editorial bebas asap rokok

Posted on April 25, 2007. Filed under: Uncategorized |

Editorial 

LAHIRNYA GENERASI  BANGSA  YANG  SEHAT BEBAS ASAP ROKOK 

Ridwan Amiruddin 

Pembangunan  sumber daya manusia  (SDM) belum menunjukkan  hasil  menggembirakan, Index pembangunan manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI) Indonesia  menempati urutan  ke 112 dari 174 negara (UNDP, 2003). Pada Tahun 2004, IPM  Indonesia menempati peringkat 111 dari 177 negara (UNDP, 2004). Peringkat ini lebih rendah dibandingkan peringkat  IPM Negara-negara tetangga.Rendahnya IPM ini karena rendahnya status  gizi dan kesehatan  penduduk Indonesia. Itu  dapat dilihat dengan  masih tingginya angka kematian  bayi yang mencapai  35 per seribu kelahiran hidup,  angka kematian balita  58 perseribu, serta angka kematian ibu, 307 perseratus ribu  kelahiran hidup (UNDP, 2001).  Lebih dari separuh kematian bayi, balita,  dan ibu ini berkaitan  dengan rendahnya   status gizi (Hadi Hamans, 2005; Fatmawati, 2006) Tingginya  angka kurang  gizi  pada ibu hamil  ini mempunyai  kontribusi  terhadap  tingginya  angka BBLR di Indonesia yang diperkirakan mencapai  350.000 bayi setiap tahunnya.Bayi dengan  berat lahir rendah  adalah salah satu  hasil  dari  ibu hamil yang menderita  kurang energi kronis dan akan  mempunyai  status gizi  buruk.  BBLR  berdampak serius  terhadap  kualitas generasi  mendatang  memperlambat pertumbuhan dan  perkembangan mental anak, penurunan kecerdasan (IQ) 10-13 poin. Pada tahun 1999 diperkirakan  1,3 juta anak  bergizi buruk, maka berarti  terjadi kehilangan potensial  IQ sebesar  22 juta poin. Diperkirakan  sekitar  17 juta  bayi  lahir BBLR setiap tahun  dan 16% diantaranya lahir di negara  berkembang.  Dari jumlah tersebut sekitar 80%  lahir di
Asia.   BBLR menjadi   masalah kesehatan masyarakat  utama berdasarkan rekomendasi  internasional pada cut of 15%, (
De Onis et al. (1998) Eur J Cl Nutr 52(S1):S5. dalam  WHO, 2004).  Dan jumlah BBLR di Indonesia diperkirakan mencapai 350 ribu  bayi setiap tahunnya ( Depkes, 2004. dalam Fatmawati, 2006)Penyebab BBLR di berbagai negara berkembang menurut WHO (2004),  meliputi defisiensi  nutrisi, pertambahan berat badan  yang rendah,  body maks indeks (BMI)   ibu hamil yang rendah,  tinggi badan yang rendah, dan defisiensi  micronutrien.  Determinant etiologi   yang lain meliputi  umur ibu,  malaria ibu hamil,   penyakit gastro intestinal, respiratory dan  kebiasaan merokok. (Kramer, (1987) ;Bull WHO 65:663, (2004).Kurt Salzer (1950:59), dalam Thrirteen Ways to Break the Smoking Habit, mengemukakan, ada 13 metode berhenti merokok. (1) Menyadari apa sebabnya Anda merokok. (2) Langsung berhenti merokok. (3) Jangan merokok waktu melakukan sesuatu atau sewaktu mengemudikan kendaraan. (4) Katakan kepada diri, “Saya tidak akan merokok hari ini”. (5) Tentukan suatu hari untuk berhenti merokok. (6) Katakan, “ya” bagi kesehatan Anda, dan katakan “tidak” untuk penyakit. (7) Merokok mengurangi kecantikan Anda. Oleh karena itu, katakan “ya” untuk kecantikan muka Anda dan “tidak” atas kerusakan kecantikan karena rokok.  (8) Adalah watak orang-orang muda, bahwa walaupun ada sifat menentang ibu-bapak atau guru, namun mencoba meniru mereka. Bapak atau guru yang melarang anak-anak merokok, tetapi mereka sendiri merokok, akan diikuti anak-anak jadi perokok. Oleh karena itu, Anda perlu menyadari pengaruh Anda sebagai orang tua atau guru, kalau Anda masih tetap merokok. (9) Pernahkah Anda membakar uang lembaran seribu rupiah? Anda, dengan merokok telah membuatnya. (10) Seseorang perokok telah terbiasa dengan bau rokok yang sangat tajam. Organismenya telah terbiasa dengan kadar nikotin tertentu. Gantinya memarahi seorang anak yang merokok, dipaksa merokok sampai dia merasa sakit. Akibatnya, kapan saja anak itu mencium bau rokok, dia merasa sakit. (11) Tersedak atau ketegukan akan berhenti dengan memperhatikan diafragma Anda, bagaimana diafragma itu mengembang dan mengempis. Amati diri Anda, kalau Anda sedang ingin merokok. Keinginan itu datang dari luar. Lalu tutup mata Anda dan pikirkan mengalahkan pengaruh luar tersebut. (12) Dalam pertentangan antara kuasa kemauan dan kuasa imajinasi, maka kuasa imajinasi itu akan menang. Bayangkanlah Anda tidak akan merokok lagi, maka Anda akan berhasil. (13) Agar metode imajinasi itu berhasil, jangan bimbang. Dengan santai katakanlah kepada diri, “Saya tahu bahwa saya tidak akan merokok lagi”. Oleh karena itu, Anda tidak akan merokok lagi.      Merokok selama kehamilan  berpengaruh terhadap bayi berat  lahir rendah,  angka SIDS (sudden  infant death syndrome ),  masalah perilaku,   dan kesulitan belajar.  Diyakini bahwa merokok   mengurangi   aliran oksigen dan nutrisi  ke janin.  Hal tersebut juga meningkatkan risiko keguguran   bagi wanita  hamil yang  merokok. Bayi  dan anak yang hidup disekitar perokok  lebih mudah terkena   batuk, infeksi telinga  dan  flu.  Anak yang  memiliki orang tua perokok   lebih cepat tumbuh menjadi seorang perokok juga.            Kerusakan gamet dan embrio akibat  rokok oleh Zenzez, M.T. (2000),  dijelaskan bahwa,  seorang ayah yang merokok  akan mengalami kualitas sperma yang rendah dan konsentrasi sperma yang rendah. Adapun komponen  kariogenik  rokok yang utama adakah cadmiun, cotinin dan benzo a pyrene, hal tersebut  dapat  menyebabkan kerusakan DNA atau chromosom. Transmisi  unsur kariogenik  dapat menyebabkan 1). Keagagalan implantasi, 2). Kelahiran prematur dan 3). Gangguan  perkembangan  postnatal.Sejumlah studi   telah  menggambarkan   bahwa  ibu hamil yang merokok  selama kehamilan  berhubungan dengan    menurunnya berat bayi yang dilahirkan. Ibu yang merokok didentifikasi  sebagai faktor modifikasi risiko  terbesar   untuk   BBLR. Meskipun  tidak semua   wanita yang merokok   melahirkan bayi BBLR. Untuk alasan ini   variasi  pemahaman masih sangat luas, tetapi   mungkin  berhubungan  dengan  kerentanan  genetik ibu (Wang, 2002). Sebuah review tentang efek nikotin  terhadap kehamilan, menyebutkan efek pharmakodinamika  nikotin  menyebabkan fetal hypoxemia melalui  reduksi  darah dari plasenta. Hasil temuan Ridwan juga telah membuktikan  betapa  nikotin  memberikan risiko  3 kali  lebih besar untuk  lahirnya bayi yang berat rendah.Akhirnya  melalui editorial ini penulis   menghimbau kepada  suluruh masyarakat untuk  menciptakan  lingkungan yang  bebas asap rokok  mulai dari diri sendiri, di  rumah tangga sendiri, keluarga sampai pada   tempat kerja  masing-masing. Kita harus  merecode DNA   kita, bahwa kita bisa hidup lebih  sehat dan lebih bermartabat tanpa harus meracuni diri sendiri. Sekarang waktunya   menyalakan DNA  positif, dengan  senantiasa juga berfikir positif, dan generasi  bangsa yang sehat  dan siap  berkompetisi akan  lahir. 

 

 

 

 

 

             

Make a Comment

Make a Comment: ( 2 so far )

You must be logged in to post a comment.

2 Responses to “editorial bebas asap rokok”

RSS Feed for "New Paradigm for Public Health" Comments RSS Feed

berhentilah merokok sekarang juga,

mengajak sahabat berdiskusi tentang rokok dan kesehatan


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...