Epidemiologi dalam proses perencanaan


BAB I EPIDEMIOLOGI DALAM PROSES PERENCANAAN Dr. Ridwan Amiruddin A. KONTRIBUSI EPIDEMIOLOGI Menunjuk dalam Healthy People (Alan Dever 1984) ; secara umum dijelaskan bahwa untuk memperbaiki kesehatan penduduk, hal itu harus disusun kembali dalam prioritas perawatan kesehatan dengan penekanan lebih besar pada pencegahan penyakit dan promosi kesehatan. Epidemiologi, lebih jauh mengalami perkembangan seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam bidang perencanaan dan manajemen kontribusi epidemiologi dapat dilihat dalam tabel 1.1 berikut. Tabel 1.1. KONTRIBUSI EPIDEMIOLOGI TERHADAP MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN MANAJEMENT PROSES PERENCANAAN KONTRIBUSI EPIDEMIOLOGI PENDEKATAN FUNGSIONAL PENDEKATAN PROSES Planning Tekhnik Identifikasi kebutuhan dan masalah 1. Epidemiologi Deskriptip a. Person b. Place c. Time 2. Deskripsi masalah kesehatan dalam istilah mortalitas, morbiditas dan faktor risiko 3. Demografi 4. Analisis etiologi ( risk factors) Administrasi dan politik Penentuan prioritas Estimasi terhadap ; 1. Magnitude og loss 2. Amenability untuk pencegahan atau reduksi 3. Ukuran-ukuran epidemiologi Penyusunan tujuan 1. Kuantifikasi tujuan 2. Kelayakan Implementasi aktifitas untuk mencapai tujuan 1. Alternatif-alternatif 2. Analisis cost benefit Organizing Mobolisasi dan koordinasi sumber daya 1. Monitoring program dan 2. Pemasaran Directing Coordinating Controling Teknik Evaluasi 1. Uji clinik 2. Penilaian outcome Sumber; Alan Dever 1985. Pengambilan keputusan merupakan mata-rantai manajemen. Disamping itu, proses pengambilan keputusan juga merupakan fungsi kepemimpinan. Seorang manajer harus mempengaruhi atasan, teman sejawat atau staf untuk mencapai suatu pengambilan keputusan yang tepat. Secara umum ada 3 komponen pokok pengambilan keputusan, adanya fakta, alternatif dan kerangka pikir. Dengan bahasa yang sederhana dan akurat, ketiga komponen pengambilan keputusan ini dapat dikomunikasikan secara efektif, mudah dimengerti dan mempengaruhi mereka yang terlibat dalam pengambilan keputusan dan implementasi keputusan tersebut. Epidemiologi merupakan metode pengumpulan dan analisis fakta untuk mengembangkan dan menguji kerangka pikir yang dapat menjelaskan terjadinya fenomena kesehatan. Dalam epidemiologi tercakup metode dan subtansi ilmu pengetahuan yang ditemukan atau dijelaskan melalui metode tersebut. Setiap aktivitas epidemiologi merupakan penerapan metode untuk mengumpulkan dan menganalisis data sehingga dapat disajikan suatu informasi yang memperkaya ilmu pengetahuan mengenai fenomena kesehatan tertentu dan untuk pengambilan keputusan atau kebijakan dalam pelayanan kesehatan. B. PERKEMBANGAN EPIDEMIOLOGI Epidemiologi mulai berkembang dari pengamatan atas pengaruh lingkungan terhadap penyakit. Hippocrates 400 tahun sebelum masehi menganjurkan untuk mempertimbangkan arah angin, musim, jenis tanah dan penyakit. Oleh karena pengaruh John Graunt yang juga menjadi bapak demografi, epidemiologi berkembang sebagai metode yang bersifat kuantitatif. William Farr menyelidiki pengaruh pekerjaan, status perkawinan dan pelbagai faktor sosiasl ekonomi terhadap variasi kematian. Pengaruh kondisi sanitasi terhadap tingkat kematian dideskripsikan oleh Edwin Chandwick (Tabel 1.2.). Tabel 1.2. Laporan Penyelidikan Kondisi Sanitasi Dari Populasi Pekerja di Inggris, 1842 PERIODE JUMLAH PEMBAPTISAN JUMLAH PEMAKAMAN TINGKAT KEMATIAN 1796-1805 1627 1535 1 dari 31 1806-1815 1654 1313 1 dari 40 1816-1825 2165 1390 1 dari 47 Sumber : Snow, 1855 dalam Dasar Epid. 1995. Melalui Tabel 1.2 Chadwick menunjukkan adanya penurunan tingkat kematian dengan perbaikan sanitasi lingkungan . Jonh Snow dalam buku On the made of communication of cholera yang diterbitkan pada tahun 1855 secara spesifik menunjukkan bahwa penduduk yang menggunakan air minumdari sumber air yang terletak di sebelah hilir kota london, sehingga kemungkinan tercemar, memiliki tingkat kematian yang lebih tinggi (Tabel 1.3). Tabel 1.3. Tingkat Kematian Karena Kholera Pada Penduduk Dengan Suplai Air Minum Yang Berbeda PERUSAHAAN AIR MINUM JUMLAH RUMAH JUMLAH KEMATIAN JUMLAH KEMATIAN PER 1000 RUMAH Southwark & Vauxhall 40.046 1.263 315 Lambeth 26.107 98 37 Perusahaan lain di London 256.423 1.422 59 Sumber : Snow, 1855 dalam Dasar Epid. 1995. William Farr menunjukkan bahwa pekerja tambang logam lebih sering menderita penyakit paru-paru dan memiliki risiko kematian yang lebih tinggi dari kelompok penduduk yang lain. Tahap perkembangan setelah konsep lingkungan sebagai penyebab penyakit adalah konsep penyebab khusus terhadap suatu penyakit. Pasteur mengemukakan teori kuman sebagai penyebab spesifik suatu penyakit. Dengan ditemukannya mikroskop oleh Anton Van Leeuwenhoek, penyelidikan atas penyakit infeksi yang diakibatkan oleh bakteri berkembang dengan pesat. Salah satu revolusi dalam pemikiran tentang faktor-faktor yang menyebabkan atau mencegah terjadinya penyakit adalah penemuan Edward Jenner bahwa orang bisa dibuat kebal terhadap suatu penyakit dengan cara vaksinasi. Pasteur juga berperan besar dalam membekukan prosedur imunisasi. Faktor inang (host) juga dipengaruhi oleh faktor-faktor genetik yang mulai diperhatikan setelah orang mengamati adanya pengelompokan (clustering) penyakit pada populasi tertentu. Konsep sebab akibat terjadinya penyakit yang cenderung bersifat multikausal memacu perkembangan metode epidemiologi, sehingga dapat diterapkan untuk menyelidiki fenomena yang tidak secara langsung berkaitan dengan penyakit. Miettinen (1985) mendefinisikan epidemiologi sebagai suatu ilmu tentang terjadinya fenomena (the science of occurrence). Dilingkungan rumah sakit, epidemiologi dapat digunakan dalam penyelidikan wabah yang terjadi di kamar bayi, menilai manfaat penerapan suatu teknologi dengan mempertimbangkan efektifitas, risiko dan effisiensi. Keputusan untuk melakukan screening dan promosi kesehatan juga dilandasi fakta temuan penyelidikan epidemiologi. Sebagai ilmu tentang kejadian fenomena dalam populasi, epidemiologi digunakan untuk memantau perubahan yang terjadi di masyarakat yang berpengaruh terhadap pola penyakit dan permintaan akan pelayanan rumah sakit. Sebagai suatu disiplin ilmu, epidemiologi dapat dianggap sebagai ilmu dasar menyangkut mekanisme terjadinya penyakit dan fenomena kesehatan pada umumnya. Disamping itu, epidemiologi dapat juga dianggap sebagai ilmu terapan, yang memadukan ilmu-ilmu biomedik, biostatistika dan bioteknologi untuk memecahkan persoalan-persoalan kesehatan, khususnya mencegah penyakit, disabilitas dan kematian. Dalam lingkungan rumah sakit, ilmu epidemiologi dapat menjembatani keinginan klinisi untuk menerapkan ilmu biomedik dan bioteknologi dalam pengambilan keputusan klinik dan keinginan masyarakat untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang efektif, efisien, dan terjangkau pada saat dibutuhkan. C. METODE EPIDEMIOLOGI Dengan bergesernya konsep penyebab tunggal penyakit menjadi konsep multikausal, metode epidemiologi menjadi semakin kompleks dan diperkaya oleh bidang ilmu-ilmu teknologi, sosial, ekonomi dan perilaku. Dulu praktisi epidemiologi adalah “physician who can count”, sekarang klinisi yang mempraktekkan epidemiologi dituntut sebagai “physician who knows computer”. Praktisi epidemiologi tidak hanya terdiri dari dokter atau klinisi, tetapi ilmuwan dari disiplin paramedik maupun non medik. Perkembangan metode epidemiologi antara lain dipengaruhi oleh : 1. Metode pengukuran fenomena kesehatan; teknologi diagnostik klinik, biomedik, elektromedik, sosial-ekonomik dan perilaku. 2. Metode kuantitatif untuk mengidentifikasi pola kejadian dan memperkirakan dampak suatu faktor (dikenal sebagai risk factor) terhadap terjadinya penyakit. 3. Metode penelitian yang menyangkut rancangan pengamatan atau pengumpulan data dalam uji klinik (randomized clinical trial), rancangan kohor, kasus-kontrol, survai surveillance penyakit. Deteksi penyakit dapat dilakukan pada tahap dini, misalnya dengan kemajuan dalam biokimia atau bioteknologi dan elektromedik sebagai teknologi imaging yang secara lebih tajam dapat menampilkan kelainan-kelainan struktural pada tingkat seluler, jaringan maupun organ. Pengukuran sosial seperti kuantitatif social network, social support dan kepatuhan berobat serta kemitraan dokter-pasien mempertajam hasil kajian epidemiologik. Perkembangan epidemiologi mutakhir ditandai dengan meluasnya aplikasi metode kuantitatif yang semakin rumit, sesuai dengan konsep penyebab penyakit yang semakin rinci.Prinsip-prinsip kuantifikasi kejadian penyakit, identifikasi kelompok yang paling rentan, komparasi antar kelompok dan analisis subjek kelompok tetap melandasi metode kuantitatif dalam epidemiologi. Besarnya data hasil penelitian yang harus dianalisis memungkinkan penajaman hubungan sebab akibat , apakah ada kesimpulan yang bias, kerena ada faktor perancu (confounding factor), yakni suatu faktor yang berhubungan erat dengan penyebab penyakit dan sekaligus juga merupakan faktor risiko penyakit tersebut. Analisis subkelompok menjadi relevan jika risiko penyakit berbeda tajam antara kelompok yang satu dan yang lain, suatu kondisi yang dikenal sebagai interaksi (interaction atau effect modification) di antara faktor risiko. Identifikasi penyebab penyakit dilakukan dengan mengukur efek faktor risiko terhadap terjadinya penyakit. Pengukuran efek ini didasarkan atas perbandingan atau rasio antara risiko menderita penyakit pada kelompok yang satu dibandingkan dengan kelompok yang lain. Pada penelitian kohor atau longitudinal dapat dihitung rate ratio dan risk ratio atau relative risk. Pada penelitian kasus-kontrol dihitung odds ratio. Ukuran –ukuran tersebut menunjukkan berapa besar pengaruh suatu faktor dalam meninggikan risiko menderita suatu penyakit. Perkembangan metode epidemiologi ditujukan untuk semakin meningkatnya validitas hasil penelitian, yakni bahwa kesimpulan yang diambil dari hasil penelitian tersebut ssuai dengan kenyataan. Disamping itu, validitas kajian epidemiologi yang tinggi memungkinkan generalisasi suatu mekanisme biomedis maupun biososial, dan informasi tentang variasi dari mekanisme tersebut menjadi lebih akurat. D. APLIKASI EPIDEMIOLOGI Bagi manajer rumah sakit, epidemiologi dapat digunakan sebagai pedang bermata dua. Pertama Epidemiologi dapat dimanfaatkan untuk melandasi pengambilan keputusan dalam pelayanan pasien oleh staf rumah sakit. Kedua epidemiologi digunakan untuk memantau pola penyakit di masyarakat yang mencerminkan kebutuhan dan permintaan masyarakat akan jenis-jenis pelayanan yang dapat diberikan oleh rumamh sakit. Keputusan dalam pelayanan pasien dipengaruhi oleh : 1. Pengetahuan akan penyebab penyakit 2. Pengetahuan akan riwayat alamiah penyakit 3. Hasil evaluasi efektifitas tindakan untuk mengobati dan mencegah penyakit 4. Perhitungan sumberdaya dan manfaat yang didasarkan atas analisis cost-effectiveness, cost-utility dan cost-benefit. Dengan dukungan epidemiologi, manajer rumah sakit dapat mengembangkan produk pelayanan secara berkesinambungan sesuai dengan permintaan pasar, mengingat peran epidemiologi untuk memantau dan meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit dan fungsinya sebagai market intelligence untuk terus menerus mengikuti situasi pasar bagi pelayanan rumah sakit. Dengan menggunakan fakta yang akurat dan relevan dan kerangka pikir yang jelas, manajer rumah sakit dapat mengkomunikasikan kebutuhan rumah sakit untuk berkembang dalam situasi kompetitif. File planningepid\bab1

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s