan AIDS
  2. Metode surveilans
  3. Karakteristik data Surveilans HIV dan AIDS
  4. Manfaat hasil surveilans dalam pengambilan keputusan.

IV.          BAHAN BELAJAR

  1. Modul surveilans .
  2. Petunjuk diskusi kelompok.

 

V. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN

Agar proses pembelajaran dapat berhasil secara efektif, maka perlu disusun langkah-langkah pembelajaran sebagai berikut :

A. Langkah 1 : Penyiapan Proses pembelajaran

  1. Kegiatan Fasilitator
  2. Fasilitator memulai kegiatan dengan melakukan bina suasana dikelas
  3. Fasilitator menyapa peserta dengan ramah dan hangat.
  4. Apabila belum pernah menyampaikan sesi di kelas mulailah dengan memperkenalkan diri, Perkenal kan diri dengan menyebutkan nama lengkap, instansi tempat bekerja, materi yang akan disampaikan.
  5. Menggali pendapat pembelajar (apersepsi) tentang apa yang dimaksud dengan pelayanan prima dengan metode curah pendapat (brainstorming).
  6. Menyampaikan ruang lingkup bahasan dan tujuan pembelajaran tentang pelayanan prima yang sebaiknya dengan menggunakan bahan tayang.
  7. Kegiatan Peserta
  8. Mempersiapkan diri dan alat tulis yang diperlukan
  9. Mengemukakan pendapat atas pertanyaan fasilitator
  10. Mendengar dan mencatat hal-hal yang dianggap penting
  11. d.   Mengajukan pertanyaan kepada fasilitator bila ada hal-hal yang belum jelas dan perlu diklarifikasi.

B. Langkah 2 : Review pokok bahasan

1. Kegiatan Fasilitator

  1. Menyampaikan Pokok Bahasan dan sub pokok bahasan 1 sampai dengan 4 secara garis besar dalam waktu yang singkat
  2. Memberikan kesempatan kepada pembelajar untuk menanyakan hal-hal yang kurang jelas
  3. Memberikan jawaban jika ada pertanyaan yang diajukan peserta
  4. Kegiatan Peserta
  5. Mendengar, mencatat dan menyimpulkan hal-hal yang dianggap penting
  6. Mengajukan pertanyaan kepada fasilitator sesuai dengan kesempatan yang diberikan
  7. Memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan fasilitator.

C. Langkah 3 : Pendalaman pokok bahasan

  1. Kegiatan Fasilitator
  2. Meminta kelas dibagi menjadi beberapa kelompok (4 kelompok) dan setiap kelompok akan diberikan tugas diskusi kelompok.
  3. Menugaskan kelompok untuk memilih ketua, sekretaris dan penyaji.
  4. Meminta masing-masing kelompok untuk menuliskan hasil dikusi untuk disajikan.
  5. Mengamati peserta dan memberikan bimbingan pada proses diskusi.
  6. 2.    Kegiatan Peserta
  7. Membentuk kelompok diskusi dan memilih ketua, sekretaris dan penyaji.
  8. Mendengar, mencatat dan bertanya pada hal-hal yang kurang jelas pada fasilitator.
  9. Melakukan proses diskusi sesuai dengan pokok bahasan / sub pokok bahasan yang ditugaskan dan menuliskan hasil dikusi untuk disajikan.

D. Langkah 4 : Penyajian dan pembahasan hasil pendalaman pokok bahasan dikaitkan dengan situasi dan kondisi di tempat tugas.

  1. 1.   Kegiatan Fasilitator

a. Meminta masing-masing kelompok diminta untuk mempresentasikan  hasil diskusi

b. Memimpin proses tanggapan (tanya jawab)

  1. Memberikan masukan khususnya dikaitkan dengan situasi dan kondisi di daerah kerja

d. Merangkum hasil diskusi

  1. 2.   Kegiatan Peserta

a. Mengikuti proses penyajian kelas

b. Berperan aktif dalam proses tanya jawab yang dipimpin oleh fasilitator

  1. Bersama fasilitator merangkum hasil presentasi masing – masing pokok bahasan yang dikaitkan dengan  situasi dan kondisi di daerah kerja.

E. Langkah 5 : Rangkuman dan evaluasi hasil belajar

  1. 1.    Kegiatan Fasilitator

a. Mengadakan evaluasi dengan melemparkan 3 pertanyaan sesuai topik pokok bahasan

b. Memperjelas jawaban peserta terhadap masing – masing pertanyaan

c. Bersama peserta merangkum poin-poin penting dari hasil proses pembelajaran koordinasi lintas program dan lintas sektor.

d. Membuat kesimpulan.

  1. 2.    Kegiatan Peserta

a. Menjawab pertanyaan yang diajukan fasilitator.

b. Bersama fasilitator merangkum hasil proses pembelajaran koordinasi lintas program dan lintas sektor.

VI. URAIAN MATERI

1.    Konsep Surveilans HIV dan AIDS

1). Dasar surveilans

a). Tujuan dari surveilans AIDS ini adalah memberikan suatu data terhadap pelayanan kesehatan di Indonesia agar melakukan suatu perencanaan, pelaksanaan dan pemantauan terhadap penanggulangan AIDS di Indonesia. Sedangakn definisi kasus AIDS guna keprluan surveilans sendiri adalah seseorang yang HIV positif dan didapatkan minimal 2 tanda mayaor seperti diare kronis selama 1 bulan, berat badan menurun lebih dari 10% dalam 1 bulan, demam berkepanjangan, dll disertai dengan 1 tanda minor yaitu seperti salah satunya batuk menetap selama kuarang lebih 1 bulan dan dermatitis generalisata yang disertai sensasi gatal.

b).      Prosedur pemeriksaan darah untuk penderita AIDS adalah yang pertama harus mengisi informed consent yang artinya ketersediaan subjek untuk diambil darahnya kemudian diberikan konseling sebelum serta sesudah test terhadap subjek dan yang terpenting harus rahasia agar subjek yag diambil darahnya merasa nyaman dan tidak timbul rasa khawatir misalnya tidak di beri nama bisa langsung nama kota atau nama samara saja.

c).      Cara pencatatan kasus surveilans AIDS yaitu yang pertama malakukan pemeriksaan fisik terhadap penderita yang mencurigakan terkena AIDS seperti terdapat 2 tanda mayor serta 1 tanda minor, kedua yaitu pemeriksaan laboratorium untuk menguatkan dugaan terhadap penderita, selanjutnya pemeriksaan laboratorium akan menghasilkan data apakah penderita positif AIDS atau tidak. Apabila penderita positif menderita AIDS maka wajib mengisi formuir penderita AIDS agar semua kasus dapat dilaporkan baik yang sudah meninggal atau yang masih hidup, untuk yang sudah meninggal meskipun sebelumnya sudah lapor pada saat meninggal juga wajib lapor, karena penguburan mayat positif AIDS berbeda dengan yang biasa.

d).      Pelaporan kasus surveilans AIDS yaitu dengan menggunakan formulir dari laporan penderita positif AIDS yang kemudian laporan kasus ini dikirim secepatnya tanpa menunggu suatu periode waktu dan harus dilaporkan pada saat menemukan penderita positif AIDS bisa melalui fax atau email untuk sementara tetapi kemudian disusul dengan data secara tertulis.

2). Surveilans Sentinel HIV

a)    Pengertiannya adalah melakukan kegiatan untuk menganalisis secara terus menerus untuk menurunkan risiko terjadinya peningkatan serta penularan HIV  dengan menggunakan populasi sentinel atau kelompok tertentu pada lokasi tertentu untuk memantau prevalensi penyakit tertentu seperti HIV misalanya pada tempat lokalisasa atau pada kelompok berisiko tertentu yaitu seperti  PSK, pengguna NAPZA dan waria agar dapat melakukan pencegahan dan penanggulangn HIV serta memberikan informasi terhadap pelayanan kesehatan.

b)    Tujuan surveilans sentinel HIV sendiri adalah melakukan pemeriksaan seroprevalens HIV pada kelompok risiko pada klinik, kemudian memantaun kecenderungan infeksi HIV serta dampak dari pemberian program pada kelompok tersebut. menyediakan data tentang proyeksi kasus HIV/AIDS di Indonesia berdasarkan kegiatan analisis dan menyediakan informasi untuk perencanaan pencegahan dan penanggulangan terhadap pelayanan kesehatan.

c)    Tes HIV dilakukan tanpa memberikan identitas dengan menggunakan kode tertentu yng tidak dapat dikaitkan dengan subjek yang diambil darahnya, misalnya menggunakan nama kotanya saja atau nama samaran, yang tidak ada kaitannya dengan subjek agar dapat menjaga kerahasiaan, karena penderita HIV/ AIDS sekarang cebderung terdiskriminasi dan dikucilkan dari kelompok yang lainnya karena dianggap sebagai penyakit kutukan dari tuhan terhadap balasan apa yang telah diperbuat, dan itu persepsi yang salah karena penularan HIV/AIDS tidak hanya karena perilaku seks dengan berganti-ganti pasangan tetapi bisa saja dari pisau cukur yang sebelumnya di gunakan oleh penderita HIV/ AIDS, atau mendapatkan donor darah dari penderita HIV/ AIDS yang tidak ada sangkut pautnya dengan hubungan seks.

3). Survei Surveilans perilaku

Tujuan survey surveilans perilaku yaitu melakukan pemantuan terhadap perilaku seksual dari kelomok berisiko dari waktu ke waktu untuk menyediakan informasi guna menilai efektifitas dari upaya pencegahan yang telah dilakukan serta mengembangkan program selanjutya. Peranan dari surveilans perilaku ini adalah sebagai sitem peringatan dini, perencanaan suatu program pencegahan dan penanggulangan dan membantu evaluasi program serta membantu menjelaskan perubahan suatu prevalensi. Prinsip dari pelaksanaan surveilans perilaku sama dengan surveilans HIV yaitu survei yang dilakukan berulang untuk mengumpulkan data tentang perilaku terhadap populasi berisiko tertular seperti PSK, waria, pengguna NAPZA suntik dll.

4).    Surveilans Generasi Kedua

Surveilans ini lebih mementingkan penggunaan data mengenai perilaku terhadap suatu populasi, yang potensial tertular HIV/AIDS sebagai informasi dan menjelaskan tren HIV pada pada suatu populasi. Surveilans generasi kedua ini merupakan penggabungan dari surveilans biologis dan surveilans perilaku, informasi yang penting didapatkan dari surveilans generasi kedua ini adalah perilaku suatu populasi yang berisiko tertular HIV sebagai system kewaspadaan dini, kemudian mengambil informasi dari perilaku populasi berisiko tinggi untuk membuat suatu program agar terpusat dan tepat pada sasaran, serta mendapatkan informasi terhadap perilaku apa saja yang bisa di ubah untuk mencegah penularan, dan melakukan pengamatan perilaku suatu populasi yang sudah diberikan program kemudian di evaluasi hasilnya apakah perilaku populasi tersebut berubah yang artinya perilalku tersebut dapat menurunkan prevalensi HIV pada populasi itu.

2.      Metode surveilans

Dalam surveilans epidemiologi, kita mengenal adanya surveilans epidemiologi penyakit menular, surveilans epidemiologi penyakit tidak menular, surveilans epidemiologi penyakit infeksi, surveilans epidemiologi penyakit akut dan surveilans epidemiologi penyakit kronis. Terdapat beberapa persamaan dan perbedaan secara konseptual antara kegiatan surveilans epidemiologi penyakit akut dan kronis:

Ruang lingkup surveilans epidemiologi menurut tempatnya dapat dibedakan menjadi 2, yaitu surveilans epidemiologi dalam masyarakat dan surveilans epidemiologi di rumah sakit.

  1. Surveilans epidemiologi dalam masyarakat

Surveilans epidemiologi ini dilakukan pada suatu wilayah administrasi atau pada kelompok populasi tertentu. Dengan analisis secara teratur berkesinambungan terhadap data yang dikumpulkan mengenai kejadian kesakitan atau kematian, dapat memberikan kesempatan lebih mengenal kecenderungan penyakit menurut variabel yang diteliti. Variabel tersebut diantaranya adalah distribusi penyakit menurut musim atau periode waktu tertentu, mengetahui daerah geografis dimana jumlah kasus/penularan meningkat atau berkurang, serta berbagai kelompok risiko tinggi menurut umur, jenis kelamin, ras, agama, status sosial ekonomi serta pekerjaan.

Tabel 1 Surveilans Penyakit Akut dan Kronis

Karakteristik Umum Surveilans Epidemiologi Penyakit Akut Surveilans Epidemiologi Penyakit Kronis
Maksud dan tujuan

–    Monitor kecenderungan

–    Menguraikan masalah dan estimasi beban penyakit

–    Mengarahkan dan evaluasi  program pengendalian dan pencegahan penyakit

Monitor perubahan atau variasi mingguan dan bulanan Monitor perubahan dari tahun ke tahun
Data

–    Rutin atau berkala

Tergantung pelaporan oleh petugas kesehatan dan laboratorium Lebih menggantungkan pada data basis diluar petugas kesehatan, termasuk dari rumah sakit, registrasi penduduk, dsb
Analisis data Statistika deskriptif untuk orang, tempat dan waktu Menekankan jumlah kasus atau penderita Menekankan pada angka-angka statistik misalnya “rate”
Penyebarluasan data dan informasi Rutin, frekuensinya seiring dengan periode pelaporan Lebih sering Relatif lebih jarang
  1. Surveilans epidemiologi di rumah sakit

Saat ini penderita penyakit menular yang dirawat d rumah sakit jumlahnya masih cukup besar. Suatu keadaan khusus dimana faktor lingkungan, secara bermakna dapat mendukung terjadinya risiko meendapatkan penyakit infeksi, sehingga tekhnik surveilans termasuk kontrol penyakit pada rumah sakit rujukan pada tingkat propinsi dan regional memerlukan perlakuan tersendiri. Pada rumah sakit tersebut, terdapat beberapa penularan penyakit dan dapat menimbulkan infeksi nosokomial. Selain itu, rumah sakit mungkin dapat menjadi tempat berkembangbiaknya serta tumbuh suburnya berbagai jenis mikro-organisme.

Untuk mengatasi masalah penularan penyakit infeksi di rumah sakit maka telah dikembangkan sistem surveilans epidemiologi yang khusus dan cukup efektif untuk menanggulangi kemungkinan terjadinya penularan penyakit (dikenal dengan infeksi nosokomial) di dalam lingkungan rumah sakit.

Tabel  2: Macam-macam metoda surveilans untuk mengukur prevalensi infeksi HIV
Metoda surveilans Survei periodik (khusus) Metoda sentinel Data dari layanan rutin
Deskripsi Survei sero-prevalensi HIV cross-sectional dalam suatu negara. sistem surveilans sentinel HIV secara umum pada suatu wilayah, atau Data dikumpulkan dari layanan rutin pasien yang dites HIV secara sukarela dan rahasia. Jika kasus HIV meningkat pada populasi umum, negara harus melakukan tes HIV pada semua pasien tuberkulosis. Negara dengan keadaan epidemi HIV generalised harus menjamin bahwa tes HIV secara aktif dipromosikan dan ditawarkan kepada semua pasien tuberkulosis.
Tujuan pokok • Metoda ini sebaiknya digunakan jika prevalensi sebelumnya tidak diketahui. Tujuannya untuk memberikan estimasi point.• Sistem ini juga dapat digunakan di negara yang sudah ada sistem surveilansnya berdasarkan data dari layanan rutin pasien, untuk •  Informasi ini berguna dalam merencanakan, melaksanakan dan memantau program kesehatan masyarakat untuk pencegahan dan pengendalian .• Estimasi prevalensi secara rutin juga dapat digunakan untuk, identifikasi secara dini daerah dimana program testing HIV harus dilaksanakan. • Tujuan utama adalah memberikan informasi yang bermanfaat untuk perencanaan, pelaksanaan dan monitoring program pencegahan dan pengendalian

Jenis Surveilans

Dikenal beberapa jenis surveilans: (1) Surveilans individu; (2) Surveilans penyakit; (3) Surveilans sindromik; (4) Surveilans Berbasis Laboratorium; (5) Surveilans terpadu; (6) Surveilans kesehatan (Murti,2010).

1. Surveilans Individu

Surveilans individu (individual surveillance) mendeteksi dan memonitor individu-individu yang mengalami kontak dengan penyakit serius, misalnya pes, cacar, tuberkulosis, tifus, demam kuning, sifilis. Surveilans individu memungkinkan dilakukannya isolasi institusional segera terhadap kontak,sehingga penyakit yang dicurigai dapat dikendalikan. Sebagai contoh, karantina merupakan isolasi institusional yang membatasi gerak dan aktivitas orang-orang atau binatang yang sehat tetapi telah terpapar oleh suatu kasus penyakit menular selama periode menular. Tujuan karantina adalah mencegah transmisi penyakit selama masa inkubasi seandainya terjadi infeksi (Last, 2001).

Isolasi institusional pernah digunakan kembali ketika timbul AIDS 1980an dan SARS. Dikenal dua jenis karantina: (1) Karantina total; (2) Karantina parsial. Karantina total membatasi kebebasan gerak semua orang yang terpapar penyakit menular selama masa inkubasi, untuk mencegah kontak dengan orang yang tak terpapar. Karantina parsial membatasi kebebasan gerak kontak secara selektif, berdasarkan perbedaan tingkat kerawanan dan tingkat bahaya transmisi penyakit. Contoh, anak sekolah diliburkan untuk mencegah penularan penyakit campak, sedang orang dewasa diperkenankan terus bekerja. Satuan tentara yang ditugaskan pada pos tertentu dicutikan, sedang di pospos lainnya tetap bekerja. Dewasa ini karantina diterapkan secara terbatas, sehubungan dengan masalah legal, politis, etika, moral, dan filosofi tentang legitimasi, akseptabilitas, dan efektivitas langkah-langkah pembatasan tersebut untuk mencapai tujuan kesehatan masyarakat (Bensimon dan Upshur, 2007).

2. Surveilans Penyakit

Surveilans penyakit (disease surveillance) melakukan pengawasan terus-menerus terhadap distribusi dan kecenderungan insidensi penyakit, melalui pengumpulan sistematis, konsolidasi, evaluasi terhadap laporan-laporan penyakit dan kematian, serta data relevan lainnya. Jadi fokus perhatian surveilans penyakit adalah penyakit, bukan individu. Di banyak negara, pendekatan surveilans penyakit biasanya didukung melalui program vertikal (pusat-daerah). Contoh, program surveilans tuberkulosis, program surveilans malaria. Beberapa dari sistem surveilans vertikal dapat berfungsi efektif, tetapi tidak sedikit yang tidak terpelihara dengan baik dan akhirnya kolaps, karena pemerintah kekurangan biaya. Banyak program surveilans penyakit vertikal yang berlangsung paralel antara satu penyakit dengan penyakit lainnya, menggunakan fungsi penunjang masing-masing, mengeluarkan biaya untuk sumberdaya masingmasing, dan memberikan informasi duplikatif, sehingga mengakibatkan inefisiensi.

3. Surveilans Sindromik

Syndromic surveillance (multiple disease surveillance) melakukan pengawasan terus-menerus terhadap sindroma (kumpulan gejala) penyakit, bukan masing-masing penyakit. Surveilans sindromik mengandalkan deteksi indikator-indikator kesehatan individual maupun populasi yang bisa diamati sebelum konfirmasi diagnosis. Surveilans sindromik mengamati indikator-indikator individu sakit, seperti pola perilaku, gejala-gejala, tanda, atau temuan laboratorium, yang dapat ditelusuri dari aneka sumber, sebelum diperoleh konfirmasi laboratorium tentang suatu penyakit. Surveilans sindromik dapat dikembangkan pada level lokal, regional, maupun nasional. Sebagai contoh, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menerapkan kegiatan surveilans sindromik berskala nasional terhadap penyakit-penyakit yang mirip influenza (flu-like illnesses) berdasarkan laporan berkala praktik dokter di AS. Dalam surveilans tersebut, para dokter yang berpartisipasi melakukan skrining pasien berdasarkan definisi kasus sederhana (demam dan batuk atau sakit tenggorok) dan membuat laporan mingguan tentang jumlah kasus, jumlah kunjungan menurut kelompok umur dan jenis kelamin, dan jumlah total kasus yang teramati. Surveilans tersebut berguna untuk memonitor aneka penyakit yang menyerupai influenza, termasuk flu burung, dan antraks, sehingga dapat memberikan peringatan dini dan dapat digunakan sebagai instrumen untuk memonitor krisis yang tengah berlangsung (Mandl et al., 2004; Sloan et al., 2006). Suatu sistem yang mengandalkan laporan semua kasus penyakit tertentu dari fasilitas kesehatan, laboratorium, atau anggota komunitas, pada lokasi tertentu, disebut surveilans sentinel.

Pelaporan sampel melalui sistem surveilans sentinel merupakan cara yang baik untuk memonitor masalah kesehatan dengan menggunakan sumber daya yang terbatas (DCP2, 2008; Erme dan Quade, 2010).

4. Surveilans Berbasis Laboratorium

Surveilans berbasis laboartorium digunakan untuk mendeteksi dan menonitor penyakit infeksi. Sebagai contoh, pada penyakit yang ditularkan melalui makanan seperti salmonellosis, penggunaan sebuah laboratorium sentral untuk mendeteksi strain bakteri tertentu memungkinkan deteksi outbreak penyakit dengan lebih segera dan lengkap daripada sistem yang mengandalkan pelaporan sindroma dari klinik-klinik (DCP2, 2008).

5. Surveilans Terpadu

Surveilans terpadu (integrated surveillance) menata dan memadukan semua kegiatan surveilans di suatu wilayah yurisdiksi (negara/ provinsi/ kabupaten/ kota) sebagai sebuah pelayanan publik bersama. Surveilans terpadu menggunakan struktur, proses, dan personalia yang sama, melakukan fungsi mengumpulkan informasi yang diperlukan untuk tujuan pengendalian penyakit. Kendatipun pendekatan surveilans terpadu tetap memperhatikan perbedaan kebutuhan data khusus penyakitpenyakit tertentu (WHO, 2001, 2002; Sloan et al., 2006). Karakteristik pendekatan surveilans terpadu: (1) Memandang surveilans sebagai pelayanan bersama (common services); (2) Menggunakan pendekatan solusi majemuk; (3) Menggunakan pendekatan fungsional, bukan struktural; (4) Melakukan sinergi antara fungsi inti surveilans (yakni, pengumpulan, pelaporan, analisis data, tanggapan) dan fungsi pendukung surveilans (yakni, pelatihan dan supervisi, penguatan laboratorium, komunikasi, manajemen sumber daya); (5) Mendekatkan fungsi surveilans dengan pengendalian penyakit. Meskipun menggunakan pendekatan terpadu, surveilans terpadu tetap memandang penyakit yang berbeda memiliki kebutuhan surveilans yang berbeda (WHO, 2002).

 

 

 

6. Surveilans Kesehatan Masyarakat Global

Perdagangan dan perjalanan internasional di abad modern, migrasi manusia dan binatang serta organisme, memudahkan transmisi penyakit infeksi lintas negara. Konsekunsinya, masalah-masalah yang dihadapi negara-negara berkembang dan negara maju di dunia makin serupa dan bergayut. Timbulnya epidemi global (pandemi) khususnya menuntut dikembangkannya jejaring yang terpadu di seluruh dunia, yang manyatukan para praktisi kesehatan, peneliti, pemerintah, dan organisasi internasional untuk memperhatikan kebutuhan-kebutuhan surveilans yang melintasi batas-batas negara. Ancaman aneka penyakit menular merebak pada skala global, baik penyakit-penyakit lama yang muncul kembali (re-emerging diseases), maupun penyakit-penyakit yang baru muncul (new emerging diseases), seperti HIV/AIDS, flu burung, dan SARS. Agenda surveilans global yang komprehensif melibatkan aktor-aktor baru, termasuk pemangku kepentingan pertahanan keamanan dan ekonomi (Calain, 2006; DCP2, 2008).

3.      Karakteristik data HIV dan AIDS

Berdasarkan data resmi Kementerian Kesehatan, sekitar 26. 400 pengidap AIDS dan 66. 600 pengidap HIV positif di Indonesia tahun 2011 ini, lebih dari 70 persen di antaranya adalah generasi muda usia produktif yang berumur di antara 20- 39 tahun. Angka ini belum mencerminkan data yang sesungguhnya, karena AIDS merupakan fenomena gunung es, di mana yang terlihat hanya sekitar 20 persen saja, sedangkan yang tidak diketahui jumlahnya akan lebih banyak. Saat ini Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) yang mengetahui diri mereka terinfeksi HIV hanya sekitar 20 persen. Dengan kata lain, 8 dari 10 ODHA tidak mengetahui bahwa diri mereka sudah terinveksi HIV, dan bisa menularkan virus tersebut kepada orang lain. Hal ini turut andil meningkatkan kasus HIV di Indonesia. Pengidap HIV bukan hanya kelompok resiko tinggi saja, tetapi juga dari keluarga dan masyarakat biasa, termasuk ibu-ibu rumah tangga. Oleh karena, sangat penting untuk melakukan deteksi dini infeksi HIV. Deteksi dini dapat dilakukan melalui konseling dan testing secara sukarela bagi mereka yang memiliki perilaku dengan resiko tinggi tertular HIV, sebagai upaya pencegahan agar tidak terinfeksi
HIV. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah dalam menanggulangi masalah HIV dan AIDS. Tetapi epidemi HIV dan AIDS terus saja berlanjut seiring dengan maraknya pemakaian narkoba di Indonesia.

Di beberapa provinsi di Indonesia sudah terjadi epidemi yang terkonsentrasi, di mana kelompok populasi yang beresiko terkena HIV mencapai lebih dari 5 persen. Bahkan di Provinsi Papua, ada kecenderungan generalized epidemic, di mana masyarakat umum sudah terinfeksi lebih dari 2 persen, dengan rata-rata kasus 180,69. Artinya, terdapat 180 orang terinfeksi HIV pada setiap 100 ribu penduduk di Papua.

Analisis Data HIV dan AIDS

4.      Manfaat hasil surveilens dalam pengambilan keputusan

Informasi kesehatan yang berasal dari data dasar pola penyakit sangat penting untuk menyusun perencanaan dan untuk mengevaluasi hasil akhir dari intervensi yang telah dilakukan. Semakin kompleksnya proses pengambilan keputusan dalam bidang kesehatan masyarakat, memerlukan informasi yang cukup handal untuk mendeteksi adanya perubahan-perubahan yang sistematis dan dapat dibuktikan dengan data (angka).

Keuntungan

Keuntungan dari kegiatan surveilans epidemiologi disini dapat juga diartikan sebagai kegunaan surveilans epidemiologi, yaitu :

  1. Dapat menjelaskan pola penyakit yang sedang berlangsung yang dapat dikaitkan dengan tindakantindakan/intervensi kesehatan masyarakat.

Dalam rangka menguraikan pola kejadian penyakit yang sedang berlangsung, contoh kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut :

  1. Deteksi perubahan akut dari penyakit yang terjadi dan distribusinya
  2. Identifikasi dan perhitungan trend dan pola penyakit
  3. Identifikasi dan faktor risiko dan penyebab lainnya, seperi vektor yang dapat menyebabkan sakit dikemudian hari
  4. Deteksi perubahan pelayanan kesehatan  yang terjadi
  5. Dapat melakukan monitoring kecenderungan penyakit endemis
  6. Dapat mempelajari riwayat alamiah penyakit dan epidemiologi penyakit, khususnya untuk mendeteksi adanya KLB/wabah

Melalui pemahaman riwayat penyakit, dapat bermanfaat  sebagai berikut :

  1. Membantu menyusun hipotesis untuk dasar pengambilan keputusan dalam intervensi kesehatan masyarakat
  2. Membantu untuk mengidentifikasi penyakit untuk keperluan penelitian epidemiologi
  3. Mengevaluasi program-program pencegahan dan pengendalian penyakit
  1. Memberikan informasi dan data dasar untuk memproyeksikan kebutuhan pelayanan kesehatan  dimasa mendatang

Data dasar sangat penting untuk menyusun perencanaan dan untuk mengevaluasi hasil akhir intervensi yang diberikan. Dengan semakin kompleksnya pengambilan keputusan dalam bidang kesehatan masyarakat, maka diperlukan data yang cukup handal untuk mendeteksi adanya perubahan-perubahan yang sistematis dan dapat dibuktikan dengan data (angka).

  1. Dapat membantu pelaksanaan dan daya guna program pengendalian khusus dengan membandingkan besarnya masalah sebelum dan sesudah pelaksanaan program.
  2. Membantu menetapkan masalah kesehatan dan prioritas sasaran program pada tahap perencanaan program.

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam membuat prioritas masalah dalam kegiatan surveilans epidemiologi adalah :

  1. Frekuensi kejadian (insidens, prevalens dan mortalitas);
  2. Kegawatan/ Severity (CFR, hospitalization rate, angka kecacatan);
  3. Biaya (biaya langsung dan tidak langsung);
  4. Dapat dicegah (preventability);
  5. Dapat dikomunikasikan (communicability);
  6. f.      Public interest
  7. Mengidentifikasi kelompok risiko tinggi menurut umur, pekerjaan, tempat tinggal dimana masalah kesehatan sering terjadi dan variasi terjadinya dari waktu ke waktu (musiman, dari tahun ke tahun), dan cara serta dinamika penularan penyakit menular.

VII.       RANGKUMAN :

Surveilans berbeda dengan pemantauan (monitoring) biasa. Surveilans dilakukan secara terus menerus tanpa terputus (kontinu), sedang pemantauan dilakukan intermiten atau episodik. Dengan mengamati secara terus-menerus dan sistematis maka perubahan-perubahan kecenderungan penyakit dan faktor yang mempengaruhinya dapat diamati atau diantisipasi, sehingga dapat dilakukan langkah-langkah investigasi dan pengendalian penyakit dengan tepat.

Tujuan dari surveilans AIDS adalah memberikan suatu data terhadap pelayanan kesehatan di Indonesia agar melakukan suatu perencanaan, pelaksanaan dan pemantauan terhadap penanggulangan AIDS di Indonesia. Informasi kesehatan yang berasal dari data dasar pola penyakit sangat penting untuk menyusun perencanaan dan untuk mengevaluasi hasil akhir dari intervensi yang telah dilakukan. Semakin kompleksnya proses pengambilan keputusan dalam bidang kesehatan masyarakat, memerlukan informasi yang cukup handal untuk itu pelaksanakan surveilans yang handal harus dilaksanakan.

 

 


 

 

VIII.DAFTAR  ISTILAH


AIDS Acquired Immuno Deficiency Syndrome
ART Antiretroviral Treatment = Terapi Antiretroviral
ELISA Enzyme-Linked Immunosorbent Assay
HIV Human Immunodeficiency Virus
IDU Injecting Drug Users = Pengguna Napza Suntik
IPT Isoniazid Preventive Therapy = Terapi pencegahan dengan isoniazid (INH)
MSM Men who have Sex with Men = Lelaki suka seks lelaki
NAPZA Narkotika Psikotropika dan Zat Additif lainnya
ODHA Orang dengan HIV/AIDS
PSK Pekerja Seks Komersial
TB Tuberkulosis
TB/HIV Ko-infeksi TB dan HIV
UNAIDS The Joint United Nations Programme on HIV/AIDS
VCT Voluntary Counseling and Testing = Konseling dan Testing secara sukarela
WHO World Health Organization


 

IX.          DAFTAR PUSTAKA

Amiruddin, Ridwan (2012). Surveilans Kesehatan Masyarakat. IPB Press.Bogor.

Amiruddin. Ridwan. 2011. Epidemiologi Perencanaan dan Pelayanan Kesehatan. Makassar.  Masagena press. Jogjakarta.

Amon J.; Brown T.; Hogle J.; Macneil J.; Magnani R.; Mills S.;Pisani E.; Rehle T.; Saidel T. 2000 Behavioral Surveillance Surveys (BSS) : Guidelines for repeated behavioral surveys

Bensimon CM, Upshur REG (2007). Evidence and effectiveness in decisionmaking for quarantine. Am J Public Health;97:S44-48.

Centers for Disease Control and Prevention. 2000. Monitoring hospital-acquired infections to promote patient safety–United States, 1990-1999. MMWR Morb Mortal Wkly Rep.49(RR-8):149-53.

DCP2 (2008). Public health surveillance. The best weapon to avert epidemics. Disease Control

Departemen Kesehatan RI. Pedoman Nasional Terapi Antiretroviral. Panduan Tatalaksana Klinis Infeksi HIV pada Orang Dewasa dan Remaja. Departemen Kesehatan RI. Jakarta.

Erme MA, Quade TC (2010). Epidemiologic surveillance. Enote. www.enotes.com/public-health…/ epidemiologic-surveillance. Diakses 21 Agustus 2010.

Giesecke J (2002). Modern infectious disease epidemiology. London: Arnold.

Gordis, L (2000). Epidemiology. Philadelphia, PA: WB Saunders Co.

In Populations at risk of HIV. Family Health International.

Murti, Bisma (2010), Surveilan Kesehatan masyarakat

Priority Project. http://www.dcp2.org/file/153/dcpp-surveillance.pdf

USAID, FHI. 2007. Scaling Up the Continuum of Care for People Living with HIV in Asia and the

WHO. 2007. Surveillance of Population at High Risk for HIV Transmission. World Health Organization.

WHO.2007. Surveillance of HIV Risk Behaviors. Participant Manual. World Health Organization.

Erme MA, Quade TC (2010). Epidemiologic surveillance. Enote. http://www.enotes.com/public-health…/

epidemiologic-surveillance. Diakses 21 Agustus 2010.

JHU (=Johns Hopkins University) (2006). Disaster epidemiology. Baltimore, MD: The Johns Hopkins and IFRC Public Health Guide for Emergencies.

Last, JM (2001). A dictionary of epidemiology. New York: Oxford University Press, Inc.

Mandl KD, Overhage M, Wagner MM, Lober WB, Sebastiani P, Mostahari F, Pavlin JA, Gesteland PH,

Treadwell T, Koski E, Hutwagner L, Buckeridge DL , Aller RD, Grannis S (2004). Implementing syndromic surveillance: A practical guide informed by the early experience. J Am Med Inform Assoc., 11:141–150.

McNabb SJN, Chungong S, Ryan M, Wuhib T, Nsubuga P, Alemu W, Karande-Kulis V, Rodier G (2002).Conceptual framework of public health surveillance and action and its application in health sector reform. BMC Public Health, 2:2 http://www.biomedcentral. Com

Pavlin JA (2003). Investigation of disease outbreaks detected by “syndromic” surveillance systems.

Journal of Urban Health: Bulletin of the New York Academy of Medicine, 80 (Suppl 1): i107-

i114(1).

Sloan PD, MacFarqubar JK, Sickbert-Bennett E, Mitchell CM, Akers R, Weber DJ, Howard K (2006).

Syndromic surveillance for emerging infections in office practice using billing data. Ann Fam

Med 2006;4:351-358.

WHO (2001). An integrated approach to communicable disease surveillance. Weekly epidemiological

record, 75: 1-8. http://www.who.int/wer

_____ (2002). Surveillance: slides. http://www.who.int

Wuhib T, Chorba TL, Davidiants V, MacKenzie WR, McNabb SJN (2002). Assessment of the infectious

diseases surveillance system of the Republic of Armenia: an example of surveillance in The

Republics of the former Soviet Union. BMC Public Health, 2:3 http://www.biomedcentral.com.

X.        Lembar Penugasan:

  1. 1.    Kelas di bagi menjadi 4 kelompok dengan kegiatan
    1. Diskusi pelaksanaan surveilan; data collecting, data compilasi, data analysis, data interpretasi dan disseminasi data HIV dan AIDS  di Indonesia
    2. Menjelaskan epidemiologi HIV dan AIDS di Indonesia  berdasarkan karakteristik data HIV dan AIDS di Indonesia tahun 2012 (IV.3)
    3. Merumuskan manfaat surveilans HIV dan AIDS berdasarkan data yang telah di analisis.
    4. 2.    Kegiatan Praktik Lapangan untuk dimaksudkan untuk memberikan kesan dan pengalaman bagi peserta pelatihan tentang bagaimana pelaksanaan surveilans HIV dan AIDS di unit Pelayanan kesehatan ( PKM, RS, LSM), meliputi :
      1. Bagaimana epidemiologi HIV dan AIDS (distribusi kasus HIV dan AIDS menurut variable orang(;mis.umur, jenis kelamin,), variable waktu (kecenderungan kasus HIV dan AIDS dari waktu ke waktu) dan variable tempat di tempat praktek (unit layanan kesehatan).
      2. Bagaimana pelaksanaan surveilans di unit layanan yang dikunjungi (bagaimana pengumpulan data HIV dan AIDS, analisis data, dan penyebar luasan data HIV dan AIDS).
      3. Bagaimana kelengkapan dan validitas  laporan kasus HIV dan AIDS
      4. 3.    Merencanakan program pencegahan HIV dan AIDS berdasarkan hasil analisis data surveilans.
      5. 4.    Rencana Aksi Penanggulangan HIV dan AIDS

TerLampir

 

  1. 5.   
Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s