surveilans HIV dan AIDS


 

 

 

 

 

 

MODUL SURVEILANS HIV DAN AIDS

 

 

 

RIDWAN AMIRUDDIN

 

 

  KPAN 2013


                                   

Contents

I.     DESKRIPSI SINGKAT.. 3

II.        TUJUAN PEMBELAJARAN.. 5

III.       POKOK BAHASAN.. 5

IV.      BAHAN BELAJAR.. 5

V.    LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN.. 5

VI. URAIAN MATERI 8

1.    Konsep Surveilans HIV dan AIDS.. 8

2.    Metode surveilans. 12

3.    Karakteristik data HIV dan AIDS. 19

4.    Manfaat hasil surveilens dalam pengambilan keputusan. 23

5.    RANGKUMAN : 25

DAFTAR SINGKATAN.. 26

VII.     DAFTAR PUSTAKA.. 27

 


                                         

 

I.    DESKRIPSI SINGKAT

Surveilans kesehatan masyarakat adalah pengumpulan, analisis, dan analisis data secara terus menerus dan sistematis yang kemudian didiseminasikan (disebarluaskan) kepada pihak-pihak yang bertanggungjawab dalam pencegahan penyakit dan masalah kesehatan lainnya (DCP2, 2008).

Surveilans memantau terus-menerus kejadian dan kecenderungan penyakit, mendeteksi dan memprediksi outbreak pada populasi, mengamati faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit, seperti perubahan-perubahan biologis pada agen, vektor, dan reservoir. Selanjutnya surveilans menghubungkan informasi tersebut kepada pembuat keputusan agar dapat dilakukan langkah-langkah pencegahan dan pengendalian penyakit (Last, 2001). Kadang digunakan istilah surveilans epidemiologi. Baik surveilans kesehatan masyarakat maupun surveilans epidemiologi hakikatnya sama saja, sebab menggunakan metode yang sama, dan tujuan epidemiologi adalah untuk mengendalikan masalah kesehatan masyarakat, sehingga epidemiologi dikenal sebagai sains inti kesehatan masyarakat (core science of public health).

Surveilans menurut WHO menjelaskan bahwa surveilans dapat diartikan sebagai aplikasi metodologi dan teknik epidemiologi yang tepat untuk mengendalikan penyakit.

Penjelasan tentang pola penyakit yang sedang berlangsung  dapat diuraikan beberapa contoh kegiatan yang dilakukan sebagai berikut:

  1. Melakukan deteksi perubahan akut dari penyakit yang terjadi dan distribusinya.
  2. Melakukan identifikasi dan perhitungan trend dan pola penyakit menurut frekuensi kejadiannya.
  3. Melakukan identifikasi faktor risiko dan penyebab lainnya, seperti vektor yang dapat menyebabkan penyakit di kemudian hari.
  4. Mendeteksi perubahan pelayanan kesehatan  yang terjadi di masyarakat.

Penggunaan data untuk evaluasi serta pengendalian dan pencegahan penyakit dapat berkaitan dengan hal-hal sebagai berikut:

  1. Beberapa informasi tentang penyakit menstimulasi untuk pelaksanaan riset lebih lanjut tentang proses terjadinya penyakit, misalnya sumber-sumber penyebab penyakit memungkinkan untuk dieksplorasi secara mendalam.
  2. Informasi tentang pola penyakit dan kecenderungannya sangat penting untuk perencanaan pelayanan kesehatan dimasa mendatang karena dapat dijadikan landasan yang kokoh dalam pengambilan keputusan.
  3. Evaluasi dan tindakan pencegahan, misalnya evaluasi terhadap program vaksinasi.

Dalam upaya mempelajari riwayat alamiah penyakit (natural history of disease) dan epidemiologi penyakit, khususnya untuk mendeteksi epidemi penyakit melalui pemahaman riwayat penyakit, dapat membantu beberapa hal sebagai berikut:

  1. Membantu menyusun hipotesis untuk dasar pengambilan keputusan dalam intervensi kesehatan masyarakat.
  2. Membantu untuk mengindetifikasi penyakit untuk keperluan penelitian epidemiologi.
  3. Mengevaluasi program-program pencegahan dan pengendalian penyakit.
  4. Memberikan informasi dan data untuk memproyeksikan kebutuhan pelayanan kesehatan dimasa mendatang.

 

II.  TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. A.    Tujuan Pembelajaran Umum

Setelah mengikuti materi ini, peserta mampu menjelaskan konsep surveilans HIV dan AIDS

  1. B.    Tujuan Pembelajaran Khusus

Setelah mengikuti materi ini, peserta mampu:

  1. Menjelaskan surveilans HIV dan AIDS
  2. Menjelaskan Metode surveilans
  3. Menjelaskan Karakteristik data Surveilans HIV dan AIDS
  4. Menjelaskan Manfaat hasil surveilans dalam pengambilan keputusan.

III.       POKOK BAHASAN

Dalam modul ini akan dibahas pokok bahasan-pokok bahasan sebagai berikut yaitu :

Pokok Bahasan dan sub pokok bahasan:

  1. Pengertian surveilans HIV dan AIDS
  2. Metode surveilans
  3. Karakteristik data Surveilans HIV dan AIDS
  4. Manfaat hasil surveilans dalam pengambilan keputusan.

IV.          BAHAN BELAJAR

  1. Modul surveilans .
  2. Petunjuk diskusi kelompok.

 

V. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN

Agar proses pembelajaran dapat berhasil secara efektif, maka perlu disusun langkah-langkah pembelajaran sebagai berikut :

A. Langkah 1 : Penyiapan Proses pembelajaran

  1. Kegiatan Fasilitator
  2. Fasilitator memulai kegiatan dengan melakukan bina suasana dikelas
  3. Fasilitator menyapa peserta dengan ramah dan hangat.
  4. Apabila belum pernah menyampaikan sesi di kelas mulailah dengan memperkenalkan diri, Perkenal kan diri dengan menyebutkan nama lengkap, instansi tempat bekerja, materi yang akan disampaikan.
  5. Menggali pendapat pembelajar (apersepsi) tentang apa yang dimaksud dengan pelayanan prima dengan metode curah pendapat (brainstorming).
  6. Menyampaikan ruang lingkup bahasan dan tujuan pembelajaran tentang pelayanan prima yang sebaiknya dengan menggunakan bahan tayang.
  7. Kegiatan Peserta
  8. Mempersiapkan diri dan alat tulis yang diperlukan
  9. Mengemukakan pendapat atas pertanyaan fasilitator
  10. Mendengar dan mencatat hal-hal yang dianggap penting
  11. d.   Mengajukan pertanyaan kepada fasilitator bila ada hal-hal yang belum jelas dan perlu diklarifikasi.

B. Langkah 2 : Review pokok bahasan

1. Kegiatan Fasilitator

  1. Menyampaikan Pokok Bahasan dan sub pokok bahasan 1 sampai dengan 4 secara garis besar dalam waktu yang singkat
  2. Memberikan kesempatan kepada pembelajar untuk menanyakan hal-hal yang kurang jelas
  3. Memberikan jawaban jika ada pertanyaan yang diajukan peserta
  4. Kegiatan Peserta
  5. Mendengar, mencatat dan menyimpulkan hal-hal yang dianggap penting
  6. Mengajukan pertanyaan kepada fasilitator sesuai dengan kesempatan yang diberikan
  7. Memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan fasilitator.

C. Langkah 3 : Pendalaman pokok bahasan

  1. Kegiatan Fasilitator
  2. Meminta kelas dibagi menjadi beberapa kelompok (4 kelompok) dan setiap kelompok akan diberikan tugas diskusi kelompok.
  3. Menugaskan kelompok untuk memilih ketua, sekretaris dan penyaji.
  4. Meminta masing-masing kelompok untuk menuliskan hasil dikusi untuk disajikan.
  5. Mengamati peserta dan memberikan bimbingan pada proses diskusi.
  6. 2.    Kegiatan Peserta
  7. Membentuk kelompok diskusi dan memilih ketua, sekretaris dan penyaji.
  8. Mendengar, mencatat dan bertanya pada hal-hal yang kurang jelas pada fasilitator.
  9. Melakukan proses diskusi sesuai dengan pokok bahasan / sub pokok bahasan yang ditugaskan dan menuliskan hasil dikusi untuk disajikan.

D. Langkah 4 : Penyajian dan pembahasan hasil pendalaman pokok bahasan dikaitkan dengan situasi dan kondisi di tempat tugas.

  1. 1.   Kegiatan Fasilitator

a. Meminta masing-masing kelompok diminta untuk mempresentasikan  hasil diskusi

b. Memimpin proses tanggapan (tanya jawab)

  1. Memberikan masukan khususnya dikaitkan dengan situasi dan kondisi di daerah kerja

d. Merangkum hasil diskusi

  1. 2.   Kegiatan Peserta

a. Mengikuti proses penyajian kelas

b. Berperan aktif dalam proses tanya jawab yang dipimpin oleh fasilitator

  1. Bersama fasilitator merangkum hasil presentasi masing – masing pokok bahasan yang dikaitkan dengan  situasi dan kondisi di daerah kerja.

E. Langkah 5 : Rangkuman dan evaluasi hasil belajar

  1. 1.    Kegiatan Fasilitator

a. Mengadakan evaluasi dengan melemparkan 3 pertanyaan sesuai topik pokok bahasan

b. Memperjelas jawaban peserta terhadap masing – masing pertanyaan

c. Bersama peserta merangkum poin-poin penting dari hasil proses pembelajaran koordinasi lintas program dan lintas sektor.

d. Membuat kesimpulan.

  1. 2.    Kegiatan Peserta

a. Menjawab pertanyaan yang diajukan fasilitator.

b. Bersama fasilitator merangkum hasil proses pembelajaran koordinasi lintas program dan lintas sektor.

VI. URAIAN MATERI

1.    Konsep Surveilans HIV dan AIDS

1). Dasar surveilans

a). Tujuan dari surveilans AIDS ini adalah memberikan suatu data terhadap pelayanan kesehatan di Indonesia agar melakukan suatu perencanaan, pelaksanaan dan pemantauan terhadap penanggulangan AIDS di Indonesia. Sedangakn definisi kasus AIDS guna keprluan surveilans sendiri adalah seseorang yang HIV positif dan didapatkan minimal 2 tanda mayaor seperti diare kronis selama 1 bulan, berat badan menurun lebih dari 10% dalam 1 bulan, demam berkepanjangan, dll disertai dengan 1 tanda minor yaitu seperti salah satunya batuk menetap selama kuarang lebih 1 bulan dan dermatitis generalisata yang disertai sensasi gatal.

b).      Prosedur pemeriksaan darah untuk penderita AIDS adalah yang pertama harus mengisi informed consent yang artinya ketersediaan subjek untuk diambil darahnya kemudian diberikan konseling sebelum serta sesudah test terhadap subjek dan yang terpenting harus rahasia agar subjek yag diambil darahnya merasa nyaman dan tidak timbul rasa khawatir misalnya tidak di beri nama bisa langsung nama kota atau nama samara saja.

c).      Cara pencatatan kasus surveilans AIDS yaitu yang pertama malakukan pemeriksaan fisik terhadap penderita yang mencurigakan terkena AIDS seperti terdapat 2 tanda mayor serta 1 tanda minor, kedua yaitu pemeriksaan laboratorium untuk menguatkan dugaan terhadap penderita, selanjutnya pemeriksaan laboratorium akan menghasilkan data apakah penderita positif AIDS atau tidak. Apabila penderita positif menderita AIDS maka wajib mengisi formuir penderita AIDS agar semua kasus dapat dilaporkan baik yang sudah meninggal atau yang masih hidup, untuk yang sudah meninggal meskipun sebelumnya sudah lapor pada saat meninggal juga wajib lapor, karena penguburan mayat positif AIDS berbeda dengan yang biasa.

d).      Pelaporan kasus surveilans AIDS yaitu dengan menggunakan formulir dari laporan penderita positif AIDS yang kemudian laporan kasus ini dikirim secepatnya tanpa menunggu suatu periode waktu dan harus dilaporkan pada saat menemukan penderita positif AIDS bisa melalui fax atau email untuk sementara tetapi kemudian disusul dengan data secara tertulis.

2). Surveilans Sentinel HIV

a)    Pengertiannya adalah melakukan kegiatan untuk menganalisis secara terus menerus untuk menurunkan risiko terjadinya peningkatan serta penularan HIV  dengan menggunakan populasi sentinel atau kelompok tertentu pada lokasi tertentu untuk memantau prevalensi penyakit tertentu seperti HIV misalanya pada tempat lokalisasa atau pada kelompok berisiko tertentu yaitu seperti  PSK, pengguna NAPZA dan waria agar dapat melakukan pencegahan dan penanggulangn HIV serta memberikan informasi terhadap pelayanan kesehatan.

b)    Tujuan surveilans sentinel HIV sendiri adalah melakukan pemeriksaan seroprevalens HIV pada kelompok risiko pada klinik, kemudian memantaun kecenderungan infeksi HIV serta dampak dari pemberian program pada kelompok tersebut. menyediakan data tentang proyeksi kasus HIV/AIDS di Indonesia berdasarkan kegiatan analisis dan menyediakan informasi untuk perencanaan pencegahan dan penanggulangan terhadap pelayanan kesehatan.

c)    Tes HIV dilakukan tanpa memberikan identitas dengan menggunakan kode tertentu yng tidak dapat dikaitkan dengan subjek yang diambil darahnya, misalnya menggunakan nama kotanya saja atau nama samaran, yang tidak ada kaitannya dengan subjek agar dapat menjaga kerahasiaan, karena penderita HIV/ AIDS sekarang cebderung terdiskriminasi dan dikucilkan dari kelompok yang lainnya karena dianggap sebagai penyakit kutukan dari tuhan terhadap balasan apa yang telah diperbuat, dan itu persepsi yang salah karena penularan HIV/AIDS tidak hanya karena perilaku seks dengan berganti-ganti pasangan tetapi bisa saja dari pisau cukur yang sebelumnya di gunakan oleh penderita HIV/ AIDS, atau mendapatkan donor darah dari penderita HIV/ AIDS yang tidak ada sangkut pautnya dengan hubungan seks.

3). Survei Surveilans perilaku

Tujuan survey surveilans perilaku yaitu melakukan pemantuan terhadap perilaku seksual dari kelomok berisiko dari waktu ke waktu untuk menyediakan informasi guna menilai efektifitas dari upaya pencegahan yang telah dilakukan serta mengembangkan program selanjutya. Peranan dari surveilans perilaku ini adalah sebagai sitem peringatan dini, perencanaan suatu program pencegahan dan penanggulangan dan membantu evaluasi program serta membantu menjelaskan perubahan suatu prevalensi. Prinsip dari pelaksanaan surveilans perilaku sama dengan surveilans HIV yaitu survei yang dilakukan berulang untuk mengumpulkan data tentang perilaku terhadap populasi berisiko tertular seperti PSK, waria, pengguna NAPZA suntik dll.

4).    Surveilans Generasi Kedua

Surveilans ini lebih mementingkan penggunaan data mengenai perilaku terhadap suatu populasi, yang potensial tertular HIV/AIDS sebagai informasi dan menjelaskan tren HIV pada pada suatu populasi. Surveilans generasi kedua ini merupakan penggabungan dari surveilans biologis dan surveilans perilaku, informasi yang penting didapatkan dari surveilans generasi kedua ini adalah perilaku suatu populasi yang berisiko tertular HIV sebagai system kewaspadaan dini, kemudian mengambil informasi dari perilaku populasi berisiko tinggi untuk membuat suatu program agar terpusat dan tepat pada sasaran, serta mendapatkan informasi terhadap perilaku apa saja yang bisa di ubah untuk mencegah penularan, dan melakukan pengamatan perilaku suatu populasi yang sudah diberikan program kemudian di evaluasi hasilnya apakah perilaku populasi tersebut berubah yang artinya perilalku tersebut dapat menurunkan prevalensi HIV pada populasi itu.

2.      Metode surveilans

Dalam surveilans epidemiologi, kita mengenal adanya surveilans epidemiologi penyakit menular, surveilans epidemiologi penyakit tidak menular, surveilans epidemiologi penyakit infeksi, surveilans epidemiologi penyakit akut dan surveilans epidemiologi penyakit kronis. Terdapat beberapa persamaan dan perbedaan secara konseptual antara kegiatan surveilans epidemiologi penyakit akut dan kronis:

Ruang lingkup surveilans epidemiologi menurut tempatnya dapat dibedakan menjadi 2, yaitu surveilans epidemiologi dalam masyarakat dan surveilans epidemiologi di rumah sakit.

  1. Surveilans epidemiologi dalam masyarakat

Surveilans epidemiologi ini dilakukan pada suatu wilayah administrasi atau pada kelompok populasi tertentu. Dengan analisis secara teratur berkesinambungan terhadap data yang dikumpulkan mengenai kejadian kesakitan atau kematian, dapat memberikan kesempatan lebih mengenal kecenderungan penyakit menurut variabel yang diteliti. Variabel tersebut diantaranya adalah distribusi penyakit menurut musim atau periode waktu tertentu, mengetahui daerah geografis dimana jumlah kasus/penularan meningkat atau berkurang, serta berbagai kelompok risiko tinggi menurut umur, jenis kelamin, ras, agama, status sosial ekonomi serta pekerjaan.

Tabel 1 Surveilans Penyakit Akut dan Kronis

Karakteristik Umum Surveilans Epidemiologi Penyakit Akut Surveilans Epidemiologi Penyakit Kronis
Maksud dan tujuan

–    Monitor kecenderungan

–    Menguraikan masalah dan estimasi beban penyakit

–    Mengarahkan dan evaluasi  program pengendalian dan pencegahan penyakit

Monitor perubahan atau variasi mingguan dan bulanan Monitor perubahan dari tahun ke tahun
Data

–    Rutin atau berkala

Tergantung pelaporan oleh petugas kesehatan dan laboratorium Lebih menggantungkan pada data basis diluar petugas kesehatan, termasuk dari rumah sakit, registrasi penduduk, dsb
Analisis data Statistika deskriptif untuk orang, tempat dan waktu Menekankan jumlah kasus atau penderita Menekankan pada angka-angka statistik misalnya “rate”
Penyebarluasan data dan informasi Rutin, frekuensinya seiring dengan periode pelaporan Lebih sering Relatif lebih jarang
  1. Surveilans epidemiologi di rumah sakit

Saat ini penderita penyakit menular yang dirawat d rumah sakit jumlahnya masih cukup besar. Suatu keadaan khusus dimana faktor lingkungan, secara bermakna dapat mendukung terjadinya risiko meendapatkan penyakit infeksi, sehingga tekhnik surveilans termasuk kontrol penyakit pada rumah sakit rujukan pada tingkat propinsi dan regional memerlukan perlakuan tersendiri. Pada rumah sakit tersebut, terdapat beberapa penularan penyakit dan dapat menimbulkan infeksi nosokomial. Selain itu, rumah sakit mungkin dapat menjadi tempat berkembangbiaknya serta tumbuh suburnya berbagai jenis mikro-organisme.

Untuk mengatasi masalah penularan penyakit infeksi di rumah sakit maka telah dikembangkan sistem surveilans epidemiologi yang khusus dan cukup efektif untuk menanggulangi kemungkinan terjadinya penularan penyakit (dikenal dengan infeksi nosokomial) di dalam lingkungan rumah sakit.

Tabel  2: Macam-macam metoda surveilans untuk mengukur prevalensi infeksi HIV
Metoda surveilans Survei periodik (khusus) Metoda sentinel Data dari layanan rutin
Deskripsi Survei sero-prevalensi HIV cross-sectional dalam suatu negara. sistem surveilans sentinel HIV secara umum pada suatu wilayah, atau Data dikumpulkan dari layanan rutin pasien yang dites HIV secara sukarela dan rahasia. Jika kasus HIV meningkat pada populasi umum, negara harus melakukan tes HIV pada semua pasien tuberkulosis. Negara dengan keadaan epidemi HIV generalised harus menjamin bahwa tes HIV secara aktif dipromosikan dan ditawarkan kepada semua pasien tuberkulosis.
Tujuan pokok • Metoda ini sebaiknya digunakan jika prevalensi sebelumnya tidak diketahui. Tujuannya untuk memberikan estimasi point.• Sistem ini juga dapat digunakan di negara yang sudah ada sistem surveilansnya berdasarkan data dari layanan rutin pasien, untuk •  Informasi ini berguna dalam merencanakan, melaksanakan dan memantau program kesehatan masyarakat untuk pencegahan dan pengendalian .• Estimasi prevalensi secara rutin juga dapat digunakan untuk, identifikasi secara dini daerah dimana program testing HIV harus dilaksanakan. • Tujuan utama adalah memberikan informasi yang bermanfaat untuk perencanaan, pelaksanaan dan monitoring program pencegahan dan pengendalian

Jenis Surveilans

Dikenal beberapa jenis surveilans: (1) Surveilans individu; (2) Surveilans penyakit; (3) Surveilans sindromik; (4) Surveilans Berbasis Laboratorium; (5) Surveilans terpadu; (6) Surveilans kesehatan (Murti,2010).

1. Surveilans Individu

Surveilans individu (individual surveillance) mendeteksi dan memonitor individu-individu yang mengalami kontak dengan penyakit serius, misalnya pes, cacar, tuberkulosis, tifus, demam kuning, sifilis. Surveilans individu memungkinkan dilakukannya isolasi institusional segera terhadap kontak,sehingga penyakit yang dicurigai dapat dikendalikan. Sebagai contoh, karantina merupakan isolasi institusional yang membatasi gerak dan aktivitas orang-orang atau binatang yang sehat tetapi telah terpapar oleh suatu kasus penyakit menular selama periode menular. Tujuan karantina adalah mencegah transmisi penyakit selama masa inkubasi seandainya terjadi infeksi (Last, 2001).

Isolasi institusional pernah digunakan kembali ketika timbul AIDS 1980an dan SARS. Dikenal dua jenis karantina: (1) Karantina total; (2) Karantina parsial. Karantina total membatasi kebebasan gerak semua orang yang terpapar penyakit menular selama masa inkubasi, untuk mencegah kontak dengan orang yang tak terpapar. Karantina parsial membatasi kebebasan gerak kontak secara selektif, berdasarkan perbedaan tingkat kerawanan dan tingkat bahaya transmisi penyakit. Contoh, anak sekolah diliburkan untuk mencegah penularan penyakit campak, sedang orang dewasa diperkenankan terus bekerja. Satuan tentara yang ditugaskan pada pos tertentu dicutikan, sedang di pospos lainnya tetap bekerja. Dewasa ini karantina diterapkan secara terbatas, sehubungan dengan masalah legal, politis, etika, moral, dan filosofi tentang legitimasi, akseptabilitas, dan efektivitas langkah-langkah pembatasan tersebut untuk mencapai tujuan kesehatan masyarakat (Bensimon dan Upshur, 2007).

2. Surveilans Penyakit

Surveilans penyakit (disease surveillance) melakukan pengawasan terus-menerus terhadap distribusi dan kecenderungan insidensi penyakit, melalui pengumpulan sistematis, konsolidasi, evaluasi terhadap laporan-laporan penyakit dan kematian, serta data relevan lainnya. Jadi fokus perhatian surveilans penyakit adalah penyakit, bukan individu. Di banyak negara, pendekatan surveilans penyakit biasanya didukung melalui program vertikal (pusat-daerah). Contoh, program surveilans tuberkulosis, program surveilans malaria. Beberapa dari sistem surveilans vertikal dapat berfungsi efektif, tetapi tidak sedikit yang tidak terpelihara dengan baik dan akhirnya kolaps, karena pemerintah kekurangan biaya. Banyak program surveilans penyakit vertikal yang berlangsung paralel antara satu penyakit dengan penyakit lainnya, menggunakan fungsi penunjang masing-masing, mengeluarkan biaya untuk sumberdaya masingmasing, dan memberikan informasi duplikatif, sehingga mengakibatkan inefisiensi.

3. Surveilans Sindromik

Syndromic surveillance (multiple disease surveillance) melakukan pengawasan terus-menerus terhadap sindroma (kumpulan gejala) penyakit, bukan masing-masing penyakit. Surveilans sindromik mengandalkan deteksi indikator-indikator kesehatan individual maupun populasi yang bisa diamati sebelum konfirmasi diagnosis. Surveilans sindromik mengamati indikator-indikator individu sakit, seperti pola perilaku, gejala-gejala, tanda, atau temuan laboratorium, yang dapat ditelusuri dari aneka sumber, sebelum diperoleh konfirmasi laboratorium tentang suatu penyakit. Surveilans sindromik dapat dikembangkan pada level lokal, regional, maupun nasional. Sebagai contoh, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menerapkan kegiatan surveilans sindromik berskala nasional terhadap penyakit-penyakit yang mirip influenza (flu-like illnesses) berdasarkan laporan berkala praktik dokter di AS. Dalam surveilans tersebut, para dokter yang berpartisipasi melakukan skrining pasien berdasarkan definisi kasus sederhana (demam dan batuk atau sakit tenggorok) dan membuat laporan mingguan tentang jumlah kasus, jumlah kunjungan menurut kelompok umur dan jenis kelamin, dan jumlah total kasus yang teramati. Surveilans tersebut berguna untuk memonitor aneka penyakit yang menyerupai influenza, termasuk flu burung, dan antraks, sehingga dapat memberikan peringatan dini dan dapat digunakan sebagai instrumen untuk memonitor krisis yang tengah berlangsung (Mandl et al., 2004; Sloan et al., 2006). Suatu sistem yang mengandalkan laporan semua kasus penyakit tertentu dari fasilitas kesehatan, laboratorium, atau anggota komunitas, pada lokasi tertentu, disebut surveilans sentinel.

Pelaporan sampel melalui sistem surveilans sentinel merupakan cara yang baik untuk memonitor masalah kesehatan dengan menggunakan sumber daya yang terbatas (DCP2, 2008; Erme dan Quade, 2010).

4. Surveilans Berbasis Laboratorium

Surveilans berbasis laboartorium digunakan untuk mendeteksi dan menonitor penyakit infeksi. Sebagai contoh, pada penyakit yang ditularkan melalui makanan seperti salmonellosis, penggunaan sebuah laboratorium sentral untuk mendeteksi strain bakteri tertentu memungkinkan deteksi outbreak penyakit dengan lebih segera dan lengkap daripada sistem yang mengandalkan pelaporan sindroma dari klinik-klinik (DCP2, 2008).

5. Surveilans Terpadu

Surveilans terpadu (integrated surveillance) menata dan memadukan semua kegiatan surveilans di suatu wilayah yurisdiksi (negara/ provinsi/ kabupaten/ kota) sebagai sebuah pelayanan publik bersama. Surveilans terpadu menggunakan struktur, proses, dan personalia yang sama, melakukan fungsi mengumpulkan informasi yang diperlukan untuk tujuan pengendalian penyakit. Kendatipun pendekatan surveilans terpadu tetap memperhatikan perbedaan kebutuhan data khusus penyakitpenyakit tertentu (WHO, 2001, 2002; Sloan et al., 2006). Karakteristik pendekatan surveilans terpadu: (1) Memandang surveilans sebagai pelayanan bersama (common services); (2) Menggunakan pendekatan solusi majemuk; (3) Menggunakan pendekatan fungsional, bukan struktural; (4) Melakukan sinergi antara fungsi inti surveilans (yakni, pengumpulan, pelaporan, analisis data, tanggapan) dan fungsi pendukung surveilans (yakni, pelatihan dan supervisi, penguatan laboratorium, komunikasi, manajemen sumber daya); (5) Mendekatkan fungsi surveilans dengan pengendalian penyakit. Meskipun menggunakan pendekatan terpadu, surveilans terpadu tetap memandang penyakit yang berbeda memiliki kebutuhan surveilans yang berbeda (WHO, 2002).

 

 

 

6. Surveilans Kesehatan Masyarakat Global

Perdagangan dan perjalanan internasional di abad modern, migrasi manusia dan binatang serta organisme, memudahkan transmisi penyakit infeksi lintas negara. Konsekunsinya, masalah-masalah yang dihadapi negara-negara berkembang dan negara maju di dunia makin serupa dan bergayut. Timbulnya epidemi global (pandemi) khususnya menuntut dikembangkannya jejaring yang terpadu di seluruh dunia, yang manyatukan para praktisi kesehatan, peneliti, pemerintah, dan organisasi internasional untuk memperhatikan kebutuhan-kebutuhan surveilans yang melintasi batas-batas negara. Ancaman aneka penyakit menular merebak pada skala global, baik penyakit-penyakit lama yang muncul kembali (re-emerging diseases), maupun penyakit-penyakit yang baru muncul (new emerging diseases), seperti HIV/AIDS, flu burung, dan SARS. Agenda surveilans global yang komprehensif melibatkan aktor-aktor baru, termasuk pemangku kepentingan pertahanan keamanan dan ekonomi (Calain, 2006; DCP2, 2008).

3.      Karakteristik data HIV dan AIDS

Berdasarkan data resmi Kementerian Kesehatan, sekitar 26. 400 pengidap AIDS dan 66. 600 pengidap HIV positif di Indonesia tahun 2011 ini, lebih dari 70 persen di antaranya adalah generasi muda usia produktif yang berumur di antara 20- 39 tahun. Angka ini belum mencerminkan data yang sesungguhnya, karena AIDS merupakan fenomena gunung es, di mana yang terlihat hanya sekitar 20 persen saja, sedangkan yang tidak diketahui jumlahnya akan lebih banyak. Saat ini Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) yang mengetahui diri mereka terinfeksi HIV hanya sekitar 20 persen. Dengan kata lain, 8 dari 10 ODHA tidak mengetahui bahwa diri mereka sudah terinveksi HIV, dan bisa menularkan virus tersebut kepada orang lain. Hal ini turut andil meningkatkan kasus HIV di Indonesia. Pengidap HIV bukan hanya kelompok resiko tinggi saja, tetapi juga dari keluarga dan masyarakat biasa, termasuk ibu-ibu rumah tangga. Oleh karena, sangat penting untuk melakukan deteksi dini infeksi HIV. Deteksi dini dapat dilakukan melalui konseling dan testing secara sukarela bagi mereka yang memiliki perilaku dengan resiko tinggi tertular HIV, sebagai upaya pencegahan agar tidak terinfeksi
HIV. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah dalam menanggulangi masalah HIV dan AIDS. Tetapi epidemi HIV dan AIDS terus saja berlanjut seiring dengan maraknya pemakaian narkoba di Indonesia.

Di beberapa provinsi di Indonesia sudah terjadi epidemi yang terkonsentrasi, di mana kelompok populasi yang beresiko terkena HIV mencapai lebih dari 5 persen. Bahkan di Provinsi Papua, ada kecenderungan generalized epidemic, di mana masyarakat umum sudah terinfeksi lebih dari 2 persen, dengan rata-rata kasus 180,69. Artinya, terdapat 180 orang terinfeksi HIV pada setiap 100 ribu penduduk di Papua.

Analisis Data HIV dan AIDS

4.      Manfaat hasil surveilens dalam pengambilan keputusan

Informasi kesehatan yang berasal dari data dasar pola penyakit sangat penting untuk menyusun perencanaan dan untuk mengevaluasi hasil akhir dari intervensi yang telah dilakukan. Semakin kompleksnya proses pengambilan keputusan dalam bidang kesehatan masyarakat, memerlukan informasi yang cukup handal untuk mendeteksi adanya perubahan-perubahan yang sistematis dan dapat dibuktikan dengan data (angka).

Keuntungan

Keuntungan dari kegiatan surveilans epidemiologi disini dapat juga diartikan sebagai kegunaan surveilans epidemiologi, yaitu :

  1. Dapat menjelaskan pola penyakit yang sedang berlangsung yang dapat dikaitkan dengan tindakantindakan/intervensi kesehatan masyarakat.

Dalam rangka menguraikan pola kejadian penyakit yang sedang berlangsung, contoh kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut :

  1. Deteksi perubahan akut dari penyakit yang terjadi dan distribusinya
  2. Identifikasi dan perhitungan trend dan pola penyakit
  3. Identifikasi dan faktor risiko dan penyebab lainnya, seperi vektor yang dapat menyebabkan sakit dikemudian hari
  4. Deteksi perubahan pelayanan kesehatan  yang terjadi
  5. Dapat melakukan monitoring kecenderungan penyakit endemis
  6. Dapat mempelajari riwayat alamiah penyakit dan epidemiologi penyakit, khususnya untuk mendeteksi adanya KLB/wabah

Melalui pemahaman riwayat penyakit, dapat bermanfaat  sebagai berikut :

  1. Membantu menyusun hipotesis untuk dasar pengambilan keputusan dalam intervensi kesehatan masyarakat
  2. Membantu untuk mengidentifikasi penyakit untuk keperluan penelitian epidemiologi
  3. Mengevaluasi program-program pencegahan dan pengendalian penyakit
  1. Memberikan informasi dan data dasar untuk memproyeksikan kebutuhan pelayanan kesehatan  dimasa mendatang

Data dasar sangat penting untuk menyusun perencanaan dan untuk mengevaluasi hasil akhir intervensi yang diberikan. Dengan semakin kompleksnya pengambilan keputusan dalam bidang kesehatan masyarakat, maka diperlukan data yang cukup handal untuk mendeteksi adanya perubahan-perubahan yang sistematis dan dapat dibuktikan dengan data (angka).

  1. Dapat membantu pelaksanaan dan daya guna program pengendalian khusus dengan membandingkan besarnya masalah sebelum dan sesudah pelaksanaan program.
  2. Membantu menetapkan masalah kesehatan dan prioritas sasaran program pada tahap perencanaan program.

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam membuat prioritas masalah dalam kegiatan surveilans epidemiologi adalah :

  1. Frekuensi kejadian (insidens, prevalens dan mortalitas);
  2. Kegawatan/ Severity (CFR, hospitalization rate, angka kecacatan);
  3. Biaya (biaya langsung dan tidak langsung);
  4. Dapat dicegah (preventability);
  5. Dapat dikomunikasikan (communicability);
  6. f.      Public interest
  7. Mengidentifikasi kelompok risiko tinggi menurut umur, pekerjaan, tempat tinggal dimana masalah kesehatan sering terjadi dan variasi terjadinya dari waktu ke waktu (musiman, dari tahun ke tahun), dan cara serta dinamika penularan penyakit menular.

VII.       RANGKUMAN :

Surveilans berbeda dengan pemantauan (monitoring) biasa. Surveilans dilakukan secara terus menerus tanpa terputus (kontinu), sedang pemantauan dilakukan intermiten atau episodik. Dengan mengamati secara terus-menerus dan sistematis maka perubahan-perubahan kecenderungan penyakit dan faktor yang mempengaruhinya dapat diamati atau diantisipasi, sehingga dapat dilakukan langkah-langkah investigasi dan pengendalian penyakit dengan tepat.

Tujuan dari surveilans AIDS adalah memberikan suatu data terhadap pelayanan kesehatan di Indonesia agar melakukan suatu perencanaan, pelaksanaan dan pemantauan terhadap penanggulangan AIDS di Indonesia. Informasi kesehatan yang berasal dari data dasar pola penyakit sangat penting untuk menyusun perencanaan dan untuk mengevaluasi hasil akhir dari intervensi yang telah dilakukan. Semakin kompleksnya proses pengambilan keputusan dalam bidang kesehatan masyarakat, memerlukan informasi yang cukup handal untuk itu pelaksanakan surveilans yang handal harus dilaksanakan.

 

 


 

 

VIII.DAFTAR  ISTILAH


AIDS Acquired Immuno Deficiency Syndrome
ART Antiretroviral Treatment = Terapi Antiretroviral
ELISA Enzyme-Linked Immunosorbent Assay
HIV Human Immunodeficiency Virus
IDU Injecting Drug Users = Pengguna Napza Suntik
IPT Isoniazid Preventive Therapy = Terapi pencegahan dengan isoniazid (INH)
MSM Men who have Sex with Men = Lelaki suka seks lelaki
NAPZA Narkotika Psikotropika dan Zat Additif lainnya
ODHA Orang dengan HIV/AIDS
PSK Pekerja Seks Komersial
TB Tuberkulosis
TB/HIV Ko-infeksi TB dan HIV
UNAIDS The Joint United Nations Programme on HIV/AIDS
VCT Voluntary Counseling and Testing = Konseling dan Testing secara sukarela
WHO World Health Organization


 

IX.          DAFTAR PUSTAKA

Amiruddin, Ridwan (2012). Surveilans Kesehatan Masyarakat. IPB Press.Bogor.

Amiruddin. Ridwan. 2011. Epidemiologi Perencanaan dan Pelayanan Kesehatan. Makassar.  Masagena press. Jogjakarta.

Amon J.; Brown T.; Hogle J.; Macneil J.; Magnani R.; Mills S.;Pisani E.; Rehle T.; Saidel T. 2000 Behavioral Surveillance Surveys (BSS) : Guidelines for repeated behavioral surveys

Bensimon CM, Upshur REG (2007). Evidence and effectiveness in decisionmaking for quarantine. Am J Public Health;97:S44-48.

Centers for Disease Control and Prevention. 2000. Monitoring hospital-acquired infections to promote patient safety–United States, 1990-1999. MMWR Morb Mortal Wkly Rep.49(RR-8):149-53.

DCP2 (2008). Public health surveillance. The best weapon to avert epidemics. Disease Control

Departemen Kesehatan RI. Pedoman Nasional Terapi Antiretroviral. Panduan Tatalaksana Klinis Infeksi HIV pada Orang Dewasa dan Remaja. Departemen Kesehatan RI. Jakarta.

Erme MA, Quade TC (2010). Epidemiologic surveillance. Enote. www.enotes.com/public-health…/ epidemiologic-surveillance. Diakses 21 Agustus 2010.

Giesecke J (2002). Modern infectious disease epidemiology. London: Arnold.

Gordis, L (2000). Epidemiology. Philadelphia, PA: WB Saunders Co.

In Populations at risk of HIV. Family Health International.

Murti, Bisma (2010), Surveilan Kesehatan masyarakat

Priority Project. http://www.dcp2.org/file/153/dcpp-surveillance.pdf

USAID, FHI. 2007. Scaling Up the Continuum of Care for People Living with HIV in Asia and the

WHO. 2007. Surveillance of Population at High Risk for HIV Transmission. World Health Organization.

WHO.2007. Surveillance of HIV Risk Behaviors. Participant Manual. World Health Organization.

Erme MA, Quade TC (2010). Epidemiologic surveillance. Enote. http://www.enotes.com/public-health…/

epidemiologic-surveillance. Diakses 21 Agustus 2010.

JHU (=Johns Hopkins University) (2006). Disaster epidemiology. Baltimore, MD: The Johns Hopkins and IFRC Public Health Guide for Emergencies.

Last, JM (2001). A dictionary of epidemiology. New York: Oxford University Press, Inc.

Mandl KD, Overhage M, Wagner MM, Lober WB, Sebastiani P, Mostahari F, Pavlin JA, Gesteland PH,

Treadwell T, Koski E, Hutwagner L, Buckeridge DL , Aller RD, Grannis S (2004). Implementing syndromic surveillance: A practical guide informed by the early experience. J Am Med Inform Assoc., 11:141–150.

McNabb SJN, Chungong S, Ryan M, Wuhib T, Nsubuga P, Alemu W, Karande-Kulis V, Rodier G (2002).Conceptual framework of public health surveillance and action and its application in health sector reform. BMC Public Health, 2:2 http://www.biomedcentral. Com

Pavlin JA (2003). Investigation of disease outbreaks detected by “syndromic” surveillance systems.

Journal of Urban Health: Bulletin of the New York Academy of Medicine, 80 (Suppl 1): i107-

i114(1).

Sloan PD, MacFarqubar JK, Sickbert-Bennett E, Mitchell CM, Akers R, Weber DJ, Howard K (2006).

Syndromic surveillance for emerging infections in office practice using billing data. Ann Fam

Med 2006;4:351-358.

WHO (2001). An integrated approach to communicable disease surveillance. Weekly epidemiological

record, 75: 1-8. http://www.who.int/wer

_____ (2002). Surveillance: slides. http://www.who.int

Wuhib T, Chorba TL, Davidiants V, MacKenzie WR, McNabb SJN (2002). Assessment of the infectious

diseases surveillance system of the Republic of Armenia: an example of surveillance in The

Republics of the former Soviet Union. BMC Public Health, 2:3 http://www.biomedcentral.com.

X.        Lembar Penugasan:

  1. 1.    Kelas di bagi menjadi 4 kelompok dengan kegiatan
    1. Diskusi pelaksanaan surveilan; data collecting, data compilasi, data analysis, data interpretasi dan disseminasi data HIV dan AIDS  di Indonesia
    2. Menjelaskan epidemiologi HIV dan AIDS di Indonesia  berdasarkan karakteristik data HIV dan AIDS di Indonesia tahun 2012 (IV.3)
    3. Merumuskan manfaat surveilans HIV dan AIDS berdasarkan data yang telah di analisis.
    4. 2.    Kegiatan Praktik Lapangan untuk dimaksudkan untuk memberikan kesan dan pengalaman bagi peserta pelatihan tentang bagaimana pelaksanaan surveilans HIV dan AIDS di unit Pelayanan kesehatan ( PKM, RS, LSM), meliputi :
      1. Bagaimana epidemiologi HIV dan AIDS (distribusi kasus HIV dan AIDS menurut variable orang(;mis.umur, jenis kelamin,), variable waktu (kecenderungan kasus HIV dan AIDS dari waktu ke waktu) dan variable tempat di tempat praktek (unit layanan kesehatan).
      2. Bagaimana pelaksanaan surveilans di unit layanan yang dikunjungi (bagaimana pengumpulan data HIV dan AIDS, analisis data, dan penyebar luasan data HIV dan AIDS).
      3. Bagaimana kelengkapan dan validitas  laporan kasus HIV dan AIDS
      4. 3.    Merencanakan program pencegahan HIV dan AIDS berdasarkan hasil analisis data surveilans.
      5. 4.    Rencana Aksi Penanggulangan HIV dan AIDS

TerLampir

 

  1. 5.   

Surveilans Kesehatan Masyarakat Oleh Prof. Dr. Ridwan Amiruddin, SKM.,M.Kes.,MSc.PH.


Sinopsis

Surveilans telah memberi dampak yang sangat luas dalam berbagai bidang termasuk dalam bidang kesehatan. Aplikasi surveilans dalam kesehatan memiliki keunikan tersendiri yang memerlukan pengkajian khusus, bagaimana melakukan deteksi dini terhadap berbagai masalah kesehatan sehingga dapat mengurangi dampak buruk bagi kesehatan.

Pemahaman yang baik terhadap system surveilan akan mengantarkan kita pada kemampuan melakukan pengendalian terhadap berbagai penyakit dan masalah kesehatan yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Secara singkat buku ini mengajak pembaca untuk melakukan kajian dan tindakan nyata dalam mengembangkan surveilan langkah demi langkah, mulai dari identifikasi masalah, analisis data sampai pada tindak lanjut program. Penulisan buku ini diilhami oleh masih terbatasnya referensi  tentang surveilans yang berbasis wilayah, disamping itu  atas dukungan pengalaman penulis melakukan riset tentang surveilan dalam rangka melakukan respon epidemic H1N1, DBD dan Malaria bersama Dinas Kesehatan Prop.Sulawsi Selatan  serta dukungan kementerian pendidikan Indonesia dalam program academic recharging di Griffith Australia.

Harapan penulis  buku ini dapat digunakan oleh  mahasiswa tingkat sarjana maupun pascasarjana yang sementara belajar tentang  surveilans kesehatan begitu juga bagi praktisi kesehatan dalam mengembangan program surveilans yang lebih baik.

KEBIJAKAN & RESPON EPIDEMIK PENYAKIT MENULAR ; Oleh : Prof. Dr. Ridwan Amiruddin, SKM,M.Kes,M.Sc.PH


Synopsis buku 2013

Buku ini berisi tentang analisis kebijakan dan respons terhadap penyakit yang berpotensi mengalami kejadian luar biasa. Baik yang masih dalam kategori normal ataupun berdasarkan derajat endemisitas; endemik, epidemik maupun yang sudah bersifat pandemik. Sorotan utama penulis pada buku ini adalah peran epidemiologi dalam pengendalian penyakit menular khusunya penyakit berbasis vector seperti malaria, DBD ataupun penyakit TB serta HIV dan AIDS. Secara khusus buku ini banyak mengupas kasus HIV dan AIDS  dan perilaku berisiko penularannya yang menjadi kegelisahan semua pihak baik secara lokal, nasional maupun global.

Kajian ini mengupas siklus penularan penyakit, kebijakan pengendalian penyakit dengan berbagai kajian dan analisis mutakhir serta komunikasi kejadian luar biasa penyakit sebagai salah satu upaya penulis untuk ikut serta dalam penyediaan bahan kajian dalam program pencegahan dan pengendalian penyakit yang berdampak luas bagi status kesehatan  masyarakat. Harapan  penulis buku ini dapat menjadi rujukan bagi mahasiswa kesehatan mapun kedokteran dari berbagai jenjang pendidikan bahkan bagi pengambil kebijakan baik sektor kesehatan maupun  sektor lain yang terlibat dalam penanggulangan berbagai penyakit menular.

My Daily routine


Salam untuk seluruh sahabat terbaikku, ada rasa rindu yang sangat dalam aku rasakan untuk berbagi dengan  kalian semua. beberapa waktu ini saya jarang menjenguk blog ini, berhubungan aktifitas  mengajar, kerja laporan yang cukup intens. Namun demikian selalu aku merasa ada hal yang harus aku bagi dengan  sahabat sekalian.  Pengalamam spiritual sebagai hamba Allah, swt. yang tak  pernah kering untuk dibagi, tentu sebuah   story yang mengasyikkan.

Akhir akhir ini  saya sedang   menyelesaikan amanah mengajar di  jenjang  Sarjana, Magister dan program   Doktoral. Tentu ini aktifitas yang sangat mengasyikkan, setiap hari bertemu dengan  berbagai karakter yang  begitu haus akan ilmu pengetahuan, sangat rutin  memberi kuliah, diskusi tugas,  penulisan laporan penelitian, presentase, dan mengikuti International conference. Untuk tahun ini saya berkesempatan untuk mengikuti dua event International konference untuk membawakan oral presentase. Pertama di Malaysia dengan program International Conference of Epidemiology  yang dilaksanakan  beberapa bulan yang lalu, dan pada 13-18 Oktober 2012  di  Colombo, Srilangka. Program seperti ini menjadi ajang untuk membagi pengetahuan  dan pengalaman dengan  scientist dari berbagai negara.

Sahabatku, aku merasakan begitu nikmat Allah, swt  yang luar biasa telah dilimpahkan bagiku, nikmat iman, kesehatan, keluarga,  dan masih banyak yang lainnya, yang tentu tidak terhitung banyaknya. Untuk itu, bagiku tiada kata yang paling pantas  kuucapkan adalah Puji syukur ke hadirat Mu, serta salam dan taslim senantiasa kepada junjungan nabiyullah Muhammad saw. yang telah mengantarkan  nikmat iman dan Islam ini sehingga bisa sampai kepada kita semua. Aku yakin bahwa bila seorang hamba menyukuri nikmatNya maka  Allah akan menamba nikmat tersebut tak terkira dan dari sumber yang tak disangka-sangka. Untuk itu semua bentuk kesyukuranku adalah kepersembahkan sujud syukurku setiap saat dan melafaskan namamu di setiap relung sanubariku, setiap helaan nafasku terucap   namu Ya Allah.   Yaa Allah Yaa rabbi Semoga aku dijauhkan dari sikap takabur atas nikmatmu dan sikap sombong. Lindungilah aku dan keluargaku dari hal hal yang kurang baik. limpahkanlah karuniamu dan berkahilah hidup kami, dan hidup seluruh sahabat-sahabat terbaikku.

Kiranya demikian untuk sementara

RA

Makassar 9 okt 2012

Stranded the end of October 2011.


Sahabatku..

Akhir bulan Oktober 2011, maskapai spirit of Australia “Qantas” mengkandangkan seluruh pesawat yang dia miliki di lebih 20 lokasi di seluruh dunia, dan itu berdampak luar biasa bagi ekonomi, pariwisata dan berbagai kegiatan lainnya, pemandangan dibandara sangat menyedihakn, penumpan terlantar, kelaparan, stress, dan bingun. Pihak Qantas tidak mampu menahan gempuran tiga serikat kerja, pilot, angkutan darat, dan pekerja di bandara. Semua ini berawal dari, keinginan ‘Qantas” untuk mengurangi jumlah karyawannya lebih 1000 orang, dan akan melakukan outsourcing  karyawan.

Keresahan seluruh pekerja “Qantas” semakin menjadi-jadi sampai puncaknya di akhir oktober (29/1002011), pihak manajement Qantas meng ‘ground’ kan seluruh armadanya, dan kepanikan pun menjalar keseluruh penjuruh. berbagai pihak mulai saling menyalahkan, dari manajemen penerbangan ;’ tentu dia menyalahkan demonstrasi tenaga kerja secara intens  2 bulan terakhir, dan rupanya  “Qantas” merespon dengan menutup seluruh penerbangannya di seluruh dunia.

Ini menjadi menarik bagi saya pribadi karena pada periode kritis itu, keluarga saya; isteri dan  anak saya ada dalam jadwal penerbangan 30-31 oktober menuju Australia. Setelah dilanda panik seharian di Jakarta, tentang pembatalan keberangkatan; titik cerah mulai muncul, pihak qantas menelpon bahwa, penerbangan ibu di alihkan ke garuda, menuju Singapura, kemudian dilanjutkan dengan Etihad Ke Brisbane , dan Insya Tiba di Brisbane pada tanggal 31 Oktober 2011. waktu tulisan ini dibuat, mereka masih sementara  dalam penerbangan ke Singapura.

Besok, Insya Allah akan tiba di Bandara Brisbane. Pelajaran singkat dari hal ini adalah bahwa, terdapat begitu banyak hal diluar kendali kita, karena itu, tiada tempat untuk bersandar kecuali pada Kuasa Allah Semata. Dialah yang telah mengatur jalannya tatasurya, siklus musim, sampai pada unsur  terkecil dari kehidupan.

Hal yang bisa kita lakukan adalah, berfikir rasional, mencermati perkembangan, bersabar dan senantiasa berdoa bahwa semua hal yang terjadi ini adalah sudah digariskan adanya. Karena itu, Yah Allah, kepasrahan penuh ada padamu, untuk seluruh kebaikan, semoga engkau berkenan. Amin ya rabbal Alamin.

 

R.A.

BNE; 30 oct 11.

 

Kearifan Kehidupan


Kearifan kehidupan

Seiring berjalannya waktu, pengalaman akan membentuk seseorang menjadi sosok yang  berkarakter. Kemampuan mengelola masalah  menempah seseorang  menjadi pribadi yang sangat bijak. Begitu harapan setiap orang terdidik, namun pada situasi yang berbeda pengalaman hidup tidak memberi pelajaran kearifan kepada yang lain, terkadang aturan aturan tentang fairness, harus berlaku pada orang lain saja, tapi pada saat yang bersamaan seseorang  menggunakan standar ganda tentang  keadilan, kejujuran dan hal-hal baik yang lain. Karena kejujuran, keadilan ternyata  memang pahit, memberi gejolak dan gelorah keserakahan.

Kearifan tentang kehidupan ini saya goreskan kembali untuk berbagi dengan sahabat-sahabat terbaik,  bahwa meski kiamat akan datang besok, jangan pernah berhenti untuk menabur kebaikan, bila kebiasaan  yang baik yang senantiasa dilakukan, maka kebaikan-kebaikan itu juga akan kembali kepada  dirimu.  Begitu pula sebaliknya, siapa yang menabur kebiasaan buruk akan menuai badai. Sudah begitu banyak  fakta disekitar kita, sehingga belajarlah dari hal-hal yang  baik, amalkan dan nikmati hasilnya.  Menikmati  hidup adalah menghargai setiap waktu yang telah di sediakan  dengan  berbuat kebajikan; belajar, menolong orang lain, jujur pada diri sendiri, orang lain dan tentu jujur pada sang Khalik.

Menikmati hidup bukan berarti sibuk mengurus diri sendiri, tetapi memberi manfaat seluas-luasnya  kepada alam.   Menjadi penyubur kehidupan, karena  kehidupan yang kita nikmati ini adalah kebaikan-kebaikan yang telah ditanam oleh orang-orang baik sebelum kita. Karena itu kalau kamu berbuat kebaikan hari ini, mungkin ada baiknya tidaklah menharap bahwa  padi yang kau tanam hari ini kamu akan panen besok, kalau itu yang terfikirkan; ibaratlah pak tani yang menggarap sawahnya, menanami padi dan menunggu  3 bulan kemudian dia akan panen. Seorang arif, akan senantiasa menanam kabaikan untuk kehidupan, sebagai wujud suka citanya dan terimaksihnya kepada sang Khalik.

Kalau kamu merasa terdidik, kemudian kebaikan yang kamu lakukan hari ini harus kamu dapatkan imbalannya 3 bulan kemudian; jadi, apa bedanya kamu dengan seorang pak tani??? Berhentilah berfikir seperti itu, sekarang bangunlah kosep baru kehidupanmu, petakan dekade kehidupanmu, mendaki terus menuju puncak kesuksesanmu, berpetualan dalam kebaikan dan menghargai kehidupan. Ukurlah bila sesuatu tidak adil menurut batinmu, mungkin kamu telah menganiaya seseorang, jadi bangunlah kepekaan sosial kamu, sehingga   dunia ini menjadi tempat yang indah dimana pun kamu berada. Berhentilah untuk sibuk memikirkan sumber kekayaan orang lain, karena tidak pernah tertukar rezeki kamu dengan siapapun.

Setiap insan telah lahir dengan kodratnya; semua harus berusaha mengikuti kodratnya, karena ternyata semut hitam yang ada di dalam batu hitam di tengah malam sekalipun Tuhan telah menyiapkan rezekinya. Karena itu kebaikan-kebaiakan yang dibiasakan; ketukan hati, pikiran, sikap, tindakan adalah iramah kehidupan  untuk melancarkan rezeki itu. Begitu hukum siklus kehidupan, jangan pernah menyumbat aliran kehidupan, karena bila itu kamu lakukan, yakinlah kamu sedang menyumbat aliran kehidupanmu sendiri.

R.A.

Unipark Brisbane

22 oct 2011

Tujuan Kehidupan


Tulisan ini diinspirasi dari perenungan beberapa minggu dalam long tour di Australia, bergantinya hari demi hari, berputarnya siang dan malam, adalah sebuah sunnatullah. tersedianya sumber sumber kehidupan juga adalah sunnatullah. Begitu luar biasanya kehidupan ini, sehingga sering sekali kita mendengar ayat; maka nikmat tuhanmu yang mana lagi engkau ingkari.

Sungguh sebuah kerugian, bila berputarnya hari, siang dan malam, berlalu hanya sebagai sebuah peristiwa yang tercatat di kalender harian. Semestinya, hari hari yang berlalu ini diisi dengan berbagai aktifitas yang tentu harus memberi manfaat yang seluas-luasnya bagi kehidupan.

Seorang guru sejatinya mengajari murid-muridnya dengan sepenuh hati, sebagai bentuk terima kasihnya pada penciptanya, seorang siswa tentu belajar dengan giat adalah bentuk terima kasihnya kepada yang Maha Kuasa, seorang pedagang di pasar sejatinya melayani pembeli dengan sepenuh hati. Setiap interaksi kehidupan, sejatinya adalah bentuk kesyukuran yang sangat dalam pada sang Khalik.
Kehidupan seharusnya di hargai, dijunjung dan di nimati, bukan menjadikan kehidupan ini sebagai beban karena bila itu yang terlahir, sungguh sangat meruginya kita dilahirkan dan sangat tersiksanya hari demi hari yang dilewati.

Memberi pelayanan terbaik kepada orang lain, adalah bentuk penghormatan yang sangat luhur bagi diri sendiri, melayani dengan senyum, bertutur kata yang menyenangkan, bertindak tanduk yang sopan, sungguh sangat mulia dan tentu betapa nikmatnya hidup ini.

Kutulis ini dengan sepenuh hati untuk menbagi kebahagian diantara sahabat sahabatku. Bahwa hari ini saya sangat bahagia, menjalani hidup dengan penuh gairah, berterima kasih kepada sang khalik setiap tarikan nafasku, membantu teman, melayani mahasiswa, membimbing putra-putriku, berbagi cerita dengan keluarga, serta merampungkan tugas-tugas kantor dengan penuh tanggung jawab, sungguh merupakan hari-hari yang luar biasa.

Kiranya demikian goresan hari ini.

University Park
Griffith University
Brisbane Australia
21 Oct. 2011

catatan ringan refresher course strengthening policy in Indonesia


Catatan ringan dari refresher corse training strengthening policy makin in Indonesia untuk alumni Royal Institute Amsterdam KIT berkolaborasi dengan FK UGM 11-21 april 2011.
Berawal dari sebual surat electronik di inbox gmailku, sebuah invitation untuk mengikuti sebuah refresher course trainng di FK UGM, sungguh sebuah undangan yang cukup menantang, undangan harus di sertai dengan berbagai kriteria yang harus dipenuhi untuk menjadi pesertanya. Dan syukur setelah melengkapoi seluruh proposal sebagai peserta, maka terkirimlah balasan terhadap keikutsertaan saya pada course tersebut, dan seminggu kemudian inbox saya kembali menerima sebuah email bahwa saya dinyatakan diterima untuk course tersebut.
Kebimbangan muncul karena meninggalkan kampus tempat mengajar selama sekitar dua minggu termasuk cukup lama untuk course di Indonesia, banyak mahasiswa yang mau konsultasi riset, jadwal ngajar yang harus ditinggalkan. Sungguh sebuah pilihan yang mermerlukan pertimbangan matang. Setelah menimbang urgensi program dan demi peningkatan kualitas pendidikan serta ketatnya persaingan untuk mengikuti course ini maka penulis putuskan untuk mengikuti program tersebut. Jadwal kuliah bisa di sesuaikan dengan tim pengajar yang lain, konsultasi dengan mahasiswa bisa dengan email dan telepon langsung, jadi semua dapat di laksanakan dengan baik.
Berangakt ke Jogyakarta, semuanya berjalan lancar, bertemu dengan berbagai peserta dari berbagai institusi ternama, baik dari universitas maupun dari lembaga pemerintahan dari seluruh Indonesia, bahkan dari luar negeri. Dengan pemateri dari Royal instite dan dari FK UGM serta penginapan yang cukup mudah untuk di akses dengan suasana pembelajaran yang interaktif membuat suasana course sangat dinamis.
Materi yang ditawarkan sangat menarik, mulai dari proses kebijakan kesehatan dampak desentralisasi, Jamkesmas, pengembangan idikator, Q&A, equity, equality, M&E, mindmap dan berbagai kegiatan lainnya. Semua materi yang ditawarkan sangat berkualitas, yah sebuah kursus penyegaran yang qualified dari lembaga internatinal sekelas Royal Institute serta para pakar dari Indonesia.
Program lain yang tak kalah menariknya adalah kegiatan excursion ke gunung merapi, meseum, keraton Jogyakarta, Lesehan di Malioboro, pusat jamu Godhok, Pusat kerajinan silver dan gerabah di Jogya.
The course has improved our horison and networking to strengthening health policy in Indonesia, success.
Jogya 17th april 2011

Transisi penyakit dan JKN


Ajarkan ilmu yang kau miliki untuk mendapatkan keberkahan hidup

"New Paradigm for Public Health"

Tanya Jawab Transisi penyakit dan JKN
1) Apa dampak Transisi Penyakit pada JKN?
Jawab:
Konsekuensi dari transisi penyakit di Indonesia adalah beban dari pemeliharaan kesehatan masyarakat yang optimal harus dilaksanakan oleh tenaga kesehatan yang berkualitas serta didukung dengan kemajuan teknologi dibidang kesehatan akan memberikan kontribusi yang sangat besar dalam usaha mencegah, mengobati, dan merehabilitasi suatu penyakit ini berarti harus ada perubahan terstandar dalam menjamin kualitas pelayanan yang memadai. Sistem Jaminan Kesehatan Nasional mensyaratkan pemeriksaan berjenjang bagi peserta. Dengan adanya transisi penyakit yang semakin cepat maka akan berdampak pada sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dituntut agar adanya sosialisasi dalam membuat strategi perubahan paradigma berobat di masyarakat. Karena belum terbiasa, banyak peserta merasa sistem rujukan menyusahkan. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan perlu menyiapkan masa transisi agar masyarakat siap.

2) Apa dampak 5 level prevention pada JKN?
Jawab :
1. Health promotion
Health promotion (promosi kesehatan) merupakan pencegahan tingkat pertama atau primary…

View original post 931 more words

Transisi penyakit dan JKN


Tanya Jawab Transisi penyakit dan JKN
1) Apa dampak Transisi Penyakit pada JKN?
Jawab:
Konsekuensi dari transisi penyakit di Indonesia adalah beban dari pemeliharaan kesehatan masyarakat yang optimal harus dilaksanakan oleh tenaga kesehatan yang berkualitas serta didukung dengan kemajuan teknologi dibidang kesehatan akan memberikan kontribusi yang sangat besar dalam usaha mencegah, mengobati, dan merehabilitasi suatu penyakit ini berarti harus ada perubahan terstandar dalam menjamin kualitas pelayanan yang memadai. Sistem Jaminan Kesehatan Nasional mensyaratkan pemeriksaan berjenjang bagi peserta. Dengan adanya transisi penyakit yang semakin cepat maka akan berdampak pada sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dituntut agar adanya sosialisasi dalam membuat strategi perubahan paradigma berobat di masyarakat. Karena belum terbiasa, banyak peserta merasa sistem rujukan menyusahkan. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan perlu menyiapkan masa transisi agar masyarakat siap.

2) Apa dampak 5 level prevention pada JKN?
Jawab :
1. Health promotion
Health promotion (promosi kesehatan) merupakan pencegahan tingkat pertama atau primary prevention dalam upaya peningkatan status kesehatan. JKN merupakan upaya pemerintah dalam mensejahterakan kehidupan dan kesehatan masyarakat menjadi lebih setara. Dengan adanya health promotion atau promosi kesehatan pada JKN maka akan memberi dampak positif terhadap pengenalan awal JKN kepada masyarakat melalui sosialisasi dan penyuluhan; beban kerja yang di topang oleh JKN akan semakin ringan; dan akan berdampak pada perbaikan serta peningkatan sistem pelayanan kesehatan JKN untuk masyarakat.
2. Specific Protection
Dengan adanya pencegahan khusus terhadap suatu penyakit dari awalnya, maka akan memberikan dampak yang baik pada JKN, dimana pencegahan dari penyakit-penyakit yang sudah termasuk dan terdaftar dalam Jaminan Kesehatan dapat ditekan dengan pencegahan khusus yang lebih spesfik sebelum menuju ke penyakit yang lebih berat atau lebih parah. Ini akan menghindarkan JKN mengeluarkan biaya pengobatan, perawatan yang lebih tinggi.

3. Early diagnosis and Promt treatment
Diagnosis awal dan pengobatan Tepat, Pada tahap ini sebenarnya adalah bagian JKN dimana saat seorang telah mendaftarkan dirinya sebagai peserta akan dipastikan mendapatkan pelayanan yang berbasis diagnosis awal dan pengobatan yang tepat saat peserta sakit. Pendiagnosaan awal pada JKN memberikan dampak yang signifikan dimana saat pendiagnosaan awal penyakit salah atau kurang tepat pelaksanaannya maka akan mempengaruhi pengobatan apa yang tepat untuk diberikan kepada pasien dan ini secara langsung juga berdampak pada struktur program kerja dan tidak sesuai dengan jaminan standar pelayanan .
4. Disability Limitation (Pembatasan Kecacatan)
Tahap pencegahan ini merupakan tahap yang berdampak besar terhadap JKN, dimana pembatasan kecacatan kelompok targetnya adalah pasien atau kondisi perorangan. Yang merupakan manfaat dari JKN. Dengan adanya tahap pencegahan pembatasan kecacatan, maka JKN telah memberikan benefit yang luar biasa bagi peserta JKN, namun dilihat lagi dari bagaimana pembatasan kecacatan yang diatur oleh JKN, namun hal tersebut tidak menjadi masalah jika sudah tercapai standar pelayanan untuk membatasi kecactatan perseorangan.
5. Rehabilitation (Rehabilitasi)
Tahap rehabilitasi tidak memiliki dampak yang berpengaruh terhadap JKN karena disaat pasien sakit/ cacat tidak termasuk dalam jaminan kesehatan. Namun ada undang-undang lain yang mengatur masalah kecacatan tersendiri. Tapi apabila dimasukkan maka iuran tambahan biaya dalam pengurusan tentang jaminan kesehatan peserta dalam hal ini perspektif sembuh tapi cacat pasti akan menambah dan membuat biaya atau iuran akan semakin meningkat dan itu di luar tanggungan JKN.

3) Bagaimana transisi epidemiologi di Indonesia?
Jawab:
Seiring dengan tingkat perkembangan pola kehidupan (tingkat kesejahteraan) di Indonesia, pola penyakit mengalami transisi epidemiologi, dengan ditandai beralihnya penyebab kematian yang semula didominasi oleh penyakit menular bergeser ke penyakit tidak menular. Sekaligus juga menghadapi penyakit-penyakit yang muncul kembali seperti HIV/AIDS, TB dan Malaria.
Perubahan pola penyakit ini sangat dipengaruhi oleh perubahan lingkungan, perubahan perilaku, transisi demografi, sosial ekonomi dan sosial budaya. Dengan demikian Pembangunan bidang kesehatan saat ini dihadapkan pada Triple Burden Disease (Penyakit Menular, Penyakit Tidak Menular dan Re-emerging diseases).
Penyakit tidak menular meningkat drastis sementara penyakit menular masih menjadi penyebab penyakit yang utama. Gangguan jantung dan pembuluh darah seringkali bermula dari hipertensi, atau tekanan darah tinggi. Selain itu, hipertensi yang merupakan suatu kelainan vaskuler awal, dapat menyebabkan gangguan ginjal, merusak kerja mata, dan menimbulkan kelainan atau gangguan kerja otak sehingga dapat menghambat pemanfaatan kemampuan intelegensia secara maksimal.
Penyakit kardiovaskuler (jantung) menjadi penyebab dari 30% kematian di Jawa dan Bali dan bahkan beberapa daerah di wilayah Republik Indonesia. Di Indonesia juga berada diantara 10 negara di dunia dengan penderita diabetes terbesar. Namun, disaat bersamaan penyakit menular dan bersifat parasit menjadi penyebab dari sekitar 22 % kematian di Indonesia. Angka kematian ibu dan bayi di Indonesia juga lebih tinggi dibandingkan dengan kebanyakan negara tetangga. Satu dari dua puluh anak meninggal sebelum mencapai usia lima tahun dan seorang ibu meninggal akibat proses melahirkan dari setiap 325 kelahiran hidup. Perubahan yang diiringi semakin kompleksnya pola penyakit merupakan tantangan terbesar bagi sistem kesehatan di Indonesia.
Di antara tahap shaft rock dan tahap hard rock terdapat tahap intermediate rock. Banyak propinsi di Indonesia, dan Indonesia secara keseluruhan, kini berada pada tahap lntermediate rock. Di tahap ini, penyebab kematian merupakan gabungan penyakit menular dan penyakit degeneratif, kelainan jiwa, serta kecelakaan.
Gangguan jantung dan pembuluh darah seringkali bermula dari hipertensi, atau tekanan darah tinggi. Selain itu, hipertensi yang merupakan suatu kelainan vaskuler awal, dapat menyebabkan gangguan ginjal, merusak kerja mata, dan menimbulkan kelainan atau gangguan kerja otak sehingga dapat menghambat pemanfaatan kemampuan intelegensia secara maksimal.

4) Apa strategi yang harus dilakukan untuk mengendalikan Transisi Penyakit di Indonesia?
Jawab :
1. Menggerakkan dan Memberdayakan Masyarakat Untuk Hidup Sehat.
Sasaran utama strategi ini adalah seluruh desa danperkotaan menjadi desa siaga, seluruh masyarakat berperilaku hidup bersih dan sehat serta seluruh keluarga sadar gizi.
2. Meningkatkan Akses Masyarakat Tehadap Pelayanan Kesehatan Yang Berkualitas.
Sasaran utama strategi ini adalah ; Setiap orang miskin mendapatkan pelayanan kesehatan yang bermutu; setipa bayi, anak, dan kelompok masyarakat risiko tinggi terlindungi dari penyakit; di setiap desa tersedia SDM kesehatan yang kompeten; di setiap desa tersedia cukup obat esensial dan alat kesehatan dasar; setiap Puskesmas dan jaringannya dapat menjangkau dan dijangkau seluruh masyarakat di wilayah kerjanya; pelayanan kesehatan di setiap rumah sakit, Puskesmas dan jaringannya memenuhi standar mutu.
3. Meningkatkan Sistem Surveillans, Monitoring Dan Informasi Kesehatan.
Sasaran utama dari strategi ini adalah : setiap kejadian penyakit terlaporkan secara cepat kepada desa/lurah untuk kemudian diteruskan ke instansi kesehatan terdekat; setiap kejadian luar biasa (KLB) dan wabah penyakit tertanggulangi secara cepat dan tepat sehingga tidak menimbulkan dampak kesehatan masyarakat; semua ketersediaan farmasi, makanan dan perbekalan kesehatan memenuhi syarat; terkendalinya pencemaran lingkungan sesuai dengan standar kesehatan; dan berfungsinya sistem informasi kesehatan yang evidence based di seluruh Indonesia.
4. Meningkatkan Pembiayaan Kesehatan.
Sasaran utama dari strategi ini adalah : pembangunan kesehatan memperoleh prioritas penganggaran pemerintah pusat dan daerah; anggaran kesehatan pemerintah diutamakan untuk upaya pencegahan dan promosi kesehatan; dan terciptanya sistem jaminan pembiayaan kesehatan terutama bagi rakyat miskin.

Smoking Behaviors Of Street Childrens In Makassar Indonesia Oleh:Ridwan Amiruddin, Darmawangsa, Jumriani, Awaluddin, Darmawan, Nurul Azizah, Epidemiology Department, Public Health Faculty, Hasanuddin University Makassar


ABSTRACT
Street children are vulnerable groups of risky behavior, one of which is smoking behavior. Smoking behavior is influenced by several factors. This study aims to describe smoking behavior of street children in Makassar and its relation with school status, living with parents, family history of smoking, peer influence, and level of religiosity of the street children.
The research design used was analytical observational cross sectional study. Research was carried out in January until February 2013. The population of this study are 990 street children with the sample of 277 street children in Makassar. Sample election technique used is non probability in accidental sampling with inclusion criteria of respondents aged 10-19 years and Muslims. Data analyzed with chi square test with confidence interval of 95% (α=0.05).
Results of this research show that 48% of street children have ever smoked and 37.2% of street children were still smoking in the last 30 days. Results of statistical test using chi square test showed that there is a relationship between living with parents (p = 0.002; phi = -0196) and levels of religiosity (p = 0023; phi = -0137) with smoking behavior of street children that have the strength of a weak association. However, there was no relationship with school status (p = 0613), family history (p = 0874), and peer influence (p = 0157) with the smoking behavior of street children.
This research suggests to give education about dangers of smoking, provide religious values for them and involve them in religious social activities, family empowerment approach to parents to guide their children not to smoke, and optimize function of NGOs or shelters for street children.
Keywords : smoking behavior, street children, school status, living with parents, family history, peer influence, religiosity, Makassar

RISK FACTORS AND EARLY DETECTION TYPE 2 DIABETES MELLITUS IN TEMPE WAJO DISTRICT SOUTH SULAWESI INDONESIA Ridwan Amiruddin 1, Anna Widiastuty Rahmah 2 Stang3Jumriani4Dian


Abstract

The prevalence of type 2 diabetes is increasing in all populations in the worldwide. The research aimed to know the relationship between risk factors and early detection of the Type 2 Diabetes Mellitus. This study was use a cross sectional design. Respondents in this research were 300 samples. Data collection was carried out through interviews, antropometry measurement and uptake of blood sugar levels,. The data were analyzed by using statistical test of chisquare bivariat and multivariate test with logistic regression test. The result showed central obesity (p=0,000), vegetable and fruit consumption (p=0,000), physical activities (p=0,033), smoking (p=0,000) and stress (p=0,021) have the relationship with the occurence of Type 2 Diabetes Mellitus. Multivariate logistic regression test showed that the consumption of vegetable and fruit is the most influential factors on the occurence of Type 2 Diabetes Mellitus (p=0,000). The validity value of early detection using Modified AUSDRISK score compared plasma glucose as the gold standard are the sensitivity of 93,46% and specificity of 70,98%. This study proves that the risk factors (central obesity, fruit and vegetable consumption, smoking and stress) associated with the incidence of type 2 diabetes mellitus.

Keywords: Risk factors, early detection, Type 2 DM.

http://www.ijcrar.com/currentissue.php

Original Research Articles

1. Ridwan Amiruddin, Stang, Jumriani Ansar, Dian Sidik, and Anna Widiastuty Rahman
Diabetic Mellitus Type 2 in Wajo South Sulawesi, Indonesia
Int.J.Curr.Res.Aca.Rev. 2014.2(12): 1-8
[View Full Text-PDF]