Status gizi ibu hamil, Rokok dan efeknya.
Status Gizi Ibu Hamil 1. Status Gizi Ibu HamilMasa ibu hamil adalah masa dimana seseorang wanita memerlukan berbagai unsur gizi yang jauh lebih banyak daripada yang diperlukan dalam keadaan tidak hamil. Diketahui bahwa janin membutuhkan zat-zat gizi dan hanya ibu yang dapat memberikannya. Dengan demikian makanan ibu hamil harus cukup bergizi agar janin yang dikandungnya memperoleh makanan bergizi cukup, untuk alur terhambatnya pertumbuhan dari aspek gizi ibu perhatikan gambar 2.Perlu diperhatikan secara khusus adalah pertumbuhan janin dalam daerah pertumbuhan lambat dan daerah pertumbuhan cepat. Daerah pertumbuhan lambat terjadi sebelum umur kehamilan 14 minggu. Setelah itu pertumbuhan agak cepat, dan bertambah cepat sampai umur kehamilan 34 minggu. Kebutuhan zat gizi ini diperoleh janin dari simpanan ibu pada masa anabolik, dan dari makanan ibu setiap hari selama hamil. Berikut ini tertera jumlah unsur-unsur gizi yang dianjurkan selama hamil: kalori 2500 kal, protein 80 g, garan kapur 7,8 g, ferum 18 mg, vitamin A 4000 Kl, vitamin B1 1,2 mg, vitamin C 25 mg (Moehi Sjahmien, 1988). Makanan ibu selama hamil dan keadaan gizi ibu pada waktu hamil berhubungan erat dengan berat badan lahir rendah (BBLR). Apabila makanan yang dikonsumsi ibu kurang dan keadaan gizi ibu jelek maka besar kemungkinan bayi lahir dengan BBLR. Konsekuensinya adalah bahwa bayi yang lahir kemungkinan meninggal 17 kali lebih tinggi dibanding bayi lahir normal (Chase, 1989).
2. Pertambahan Berat Badan Ibu HamilKenaikan pertambahan berat badan ibu selama kehamilan dipengaruhi oleh berbagai faktor, yang terpenting keadaan gizi ibu hamil dan makanan ibu selama berlangsung kehamilan. Berat badan hamil dan makanan ibu selama berlangsung kehamilan. Berat badan (BB) sebelum hamil dan perubahan BB selama kehamilan berlangsung merupakan parameter klinik yang penting untuk memprediksi berat badan lahir bayi. Wanita dengan berat badan rendah sebelum hamil, atau kenaikan berat badan rendah sebelum hamil, atau kenaikan berat badan tidak cukup banyak pada saat hamil cenderung melahirkan bayi BBLR (Sayogo, 1993).Menurut Husaini kenaikan berat badan yang dianggap baik untuk orang Indonesia ialah 9 kg. kenaikan berat badan ibu tidak sama, tetapi pada umumnya kenaikan berat badan tertinggi adalah pada umur kehamilan 16 – 20 minggu, dan kenaikan yang paling rendah pada 10 minggu pertama kehamilan.Hasil penelitian di Bogor, menunjukkan bahwa kenaikan berat badan pada trisemester pertama adalah 1,0 kg, pada trisemester kedua 4,4 kg, dan pada trisemester ketiga 3,8 ketiga 3,8 kg (Husaini, dkk, 1986).Saat kehamilan tubuh wanita mengalami perubahan khususnya genitalia ekstema, interna dan mammae. Berat badan akan naik 6,5 – 16,5 kg terutama pada kehamilan 20 minggu terakhir (2 kg/bulan). Kenaikan berat badan dalam kehamilan disebabkan oleh hasil konsepsi berupa plasenta, fetus, liquor amnion dan dari ibu sendiri yaitu uterus dan mammae membesar, peningkatan volume darah, pertambahan protein dan lemak, serta terjadinya retensi darah (Manaf, 1994).Kenaikan berat badan selama kehamilan sangat mempengaruhi massa pertumbuhan janin dalam kandungan. Pada ibu-ibu hamil yang status gizi jelek sebelum hamil, maka kenaikan berat badan pada saat hamil akan berpengaruh terhadap berat bayi lahir (Husaini, 1996). 3. Penilaian Status Gizi Ibu HamilPenilaian status gizi dapat dilakukan melalui empat cara yaitu secara klinis, biokimia, biofisik, dan antropometri.a. Penilaian secara klinisPenilaian status gizi secara klinis sangat penting sebagai langkah pertama dalam mengetahui keadaan gizi penduduk. Karena hasil penilaian dapat memberikan gambaran masalah gizi yang nampak nyata.b. Penilaian secara biokimiaPenilaian status gizi secara biokimia di lapangan banyak menghadapi masalah. Salah satu ukuran yang sangat sederhana dan sering digunakan adalah pemeriksaan haemoglobin sebagai indeks dari anemia gizi.c. Penilaian secara biofisikPemeriksaan fisik dilakukan untuk melihat tanda dan gejala kurang gizi. Dilakukan oleh dokter atau petugas kesehatan atau yang berpengalaman dengan memperhatikan rambut, mata, lidah, tegangan otot dan bagian tubuh lainnya.d. Penilaian secara antropometriSudah menjadi pengetahuan umum bahwa ukuran fisik seseorang sangat erat berhubungan dengan status gizi. Atas dasar-dasar ini ukuran-ukuran antropometri diakui sebagai indeks yang baik dan dapat diandalkan bagi penentuan status gizi untuk negara-negara berkembang. Indikator yang sering digunakan khususnya untuk penentuan status gizi ibu hamil dipelayanan dasar adalah berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas (LILA).Suatu alat yang sederhana dan mudah dikerjakan, telah dirancang oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi Depkes RI Bogor untuk memantau keadaan gizi dan kesehatan, sekaligus sebagai dasar untuk memotivasi ibu hamil agar memeriksakan kesehatannya secara teratur di puskesmas dan posyandu. Penggunaan kurva dan KMS ibu hamil ialah berdasarkan hasil pengukuran tinggi badan (TB), berat badan (BB) per umur kehamilan ibu. Pada KMS garis kurva yang sesuai dengan tinggi badan ditebalkan dengan pulpen dan titik berat badan ibu dibubuhkan pada garis perpotongan dengan umur kehamilan. Apabila titik perpotongan tersebut berada diatas garis kurva tebal, berarti keadaan kehamilan itu baik, sebaliknya apabila titik tersebut berada dibawah garis kurva tebal berarti keadaan kehamilan itu memerlukan perhatian yang lebih khusus, misalnya dengan pemberian pelayanan kesehatan dan gizi yang lebih baik sehingga terhindar dari kemungkinan melahirkan bayi dengan berat lahir rendah (Medika, 1988). D. Mekanisme Seluler dan Molekuler BBLR Selama periode embrio bulan ke dua kehamilan, organ dan jaringan mengalami perkembangan, dan selama periode fetus ( 2- 9 bulan) organ – organ tersebut mengalami maturasi dan pertumbuhan (Sastry, 1991, dalam Abby C.Collier, 2002). Risiko terbesar dari efek teratogenik terjadi pada periode embrionik, plasenta tidak mengalami kematangan secara penuh atau secara fungsional berdiferensiasi. Namun banyak wanita yang tidak memahaminya, sehingga tetap berperilaku berisiko, misalnya merokok dan minum alkohol, yang semestinya dihindari (Bar-Oz et al.,1999; dalam Abby C.Collier, 2002.) Proses patofisiologis yang terjadi secara seluler dan molekuler dalam terhambatnya pertumbuhan janin masih belum diketahui dengan jelas, Sekarang ini banyak studi yang menggambarkan bahwa banyak faktor genetik yang berpengaruh secara signifikan terhadap berat janin. Polimorphism dari cytochrome P450 1A1 (gene CYP1A1) dan GSTT1 telah ditemukan berhubungan dengan menurunnya berat lahir pada wanita yang merokok, terdapat interaksi antara metabolisme gen dan faktor lingkungan (Wang et.al. 2002). Enzim GST dan famili cytochrome P450 (CYP) memiliki dua tahapan proses detoksifikasi dari toksin lingkungan yang sangat banyak dan unsur karsinogen. Gen untuk enzym ini adalah bagian dari tenaga gen aryl hydrocarbon (Ah) dan reseptor pengendali Ah (Nebert dan Gonzales, 1987 dalam Hideto, 2004). Reseptor Ah mengikat sejumlah kelompok bahan kimia, meliputi halogeted aromatik seperti dioksin dan polycyclic aromatic hydrocarbon, yang mengurangi transkripsi dari gen-gen dalam hal ini. (Safe, 1995 dalam Hideto, 2004). Selama beberapa tahun terakhir cytochrome P4502A6 (CYP2A6;coumarin 7-hydroxylase) telah mendapat perhatian yang cukup besar sebab telah ditemukannya prinsip-prinsip C-oxidase nikotine pada manusia. Enzim ini juga mengaktifasi prekarsinogen yang tidak berhubungan secaa struktural meliputi nitrosamin dan aflatoksin B1, metabolisme penggunaan obat yang digunakan secara pasti. Hal ini menggema karena variasi antar individu dan antar etnik terhadap tingkat dan aktifitas CYP2A6, dan banyak hal menjadi bukti polymorphisme gen CYP2A6, dimana beberapa mutasi seperti delesi gen telah dijelaskan. Frekuensi inaktifasi allele yang rendah pada populasi Eropa dan metabolisme yang sangat rendah terhadap obat coumarin telah digambarkan pada populasi tersebut. Sebaliknya frekuensi allelea yang relatif tinggi (15%-20%) dari delesi gen CYP2A6 telah ditemukan pada orang Asia, hasilnya secara umum mereduksi aktifitas pada populasi tersebut. Seba CYP2A6 sangat penting dalam metabolisme nikotin. CYP2A6 adalah gen dengan rentang region sekitar 6 pasang kilobase, berisi 9 exon dan dipetakan pada kromosom 19 ( antara 19q12 dan 19q13.2) (Miles et.al 1989 dalam Mikael Oscarson, 2001). Pada lokasi dengan 350 kilobasae mengelompok bersama dengan gen CYP2A7 dan gen CYP2A13. Beberapa variasi antar individu dalam mengekspresikan polymorphisme genetik pada gen CYP2A6, dan dua variant allele (CYP2A6*2 dan CYP2A6*3) telah dideskripsikan beberapa tahun yang lalu oleh Yamano et al.1990; Fernandez-Salguero et.al, 1995 (Mikael Oskarson 2001). E. Merokok dan Efeknya terhadap Kesehatan Data akibat merokok sigaret sangat menakutkan, dan suram. Diperkirakan bahwa angka kematian berlebihan tahunan di Amerika Serikat yang disebabkan oleh merokok sigaret adalah 350.000, lebih daripada kehilangan total jiwa orang Amerika dalam, perang dunia I, Korea dan Vietnam. Dalam tahun 1979, laporan US Surgeon General menyatakan : “merokok sigaret merupakan faktor lingkungan tunggal yang paling penting dalam meningkatkan kematian dini di Amerika Serikat”.
Royal
College of Physician, dan banyak penelitian telah mendukung kesimpulan itu. Angka kesakitan, dan kematian yang berhubungan dengan merokok sigaret hampir berkorelasi linier dengan jumlah batang rokok yang diisap setiap hari dan tahun pemakaian. Tahun pemakaian biasanya dinyatakan dengan istilah “tahun-bungkusan” (yaitu satu bungkus sehari selama 20 tahun sesuai dengan 20 tahun bungkusan). Seorang ahli statistik mengukur bahwa pada perokok selama 5 – 8 tahun, setiap batang sigaret mengurangi harapan hidup 5,5 menit. Terdapat beberapa bukti bahwa mode mutakhir pemakaian filter, dan sigaret “rendah nikotin” telah mengurangi risiko itu secara nyata, tetapi masih membutuhkan waktu lebih lama untuk menilai kegunaan cara tersebut. Cerutu dan merokok dengan pipa juga menghadapi risiko, tetapi jauh lebih rendah daripada merokok sigaret. Baru-baru ini sejumlah besar keprihatinan tentang efek samping pada ‘perokok pasif’ Kelainan ringan fungsi ventilasi telah ditemukan, dan yang lebih buruk lagi, sudah dibuat pernyataan tentang peningkatan risiko terkena kanker, walaupun penelitian lebih lanjut masih diperlukan. Penyakit spesifik yang berkaitan dengan merokok tidak akan dibicarakan. Beberapa konsep tentang prekuensi kelainan ini dihasilkan dari data berikut. Bukti yang mengaitkan merokok sigaret dengan kanker paru hampir dapat dipastikan, dan kanker paru merupakan penyebab nomor satu kematian karena kanker baik pada pria, maupun wanita di AS dalam tahun 1985. Perokok pria kira-kira 10 kali lebih mudah mati karena karsinoma bronkogenik daripada bukan perokok. Perokok wanita pada masa lalu juga telah mengalami risiko separuh dari perokok pria, tetapi perubahan perilaku telah mengurangi perbedaan ini. Risiko akibat merokok 2 bungkus sigaret sehari dalam 3 kali lebih tinggi daripada mereka yang merokok setengah bungkus sehari. Data yang berkaitan dengan kematian karena kardiovaskular sama menyedihkan. Merokok sigaret merupakan faktor risiko utama pada perkembangan penyakit aterosklerosis, dan penyebab penyakit jantung koroner, terutama infark jantung, yang merupakan penyebab nomor satu kematian disebagian besar negara industri. Sebagai tambahan, anak yang belum dilahirkan juga tidak terbebas dari bahaya merokok pada kehamilan, telah juga mengalami penurunan berat badan, dan peningkatan angka kematian prenatal. Pada tahun-tahun terakhir ini, usaha untuk menghindari bencana ini telah menyebabkan penggunaan rokok tak berasap seperti penghirupan rokok lewat hidung, mengunyah tembakau, atau segumpal tembakau disusupkan kedalam lipat pipi bagian dalam. Dengan menyesal dinyatakan bahwa praktek seperti ini telah meningkatkan insidensi karsinoma sel skuamosa pada gusi dan mukosa. Perokok dapat ”memperoleh semangat” karena dalam waktu setahun berhenti merokok angka insidensi serangan jantung yang meningkat pada pria dibawah 55 tahun mulai merosot, dan dalam dua tahun dapat mencapai batas dasar risiko bukan perokok. Sebagai tambahan, penurunan kecil jumlah kematian akibat karsinoma bronkogenik telah dicatat pada pria, tetapi tidak pada wanita. Apakah cukup bisa dipercaya bahwa usaha untuk mengurai penggunaan rokok telah berhasil mengurangi kematian pria akibat kanker paru, yang merupakan awal dari kecenderungan yang akan terjadi pada wanita juga? kesimpulannya jelas, bahwa sigaret merupakan penyebab kematian sejati. Apabila seorang menghisap asap rokok, maka bermacam-macam senyawa tertimbun di dalam paru-paru. Sebagian dari senyawa-senyawa tidak berbahaya, dapat terlarut dalam aliran darah dan dibawa keginjal untuk dikeluarkan dari tubuh. Tetapi ada senyawa yang tidak dapat larut dalam darah , sehingga tertimbun di dalam paru-paru, yang bila dibiarkan saja akan timbul keracunan. Untuk menjaga diri, badan membuat enzim yang mengubah senyawa itu menjadi senyawa yang dapat dikeluarkan dari tubuh. Salah satu senyawa berbahaya ialah hidrokarbon polisiklik. Salah satu enzim yang dimaksud diatas adalah AHH (aril hidrokarbon hidroksilase). Hidrokarbon polisiklik merupakan zar prokarsinogen, yaitu suatu zat yang tidak dapat menimbulkan kanker, tetapi bila bertemu dengan agen lain dapat bersifat karsinogen.Seorang ahli paru-paru mengemukakan bahwa asap rokok akan merusak epitel saluran nafas, menyebabkan rusaknya bulu getar epitel. Sekresi yang berlebihan akan terjadi, sehingga jalan nafas akan tersumbat oleh secret.Setelah diketahui bahayanya merokok bagi kesehatan, maka para pemilik industri rokok berusaha mengurangi banyaknya nikotin dan tar yang dikandung oleh asap rokok, yaitu dengan memasang sebuah filter pada pangkal batang rokok. Hasil penelitian tentang kandungan nikotin dan tar dalam asap rokok di beberapa Negara serta dosis rokok tiap hari dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 1. Dosis rokok, klasifikasi dan angka kematiannya
| 0 1-10 11-22 23 + | - ringan sedang berat | 18 87 168 383 |
Sumber : Cuyler, 2000.Table 2 dapat dilihat bahwa rokok di
Australia mengandung lebih sedikit nikotin dan tir dibandingkan dengan rokok dinegara lainnya. Juga merk rokok yang tergolong “berat” (artinya pengandungan nikotin dan tar tinggi) tidak dijual lagi di pasaran. Di Indonesia sampai sekarang belum dilakukan penelitian sejauh itu, semoga segera dapat dilaksanakan.
Tabel 2. Kandungan tar dan nikotin rokok dari berbagai Negara.
|
Negara |
| Sampai12 mgm | 13 – 18mgm | 19 – 24Mgm | Di atas24 | JumlahMerk yangdites | _Amerika SerikatInggris Kanada Australia Indonesia |
21(14,8) 12(11,9) 5(5,4) 19(18,8) ? | 47(33,1) 22(21,8) 29(31,6) 41(77,4) ?_ 56(39,4) 46(45,5) 53(57,6) 2 (3,8) ?_ 18(12,7) 21(20,8) 5 (5,4) 0 ?_142 101 92
53_ |
|


