Kontrol Kualitas Penelitian; quality control research
F. Kontrol Kualitas1. Standarisasi petugas Lapangan. Standarisasi petugas dilaksanakan dengan melaksanakan pelatihan kepada tenaga pewawancara untuk mendapatkan pemahaman yang sama dengan gold standar (peneliti). Untuk tenaga laboran, peneliti menggunakan tenaga dari RSB Fatimah yang sudah terlatih sebanyak 2 orang dengan latar belakang akademik analis kesehatan, dalam proses pengumpulan sampel, alat yang digunakan sama. Satu tenaga laboran dari Laboratorium Biomedik FK Unhas.2. Standarisasi metode dan alat ukur. Standarisasi alat ukur, dilaksanakan dengan meng adjust pada posisi normal sebelum digunakan. Untuk kuesioner, standarisasi dilaksanakan dengan melaksanakan uji coba kuesioner sebelum dilaksanakan penelitian, proses uji coba kuesioner berlangsung selama tiga bulan ( Mei – Juli 2005). Tenaga pewawancara terdiri dari 3 orang yang berkualifikasi Sarjana Kesehatan Masyarakat, yang juga bekerja di Bagian persalinan Rumah Sakit Sittih Fatimah.3. Pengawasan ReliabilitasReliabilitas adalah keajekan dari suatu pengukuran kepengukuran lainnya. Karena menilai keajekan dari suatu pengukuran ke pengukuran lainnya, maka reliabilitas disebut juga konsistensi. Reliabilitas meliputi dua aspek (Kothari, 1985): (1) Stabilitas dan (2) Kesamaan. Stabilitas adalah konsistensi hasil satu pengukuran ke pengukuran oleh seorang pengamat, terhadap subyek penelitian yang sama dan dengan instrumen yang sama (konsistensi intra pengamat). Kesamaan (equivalence) adalah konsistensi antara hasil pengukuran seorang pengamat dan hasil pengukuran oleh pengamat lainnya, terhadap subyek penelitian yang sama dan dengan instrumen yang sama, biasa disebut konsistensi antar pengamat. Menilai realibilitas, keajekan antara satu pengukuran dan pengukuran lainnya diukur dengan ukuran yang disebut koefisien relibilitas. Keajekan pengukuran dites melalui uji coba (pilot study), dilakukan pada populasi studi beberapa waktu sebelum penelitian yang sesungguhnya, tetapi dapat juga dilakukan pada sampel lainnya yang mempunyai karakteristik sama dengan populasi studi. Pada penilaian validitas kriteria, koefisien reliabilitas pada dasarnya mengukur kekuatan hubungan, dan ukuran kekuatan hubungan itu mempunyai batas maksimum dan minimum yang jelas. Ukuran kekuatan hubungan yang dipilih tergantung pada skala variabel yang dipilih. Jika variabel yang diukur skala kontinu, maka digunakan koefisien korelasi Person. Dalam riset epidemiologi, variabel yang menjadi perhatian penelitian sering kali diukur dalam skala dikotomi. Maka ukuran reliabilitas yang dipakai dalam hal ini adalah koefisien kesepakatan kappa (K) Cohen.Koefisien kesepakatan kappa mempunyai nilai maksimum = 1 (kesepakatan sempurna), dan nilai minimum = 0 ( tak ada kesepakatan sama sekali). Tabel 2 x 2 berikut untuk menghitung koefisien kesepakatan Cohen. Karena tujuan untuk menilai konsistensi, maka perhatian dipusatkan pada sel a dan sel d yang menunjukkan hasil-hasil yang konsisten. Sel a dan sel d disebut sel-sel konkordan. Maka, yang disebut koefisien Kappa Cohen adalah rasio antara proporsi kesepakatan (setelah memperhitungkan kesepakatan karena peluang) dan proporsi kesepakatan maksimum (setelah memperhitungkan kepakatan karena peluang). Rumus koefisien kesepakatan kappa (K) Cohen ( Cohen, 1960; Fleiss, 1971 dalam Murti, B, 1997) sebagai berikut :K = po – pe 1 – pe dengan : po = O11 + O22 NDengan :O11 ialah frekuensi teramati sel 11 (= sel a)O22 ialah frekuensi teramati sel 22 ( sel d)N ialah jumlah semua pengukuranProporsi kesepakatan harapan ialah :Pe = E11 + E 22 NDengan :E11 ialah frekuensi harapan (karena peluang semata) sel 11 sel a)E22 ialah frekuensi harapan (karena peluang semata) sel 22 (=sel d) E 11 = (a + b) ( a + c) N
E 22 = ( c + d ) ( b + d) N Tabel 11 Tabel 2 x 2 untuk menghitung koefisien kesepakatan K Cohen.Klasifikasi variabel(pengukuran kedua)
|
Ya | Tidak | |
| Ya | a | b | |
| Tidak | c | d |
Jika terdapat kesepakatan sempurna, maka O 11 + O 22 = N, sehingga po = 1, dan K = 1. Sebaliknya, jika tidak terdapat kesepakatan sama sekali, maka O11 + O22=0, sehingga po=0, dan K=0. Jadi koefisien kesepakatan kappa berkisar dari 0 sampai 1. Untuk membuat interpretasi koefisien kesepakatan kappa Cohen, digunakan petunjuk Landis dan Koch ( 1977) dalam Murti, B, 1996. yaitu :K = > 0.75 menunjukkan kesepakatan sangat baikK = 0.4 - 0.75 menunjukkan kesepakatan cukup baikK = 0 - 0.3 menunjukkan kesepakatan lemah.



Untuk saudara Zahlul, yang berminat untuk materi ini, dapat anda akses di web ini.
(ridwan)
ramiruddin
May 16, 2007
Kesepakatan yang ditunjukkan, jika nilai kesepakatannya 0,35 ikut mana? Mohon diperiksa kembali.
suchaini
September 15, 2009