Current Issue Kematian Anak karena Penyakit Diare
CURRENT ISSUE KEMATIAN ANAK( PENYAKIT DIARE ) O L E H DR.Ridwan Amiruddin, SKM,M.Kes, dkk FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKATJURUSAN EPIDEMIOLOGIUNIVERSITAS HASANUDDINMAKASSAR2007
ABSTRAKDiare adalah penyakit yang ditandai dengan bertambahnya frekuensi berak lebih dari biasanya ( 3 atau lebih per hari ) yang disertai perubahan bentuk dan konsistensi tinja dari penderita. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi mikroorganisme termasuk bakteri, virus dan parasit lainnya seperti jamur, cacing dan protozoa. Salah satu bakteri penyebab diare adalah bakteri Escherichia coli Enteropatogenik (EPEC). Secara klinis penyebab diare dapat dikelompokkan dalam golongan 6 besar yaitu karena Infeksi, malabsorbsi, alergi, keracunan, immuno defisiensi, dan penyebab lain, tetapi yang sering ditemukan di lapangan ataupun klinis adalah diare yang disebabkan infeksi dan keracunan.
B A B IPENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit diare masih menjadi penyebab kematian balita (bayi dibawah lima tahun) terbesar di dunia. Menurut catatan Unicef, setiap detik satu balita meninggal karena diare (Inisiatif Kemitraan Pemerintah-Swasta Untuk Cuci Tangan Pakai Sabun; Available from : www.ampl.or.id). Diare seringkali dianggap sebagai penyakit sepele, padahal di tingkat global dan nasional fakta menunjukkan sebaliknya. Menurut catatan WHO, diare membunuh dua juta anak di dunia setiap tahun, sedangkan di Indonesia, menurut Surkesnas (2001) diare merupakan salah satu penyebab kematian kedua terbesar pada balita (Jangan Anggap Remeh Diare; Available from : www.medicastore.com). Di Indonesia, sekitar 162 ribu balita meninggal setiap tahun atau sekitar 460 balita setiap harinya.Penyakit Diare di negara maju walaupun sudah terjadi perbaikan kesehatan dan ekonomi masyarakat tetapi insiden diare infeksi tetap tinggi dan masih menjadi masalah kesehatan. Di Inggris 1 dari 5 orang menderita diare infeksi setiap tahunnya dan 1 dari 6 orang pasien yang berobat ke praktek umum menderita diare infeksi. Tingginya kejadian diare di negara Barat ini oleh karena foodborne infections dan waterborne infections yang disebabkan bakteri Salmonella spp, Campylobacter jejuni, Stafilococcus aureus, Bacillus cereus, Clostridium perfringens dan Enterohemorrhagic Escherichia coli (EHEC). Diare infeksi di negara berkembang, menyebabkan kematian sekitar 3 juta penduduk setiap tahun. Di Afrika anak anak terserang diare infeksi 7 kali setiap tahunnya di banding di negara berkembang lainnya mengalami serangan diare 3 kali setiap tahun. (Diare Akut Disebabkan Bakteri; Available from : www.library.usu.ac.id).Diare merupakan penyebab kematian nomor 2 pada Balita dan nomor 3 bagi bayi serta nomor 5 bagi semua umur. Setiap anak di Indonesia mengalami episode diare sebanyak 1,6 – 2 kali per tahun. Dari hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) di Indonesia, diare menempati urutan ke ketiga penyebab kematian bayi (Elemen Seng Mampu Atasi Penyakit Diare; Available from : www.mediaindonesiaonline.com).Diare adalah penyakit yang ditandai dengan bertambahnya frekuensi berak lebih dari biasanya ( 3 atau lebih per hari ) yang disertai perubahan bentuk dan konsistensi tinja dari penderita. (Depkes R I, Kepmenkes RI Tentang Pedoman P2D, Jkt, 2002). Secara klinis penyebab diare dapat dikelompokkan dalam golongan 6 besar yaitu karena Infeksi, malabsorbsi, alergi, keracunan, immuno defisiensi, dan penyebab lain, tetapi yang sering ditemukan di lapangan ataupun klinis adalah diare yang disebabkan infeksi dan keracunan. (Depkes RI, Kepmenkes RI Tentang Pedoman P2D , Jkt , 2002). Adapun penyebab-penyebab tersebut sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor misalnya keadaan gizi, kebiasaan atau perilaku, sanitasi lingkungan, dan sebagainya. Pada tahun 2004, Diare merupakan penyakit dengan frekuensi KLB kelima terbanyak setelah DBD, Campak, Tetanus Neonatorium dan keracunan makanan.B. Rumusan MasalahBerdasarkan latar belakang tersebut maka yang menjadi rumusan masalah dari makalah ini adalah bagaimanakah gambaran epidemiologi, distribusi, frekuensi, determinant, isu, dan program nasional dalam penanganan Penyakit Diare.C. TujuanUntuk mendapatkan gambaran epidemiologi, distribusi, frekuensi, determinant, isu, dan program nasional dalam penanganan Penyakit Diare. B A B IITINJAUAN PUSTAKA A. Kematian AnakAnak merupakan salah satu golongan penduduk yang berada dalam situasi rentan, dalam kehidupannya di tengah masyarakat. Kehidupan anak dipandang rentan karena memiliki ketergantungan tinggi terhadap orangtua. Jika orangtua lalai menjalankan tanggung jawabnya, maka anak akan menghadapi masalah. Angka kematian bayi di Indonesia sebenarnya telah menurun secara signifikan dari sebanyak 147 orang dari setiap 1000 kelahiran pada tahun 1967 menjadi 41 orang pada tahun 1997. Namun meningkat kembali secara drastis pada tahun 1999 menjadi sebanyak 114 orang seiring terjadinya krisis ekonomi pada tahun 1997. (Dep. Kes. dikutip oleh Baharsjah, 1999: 30) Tabel 1Proporsi Dan Peringkat Penyakit Diare Sebagai Penyebab Kematian Bayi Dan Balita Tahun 1986, 1992, 1995, Dan 2001
| Tahun Survei | Penyebab Kematian Bayi | Penyebab Kematian Balita | ||
| Proporsi | Peringkat | Proporsi | Peringkat | |
| SKRT 1986 | 15,5% | 3 | - | - |
| SKRT 1992 | 11% | 2 | - | - |
| SKRT 1995 | 13,9% | 3 | 15,3% | 3 |
| Surkesnas 2001 | 9,4% | 3 | 13,2% | 2 |
Sumber: SKRT dan Surkesnas 2001Berdasarkan pada tabel diatas dapat kita lihat bahwa penyebab kematian bayi akibat diare menurut SKRT yang paling tinggi terdapat pada tahun 1986 dengan proporsi sebesar 15,5% sedangkan pada tahun 2001 berdasarkan pada data Sukenas diketahui bahwa proporsi diare mengalami penurunan sebesar 9,4%.B. Defenisi DiareDiare adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi mikroorganisme termasuk bakteri, virus dan parasit lainnya seperti jamur, cacing dan protozoa. Salah satu bakteri penyebab diare adalah bakteri Escherichia Coli Enteropatogenik (EPEC). Budiarti (1997) melaporkan bahwa sekitar 55% anak-anak di Indonesia terkena diare akibat infeksi EPEC. Gejala klinis diare yang disebabkan infeksi EPEC adalah diare yang berair sangat banyak yang disertai muntah dan badan sedikit demam (Cary dan Bhatnager, 2000 mengacu pada Donnenberg, 2001).Diare adalah penyakit yang ditandai dengan bertambahnya frekuensi berak lebih dari biasanya ( 3 atau lebih per hari ) yang disertai perubahan bentuk dan konsistensi tinja dari penderita. (Depkes RI, Kepmenkes RI Tentang Pedoman P2D,Jkt,2002). Secara klinis penyebab diare dapat dikelompokkan dalam golongan 6 besar yaitu karena Infeksi, malabsorbsi, alergi, keracunan, immuno defisiensi, dan penyebab lain, tetapi yang sering ditemukan di lapangan ataupun klinis adalah diare yang disebabkan infeksi dan keracunan. (Depkes RI, Kepmenkes RI Tentang Pedoman P2D , Jkt , 2002). Adapun penyebab-penyebab tersebut sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor misalnya keadaan gizi, kebiasaan atau perilaku, sanitasi lingkungan, dan sebagainya. C. Etiologi Penyakit Diare1. Infeksi BakteriBeberapa jenis bakteri dapat termakan melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi dan menyebabkan diare, contohnya Campylobacter, Salmonella, Shigella dan Escherichia coli.2. Infeksi VirusBeberapa virus yang menyebabkan diare yaitu rotavirus, Norwalk virus, cytomegalovirus, virus herpes simplex dan virus hepatitis. 3. Intoleransi MakananContohnya pada orang yang tidak dapat mencerna komponen makanan seperti laktosa ( gula dalam susu).4. ParasitParasit, yang masuk ke dalam tubuh melalui makanan atau minuman dan menetap dalam sistem pencernaan. Contohnya Giardia lamblia, Entamoeba histolytica dan Cryptosporidium.5. Reaksi ObatContoh antibiotik, obat-obat tekanan darah dan antasida yang mengandung magnesium.6. Penyakit IntestinalPenyakit inflamasi usus atau penyakit abdominal. Gangguan fungsi usus, seperti sindroma iritasi usus dimana usus tidak dapat bekerja secara normal (Availble from : www.pom-obat.go.id)D. Gejala Penyakit DiareGejala diare atau mencret adalah tinja yang encer dengan frekuensi 4 kali atau lebih dalam sehari, yang kadang disertai :1. Muntah2. Badan lesu atau lemah3. Panas4. Tidak nafsu makan5. Darah dan lendir dalam kotoranRasa mual dan muntah-muntah dapat mendahului diare yang disebabkan oleh infeksi virus. Infeksi bisa secara tiba-tiba menyebabkan diare, muntah, tinja berdarah, demam, penurunan nafsu makan atau kelesuan. Selain itu, dapat pula mengalami sakit perut dan kejang perut, serta gejala- gejala lain seperti flu misalnya agak demam, nyeri otot atau kejang, dan sakit kepala. Gangguan bakteri dan parasit kadang-kadang menyebabkan tinja mengandung darah atau demam tinggi.F. Jenis- Jenis Diare1. Diare akut : merupakan diare yang disebabkan oleh virus yang disebut Rotavirus yang ditandai dengan buang air besar lembek/cair bahkan dapat berupa air saja yang frekuensinya biasanya (3 kali atau lebih dalam sehari) dan berlangsung kurang dari 14 hari. Diare rotavirus ini merupakan virus usus patogen yang menduduki urutan pertama sebagai penyebab diare akut pada anak2. Diare bermasalah: merupakan diare yang disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, parasit, intoleransi laktosa, alergi protein susu sapi. Penularan secara fecal- oral, kontak dari orang ke orang atau kontak orang dengan alat rumah tangga. diare ini umumnya diawali oleh diare cair kemudian pada hari kedua atau ketiga bar muncul darah, dengan maupun tanpa lendir, sakit perut yang diikuti munculnya tenesmus panas disertai hilangnya nafsu makan dan badan terasa lemah.3. Diare persisten: merupakan diare akut yang menetap, dimana titik sentral patogenesis diare persisten adalah kerusakan mukosa usus. penyebab diare persisten sama dengan diare akut.(Pedoman Pemberantasan Penyakit Diare edisi ke 3 depkes RI Direktorat Jenderal PPM& PL tahun 2007)G. Proses Penularan Penyakit DiareAgent infeksius yang menyababkan penyakit diare biasanya ditularkan melalui jalur fekaloral terutama karena : 1. Menelan makanan yang terkontaminasi (terutama makanan sapihan) atau air.2. Kontak dengan tangan yamg terkontaminasi.Beberapa faktor yang dikaitkan dengan bertambahnya penularan kuman entero patogen perut termasuk :1. Tidak memadainya penyediaan air bersih.2. Pembuangan tinja yang tidak higienis3. Vektor4. Aspek sosial ekonomi.H. Pencegahan Terjadinya DiareUntuk menurunkan angka kejadian kematian akibat diare maka diperlukan upaya- upaya pencegahan sebagai berikut:1. Menggunakan air bersih2. Selalu mencuci tangan sebelum dan sesudah makan3. Penggunaan jamban untuk pembuagan tinja4. Memberikan ASI5. Memperbaiki makanan pendamping ASI6. Memberikan imunisasi campak.I. Pengobatan Terhadap Penyakit DiareKarena bahaya diare terletak pada dehidrasi maka penanggulangannya dengan cara mencegah timbulnya dehidrasi dan rehidrasi intensif bila telah terjadi dehidrasi. Cairan rehidrasi oral yang dipakai oleh masyarakat adalah air kelapa, air tajin, ASI, air teh encer, sup wortel, air perasan buah, dan larutan gula garam (LGG). pemakaian cairan ini lebih dititik beratkan pada pencegahan timbulnya dehidrasi, sedangkan bila terjadi dehidrasi sedang atau berat sebaiknya diberi minum oralit.Oralit merupakan salah satu cairan pilihan untuk mencegah dan mengatasi dehidrasi. Oralit sudah dilengkapi dengan elektrolit, sehingga dapat menggantikan elektrolityang ikut hilang bersama cairan (Menangani Diare Pada Anak Dengan Tepat; Available from : www.medicastore.com) Tabel 2Takaran Pemberian Oralit
| Umur | Jumlah Cairan |
| Di bawah 1 thn | 3 jam pertama 1,5 gelas selanjutnya 0.5 gelas setiap kali mencret |
| Di bawah 5 thn (anak balita) | 3 jam pertama 3 gelas, selanjutnya 1 gelas setiap kali mencret |
| Anak diatas 5 thn | 3 jam pertama 6 gelas, selanjutnya 1,5 gelas setiap kali mencret |
| Anak diatas 12 thn & dewasa | 3 jam pertama 12 gelas, selanjutnya 2 gelas setiap kali mencret (1 gelas : 200 cc) |
Sumber: www.dinkesjakarta.comKarena penyebab Diare akut / diare mendadak tersering adalah Virus, maka tidak ada pengobatan yang dapat menyembuhkan, karena biasanya akan sembuh dengan sendirinya setelah beberapa hari. Maka pengobatan diare ini ditujukan untuk mengobati gejala yang ada dan mencegah terjadinya dehidrasi atau kurang cairan. Diare akut dapat disembuhkan hanya dengan meneruskan pemberian makanan seperti biasa dan minuman / cairan yang cukup saja.Dalam hal ini yang perlu diingat pengobatan bukan memberi obat untuk menghentikan diare, karena diare sendiri adalah suatu mekanisme pertahanan tubuh untuk mengeluarkan kontaminasi makanan dari usus. Mencoba menghentikan diare dengan obat seperti menyumbat saluran pipa yang akan keluar dan menyebabkan aliran balik dan akan memperburuk saluran tersebut. BAB IIIGAMBARAN EPIDEMIOLOGI A. Epidemiologi DiareKejadian diare di negara berkembang antara 3,5- 7 episode setiap anak pertahun dalam dua tahun pertama dan 2-5 episode pertahun dalam 5 tahun pertama kehidupan. Departemen kesehatan RI dalam surveinya tahun 2000 mendapatkan angka kesakitan diare sebesar 301/ 1000 penduduk, berarti meningkat dibanding survei tahun 1996 sebesar 280/ 1000 penduduk, diare masih merupakan penyebab kematian utama bayi dan balita. Hasil Surkesnas 2001 mendapatkan angka kematian bayi 9,4% dan kematian balita 13,2%. (Journal Medica Nusantara vol.27 no.2 april- juni 2006.” diare akut pada anak., Setia Budi S., Departemen ilmu kesehatan anak FK UH/ RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo- Makassar”).B. Distribusi Penyakit Diare1. Distribusi Penyakit Diare Berdasarkan Orang (umur)Sekitar 80% kematian diare tersebut terjadi pada anak dibawah usia 2 tahun. data terakhir menunjukkan bahwa dari sekitar 125 juta anak usia 0- 11 bulan, dan 450 juta anak usia 1-4 tahun yang tinggal di negara berkembang, total episode diare pada balita sekitar 1,4 milyar kali pertahun. dari jumlah tersebut total episode diare pada bayi usia di bawah 0-11 bulan sebanyak 475 juta kali dan anak usia 1-4 tahun sekitar 925 juta kali pertahun. (Tinjauan Pustaka “Diare Akut Pada Anak” oleh Setia Budi S, Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUH/RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo-Makassar) Tabel 3Jumlah Kasus Penyakit Diare Di Kabupaten/Kota Sulawesi Selatan Berdasarkan Umur Tahun 2004
| Umur (tahun) | Jumlah Kasus | Kematian (orang) |
| < 1 tahun | 28.946 kasus | 20 orang |
| 1 – 4 tahun | 57.087 kasus | 17 orang |
| > 5 tahun | 91.379 kasus | 29 orang |
Sumber: Survei Subdit Diare, Ditjen PPM-PLBerdasarkan pada tabel 3 dapat kita lihat bahwa jumlah kasus diare yang terjadi di Sulawesi Selatan menurut umur paling banyak terjadi pada usia > 5 tahun ini karena pada usia tersebut memiliki imun yang rentan terhadap penyakit.Kematian akibat diare yang paling tinggi terjadi pada umur >5 tahun yakni sebesar 29 orang, tingginya angka kematian pada usia demikian karena pada balita jumlah makanan yang dikonsumsi bertambah banyak berupa PMT dan aktivitas bermain anak yang dapat menyebabkan imunitas tubuh rendah. Tabel 4Jumlah Kasus Penyakit Diare Di Kabupaten/Kota Sulawesi Selatan Berdasarkan Umur Tahun 2005
| Umur (tahun) | Jumlah Kasus | Kematian (orang) |
| < 1 tahun | 27.029 kasus | 25 orang |
| 1 – 4 tahun | 60.794 kasus | 13 orang |
| > 5 tahun | 100.347 kasus | 19 orang |
Sumber: Survei Subdit Diare, Ditjen PPM-PLBerdasarkan pada tabel diatas dapat kita lihat bahwa jumlah kasus diare pada tahun 2005 di Sulawesi Selatan berdasarkan umur yang paling tinggi terjadi pada usia >5 tahun sebesar 100.347 kasus sedangkan kematian yang paling banyak terjadi berada pada usia <1 tahun yakni sebanyak 25 kematian.2. Distribusi Penyakit Diare Berdasarkan TempatBerdasarkan tempat maka distribusi penyakit diare di Indonesia banyak ditemukan di propinsi Nusa Tenggara Timur dengan CFR 1,28%. Tabel 5 KLB Diare Per Propinsi Tahun 2005
| No | Propinsi | JumlahKab KLB | JumlahLetusan KLB | JumlahPenderita | JumlahMeninggal | CFR (%) |
| 1. | NTT | 3 | 15 | 2194 | 28 | 1,28 |
| 2. | Sulawesi Tengah | 1 | 1 | 69 | 13 | 18,84 |
| 3. | Lampung | 1 | 2 | 95 | 2 | 2,11 |
| 4. | Sumatera Utara | 2 | 2 | 145 | 6 | 8,38 |
| 5. | Maluku Utara | 2 | 2 | 133 | 7 | 5,26 |
| 6. | Banten | 2 | 5 | 1371 | 26 | 1,90 |
| 7. | Sumatera Selatan | 1 | 1 | 95 | 1 | 1,05 |
| 8. | Jawa Timur | 1 | 1 | 48 | 0 | 0,00 |
| 9. | Papua | 1 | 1 | 486 | 37 | 7,61 |
| 10. | Jawa Barat | 1 | 1 | 148 | 1 | 0,68 |
| 11. | NAD | 5 | 8 | 267 | 6 | 2,25 |
Sumber: Profil PP & PL 2005Berdasarkan pada tabel diatas bahwa KLB diare yang palin tinggi yang paling besar terjadi pada daerah NTT dengan CFR sebesar 1,28%. Hali ini di sebabakan tingkat sanitasi masyarakat yang msih rendah, dimana pada daerah NTT tersebut terjadi kekurangan air, sehingga aktivitas mereka terbatasi dengan minimnya persediaan air.Tabel 6Cakupan Penemuan Penderita DiareDi Propinsi Sulawesi Selatan
| Kabupaten/Kota | Jumlah CakupanPenemuan Penderita Diare |
| Palopo | 146,74 % |
| Makassar | 115,04% |
| Soppeng | 112,63% |
| Enrekang | 111,67% |
Sumber: Survei Subdit Diare, Ditjen PPM-PLBerdasarkan pada tabel diatas dapat kita lihat bahwa cakupan penemuan penderita diare lebih banyak terdapat di daerah Palopo sebesar 146,74%. Hal ini karena petugas kesehatan yang aktiv untuk menurunkan angka kejadia diare.3. Distribusi Penyakit Diare Berdasarkan WaktuTabel 7Cakupan Penderita DiareDalam Lima Tahun Terakhir
| Tahun | Jumlah Penderita Yang Dilaporkan |
| 2000 | 4.771.340 penderita |
| 2001 | 2.873.414 penderita |
| 2002 | 1.788.492 penderita |
| 2003 | 1.950.745 penderita |
| 2004 | 596.050 penderita |
Sumber: Survei Subdit Diare, Ditjen PPM-PLBerdasarkan waktu maka distribusi penyakit diare di Indonesia sering ditemukan pada musim pancaroba (perubahan iklim dari musim hujan ke kemarau), sedangkan trend kejadian penyakit diare terjadi pada tahun 2000 yakni sebanyak 4.771.340 penderita. Tabel 8 Jumlah Penderita Diare Dalam Tiga Tahun Terakhir di Sulawesi Selatan
| Tahun | Jumlah Kasus (orang) | Jumlah Meninggal (orang) | CFR (%) |
| 2003 | 172.742 kasus | 73 orang | 0,04% |
| 2004 | 177.409 kasus | 66 orang | 0,04% |
| 2005 | 188,168 kasus | 57 orang | 0,03% |
Sumber: Survei Subdit Diare, Ditjen PPM-PL Berdasarkan pada tabel diatas dapat kita lihat bahwa jumlah penderita diare yang terbanyak dalam 3 tahun terakhir yakni pada tahun 2005, sedangkan jumlah penderita yang meninggal yakni pada tahun 2003 sebesar 73 orang. D. Frekuensi Penyakit DiareAngka kesakitan Diare tahun 2000 (survei oleh Subdit Diare, Ditjen PPM-PL) adalah 301 per 1.000 penduduk dan episode pada balita 1,3 kali per tahun. Pada tahun 2003 angka kesakitan Diare meningkat menjadi 374 per 1.000 penduduk dan episode pada balita 1,08 kali per tahun. Cakupan penderita Diare yang dilayani dan dilaporkan selama lima tahun terakhir cenderung menurun.Sementara itu jumlah penderita diare yang dapat dihimpun melalui laporan Survei Subdit Diare, Ditjen PPM-PL cakupan penderita Diare dalam lima tahun terakhir ditemukan bahwa jumlah penderita yang dilaporkan paling tinggi yakni pada tahun 2000 sebesar 4.771.340 penderita, sedangkan jumlah penderita yang dilaporkan paling rendah yakni pada tahun 2004 sebesar 596.050 penderita. Tabel 9 Cakupan Penderita Diare Dalam Lima Tahun Terakhir
| Tahun | Jumlah Penderita Yang Dilaporkan |
| 2000 | 4.771.340 penderita |
| 2001 | 2.873.414 penderita |
| 2002 | 1.788.492 penderita |
| 2003 | 1.950.745 penderita |
| 2004 | 596.050 penderita |
Sumber: Survei Subdit Diare, Ditjen PPM-PLBerdasarkan pada tabel diatas dapat kita lihat bahwa cakupan E. Isu Terbaru Penyakit Diare1. Produksi Telur Anti Diare Diare merupakan penyakit infeksi yang saat ini masih menjadi permasalahan di negara-negara berkembang, khususnya Indonesia. Dengan tingkat kejadian yang masih tinggi tersebut, maka dilakukan penelitian-penelitian dalam rangka menurunkan angka kejadian penyakit tersebut terutama pada saat musim pancaroba. Telur anti-diare dapat diproduksi dengan cara menyuntik ayam petelur dengan suspensi Escherichia coli Enteropatogenik (EPEC) pada vena axilaris. Kemudian dilakukan pengulangan dua minggu berikutnya masing-masing 3 kali. Antibodi akan ditransfer ke kuning telur sebagai kekebalan yang diperoleh dari induk (kekebalan maternal) untuk anaknya. Antibodi yang telah terbentuk pada serum, akan terbentuk pula pada kuning telur. Antibodi dalam telur tersebut spesifik terhadap antigen yang disuntikan. Misalnya penyuntikan ayam petelur dengan suspensi EPEC maka antibodi yang dihasilkan spesifik terhadap EPEC.
Antibodi dalam telur selanjutnya diisolasi. Isolasi antibodi meliputi pemisahan telur dari kuningnya, kemudian memurnikan antibodi dari lemak dan bahan lain. Beberapa metode telah digunakan yaitu presipitasi PEG (Polyethylene Glycol), Fraksinasi DEAE (dietilaminoetil) , ektraksi kloroform, water dilution,presifitasi dengan dekstran sulfat atau dekstran blue dan lain-lain. Antibodi yang telah dimurnikan dapat digunakan pada imunisasi pasif (pemberian antibodi aktif secara oral) dan sebagai reagen uji diagnostik.Saat ini berbagai riset produksi antibodi pada telur sedang dilakukan secara intensif oleh beberapa peneliti, baik peneliti luar maupun di dalam negeri. Aplikasi telur-anti diare yaitu memakan telur yang telah mengandung zat kebal yang bisa menangkal wabah diare. Harapannya dengan memakan telur anti-diare matang selain mengandung nutrisi tinggi, juga mengandung zat kebal. Dengan berhasilnya produksi telur anti-diare, maka wabah penyakit diare dapat dicegah dengan memakan telur anti-diare “Telur Anti Diare, A. Zaenal mustopa, Msi, 6 Maret 2007”; Available from : http://www.agrotek.agritechno.com/opini.html).2. Elemen Seng Mampu Mengatasi Penyakit Diare Elemen seng dinilai mampu mengatasi berbagai jenis penyakit infeksi, khususnya diare yang sering ditemukan dinegara berkembang. Karena selain memberikan imunitas pada tubuh, elemen seng juga mudah didapat dengan harga yang relatif murah. Pengobatan penyakit infeksi seperti diare dengan elemen seng dinilai tidak akan menimbulkan banyak masalah dibandingkan dengan menggunakan antibiotika yang sering menimbulkan suatu masalah. Elemen seng mampu membunuh kuman-kuman penyebab diare dan bisa didapat melalui metalloenzym pada tubuh dalam keadaan normal sebagai imunitas dalam tubuh.Pengobatan dengan seng cocok diterapkan di negara-negara berkembang seperti Indonesia yang memiliki banyak masalah terjadinya kekurangan elemen seng di dalam tubuh karena tingkat kesejahteraan yang rendah dan daya imunitas yang kurang memadai.Dari hasil penelitian Bhutta ZA terhadap 900 anak-anak berusia di bawah lima tahun di negara-negara berkembang, dengan memberikan sediaan elemen seng sebanyak 5 mg/hari pada bayi dan 10 mg/hari pada anak berusia 1 – 4 tahun diperoleh sediaan elemen seng yakni berupa seng asetat, glukonat atau sulfat yang diberikan selama 5 – 7 hari seminggu, terbukti telah berhasil menurunkan angka kesakitan diare secara signifikan (“Elemen Seng Mampu Atasi Penyakit Diar, Prof.Julius Effendi Surjawidjaja,24 Juli 2007”; Available from : www.mediaindonesiaonline.com)F. Program Penanggulangan Penyakit DiareUntuk menurunkan angka kesakitan dan kematian diare Pemerintah dalam hal ini Departemen Kesehatan R I, melalui Dinas Kesehatan melakukan beberapa upaya sebagai berikut :1. Meningkatkan kuantitas dan kualitas Tatalaksana Penderita diare melalui pendekatan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS), dan Pelembagaan Pojok Oralit.2. Mengupayakan Tatalaksana Penderita diare di Rumah Tangga secara tepat dan benar.3. Meningkatkan Upaya Pencegahan melalui kegiatan KIE, dan meningkatkan upaya kesehatan bersumber masyarakat.4. Meningkatkan sanitasi lingkungan.5. Peningkatan Kewaspadaan Dini dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa Diare BAB IVP E N U T U P A. Kesimpulan 1. Sekitar 80% kematian diare tersebut terjadi pada anak dibawah usia 2 tahun. Diare merupakan salah satu penyebab kematian kedua terbesar pada balita, nomor 3 bagi bayi serta nomor 5 bagi semua umur. 2. Jumlah kasus tertinggi penyakit diare di Kabupaten/Kota Sulawesi Selatan berdasarkan orang (umur) pada tahun 2004 yakni pada kelompok umur > 5 tahun sebanyak 91.379 kasus. Pada tahun 2005 kasus tertinggi juga ditemukan pada kelompok umur > 5 tahun sebanyak 100.347 kasus.3. Berdasarkan tempat maka distribusi penyakit diare di Indonesia pada tahun 2005 banyak ditemukan di propinsi Nusa Tenggara Timur dengan CFR sebesar 1,28%.
- Berdasarkan waktu maka distribusi cakupan penderita diare yang dilaporkan dalam lima tahun terakhir terjadi pada tahun 2000 dengan jumlah penderita yang dilaporkan 4.771.340 penderita.
B. Saran Berdasarkan data-data tersebut maka dianggap perlu untuk membahas mengenai persoalan penyakit diare sebagai penyumbang penyebab tertinggi ke dua kematian anak, sehingga semua pihak dapat mengupayakan strategi dalam rangka mengurangi kematian anak akibat diare demi peningkatan kualitas anak.
DAFTAR PUSTAKA Candra Segeren, Mohammad Djuffrie, Sri Suparyati Soenarto, Berkala Ilmu Kedokteran vol.37, No.4/2005, Faktor Risiko Kejadian Hipernatremia Pada Anak Balita Dengan Diare Cair Akut; Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada/RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Depkes R I, Kepmenkes RI Tentang Pedoman P2D, Jkt, 2002Diare Akut Disebabkan Bakteri Available from : www.library.usu.ac.id)Diare, Available from : www.dinkesjakarta.comElemen Seng Mampu Atasi Penyakit Diare Available from :www.mediaindonesiaonline.com Inisiatif Kemitraan Pemerintah-Swasta Untuk Cuci Tangan Pakai Sabun Available from : www.ampl.or.id Jangan Anggap Remeh Diare Available from : www.medicastore.comMenangani Diare Pada Anak Dengan Tepat Available from : www.medicastore.com Pedoman Pemberantasan Penyakit Diare edisi ke 3 depkes RI Direktorat Jenderal PPM & PL Tahun 2007 Setia Budi S, Journal Medica Nusantara vol.27 no.2 April- Juni 2006, Diare Akut Pada Anak; Departemen ilmu kesehatan anak FK UH/ RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo- Makassar Tinjauan Pustaka “Diare Akut Pada Anak” oleh Setia Budi S, Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUH/RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo-Makassar Telur Anti Diare, A. Zaenal mustopa, Msi Available from : http://www.agrotek.agritechno.com/opini.html


