Institusi Pendidikan Public Health

Posted on November 26, 2009. Filed under: Uncategorized |

III. Institusi Pendidikan Rahim Public Health Leader

Oleh : Ridwan Amiruddin
Data BPS menunjukkan pengangguran sarjana lebih dari 600.000 (2008), bahkan Data direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (dikti) , Depdiknas, sampai Agustus tahun ini, tercatat 961.000 sarjana yang menganggur. Mereka berasal dari 2.900 perguruan tinggi dengan berbagai disiplin ilmu (Gatra, 2009). Keadaan ini jauh lebih berbahaya daripada penganggur yang bukan sarjana karena dapat menimbulkan masalah social (Brojonegoro, 2009) yang serius.
Tingginya angka tersebut terkait dengan rendahnya keterampilan diluar kompetensi utama sebagi sarjana. Pada hal , untuk menjadi lulusan yang siap kerja , keterampilan diluar bidang akademik , terutama yang berhubungan dengan entrepreneurship (kewirausahaan) sangat dibutuhkan. Pendidikan berbasis kompetensi akan menjadi sumbangan yang besar bagi calon sarjana, untuk tidak menganggur. Dengan kompetensi dasar yang baik; penguasaan ICT, bahasa, seni dan bidang-bidang yang memicu lahirnya ndustri kreatif, maka selalu ada ide kreativitas yang muncul sehingga kemampuan untuk meraih persaingan global akan menjadi lebih memungkinkan.
Pada situasi yang lain, Kini masyarakat sudah terbius dengan kehausan akan berbagai gelar. Setiap orang ingin mempunyai gelar sebanyak mungkin, ada yang melalui pendidikan dan ada yang membeli gelar. Seolah olah seseorang menjadi tidak berharga jika tidak mempunyai gelar. Hanya masyarakat miskin yang tidak bergelar karena tidak mampu membayar pendidikan dan tidak mampu membeli gelar. Perguruan tinggi menyediakan layanan untuk mendapatkan gelar, baik melalui pendidikan yang sebenarnya maupun seadanya, bahkan dengan menjual gelar. Perguruan tinggi butuh uang, masyarakat butuh gelar , maka terjadilah perpaduan yang menyesatkan. Banyak alumni yang menyandang gelar tanpa dibarengi keahlian dan atau kompetensi. Ketika mencari pekerjaan , mereka tidak memenuhi syarat sehingga terjadilah pengangguran bergelar.
Untuk keluar dari kemelut yang berkepanjangan tersebut, maka sangat mendesak mengembalikan fungsi perguruan tinggi sebagai kawah penempaan kompetensi mahasiswa, sehingga tidak melahirkan alumni yang setengah jadi (yang penting lulus), tetapi alumni yang mampu menunjukkan jati dirinya, berdiri sejajar dengan alumni dari universitas lain bahkan melebihinya.
Kepada masyarakat, semestinya juga tidak membangun mindset bahwa gelar adalah segala-galanya, tapi yang paling utama adalah kemampuan, kompetensi individual untuk mengembangkan diri semaksimal mungkin sehingga mampu menjadi pioner dalam pembaharuan di lingkungannya.
Untuk melahirkan public health leader yang tangguh, seharusnya lahir dari institusi pendidikan yang bermutu.Untuk itu kini terdapat shift paradigm pengelolaan perguruan tinggi yang bermutu tersebut. Paradigma baru perguruan tinggi yang bermutu, bukan hanya pada produk semata tapi mengutamakan proses dalam mengidentifikasi atribut-atribut mutu sebagai prinsip yang sangat penting dalam pencapaian mutu luaran pendidikan yang mampu mengembangkan amanah public health menjadi lebih baik.
Perguruan tinggi yang bermutu memiliki berbagai atribut diantaranya; 1. Relevansi; kesesuain dengan kebutuhan, 2. Efisiensi; kehematan dalam menggunakan sumber daya, 3. Efektifitas; kesesuaian perencanaan dengan hasil yang dicapai, 4. Akuntabilitas ; kebertanggungjawaban, 5. Kreatifitas; kemampuan perguruan tinggi melakukan inovasi, 6. Situasi menang-menang; semua orang menjalankan tugasnya dengan senang, tulus dan penuh semangat 7. Penampilan ; kerapian, kebersihan dan keindahan dan keharmonisan fisik, sehingga pelayanan akademik semakin menarik. 8. Empati memberikan pelayanan sepenuh hati kepada pelanggang, 9. Ketanggapan; memberikan respon terhadap keadaan serta kebutuhan pelanggan secara cepat dan tepat, 10. Produktifitas; menghasilkan produk yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan, dan 11. Kemampuan akademik; penguasaan mahasiswa terhadap bidang studi yang diambilnya (Tampubolon, 2001).
Berangkat dari atribut tersebut, maka seyogyanya perguruan tinggi atau Institusi pendidikan tidak melahirkan pengangguran bergelar semata, tetapi, melahirkan public health leader yang memiliki kompetensi yang handal. Dengan kompetensi yang handal serta didukung oleh kepercayaan diri yang baik, berorientasi pembelajar dan focus pada peta jalan ke dapan, maka diyakini luaran tersebut akan mampu menjadi public health leader yang dapat memenangi persaingan global.

Hadirin yang berbahagia, akhirnya tibalah kita pada bagian penutup dari orasi ini.
IV. Penutup

Bertahun-tahun lamanya kita membohongi generasi muda. Kita katakan mereka adalah masa depan bangsa dan Negara, tetapi tidak melengkapi mereka untuk membangunnya, Yang kita wariskan hanyalah tanggung jawab atas kerusakan social, politik, keuangan dan lingkungan (Rinerhaart, 1993 dalam Tampubolon, 2001).
Kebohongan yang paling mendasar adalah apabila kita tidak mewariskan system pendidikan yang bermutu yang dapat memperlengkapi generasi muda agar mampu membangun bangsa dan Negara ini untuk menghadapi tantangan zaman. Sistim pendidikan bermutu, perguruan tinggi bermutu, memungkinkan pemimpin penerus , akan mampu mengemban tanggung jawab berat itu. Mereka juga akan mampu memelihara dan meningkatkan mutu dari hasil hasil positip masa lalu. Semua itu akan mungkin, karena SDM bermutu tersedia melalui system pendidikan bermutu dan pendidikan bermutu. Sisytem pendidikan bermutu adalah investasi jangka panjang yang harus mendapatkan prioritas utama dalam anggaran Negara. Jika tidak, bangsa dan Negara ini akan terus mengalami krisis berkepanjangan dalam hampir semua sektor kehidupan.
Para orang tua yang arif dan bijaksana umumnya menyadari bahwa Warisan paling berharga bagi anak-anak mereka bukan rumah atau mobil mewah atau uang yang banyak, apalagi kalau berasal dari jalan yang tidak benar, melainkan pendidikan yang bermutu. Karena itu para pemimpin yang bermutu, baik eksekutif maupun legislative yang paling perlu diwariskan kepada generasi muda adalah sistem pengelolaan Negara yang bermutu, yaitu sistem pendidikan yang bermutu. Dengan sistem yang bermutu, itulah generasi muda, khususnya pemimpin penerus dapat melestarikan dan meningkatkan mutu sistem yang lain, sehingga akan mendapatkan apresiasi yang baik dari generasi berikutnya.
Reference.
1. Baum, F. (2008). The New Public Health. Australia: Oxford University Press.
2. Brojonegoro, S.S (2009). Penganggur bergelar. Kompas (24 Sept 2009).
3. Chu (2008) Health Determinat 2008 Future Challenges. Australia; Griffith University.
4. Kompas (2009). Pemanasan global timbulkan bencana (24 sept, 2009)
5. Tulchinsky, T. H and Varavikova, E. A (2000). The New Public Health. USA: Academic Press.
6. Tampubolon, D. P (2002). Perguruan Tinggi bermutu. Jakarta: PT. Gramedia.
7. Susilo, I.B. (2009). Belajar dari China. Jakarta. Kompas 1 oktober 2009.
8. Gatra No.47 (2009).Sarjana kok menganggur, p.28.


Read Full Post | Make a Comment ( None so far )

Pneumonia riset

Posted on November 25, 2009. Filed under: Uncategorized |

http://www.akademik.unsri.ac.id/download/journal/files/medhas/AA-4-2%20Analisis%20Faktor%20(Ridwan%20Amiruddin).pdf


Read Full Post | Make a Comment ( None so far )

Course HIV and AIDS response in KIT Amsterdam Nederland

Posted on November 25, 2009. Filed under: Uncategorized |

NAC (National AIDS Commision) Indonesia bekerjasama dengan KIT Amsterdam mengembangkan sebuah training/course untuk strengthening progmam HIV/AIDS di Indonesia. 13 Nov 09-23 Desember 2009. Berbagai materi yang terkait dengan course ini diantaranya; Epidemiology HIV/AIDS, Harm Reduction, Curiculum development, field trip, international conference. Pemateri untuk course ini cukup berkompeten dalam bidang masing masing misalnya Elisabeth Pisani, Hermen, David plumer, dan masih banyak lagi yang lainnya. Menjadi peserta pada course ini di Amsterdam pada musim winter ini cukup menantang. Cuaca yang semakin dingin, materi yang semakin seru, rindu keluarga, makanan Indonesia yang terbatas, dan waktu sebulan setengah rasanya cukup lamaaa….


Read Full Post | Make a Comment ( None so far )

Situasi Global Public Health

Posted on October 12, 2009. Filed under: Uncategorized |

Situasi Global Public Health

Oleh. Ridwan Amiruddin

Public health  pada abad ke 21  menghadapi berbagai tantangan baru berupa terorisme, pemanasan global, perang di Timur Tengah, pengaruh globalisasi ekonomi  dan pertumbuhan ekonomi  beberapa Negara Asia.  Teknologi informasi baru, system transportasi  cepat yang global, globalisasi perdagangan  dan modal, merajalelanya konsumerisme, serta berbagai issu lokal yang dengan cepat menjadi meluas dibanding sebelumnya. Ancaman terhadap lingkungan dan kesehatan  menjadi semakin besar dalam jumlah dan intesitasnya.

Dekade awal abad ke 21 ini telah terbukti bahwa kehidupan menjadi semakin tidak pasti, kurang keseimbangan, penuh risiko dan lebih mengancam. Untuk pertama kalinya dalam 2 abad terakhir life expectancy mengalami penurunan di berbagai wilayah belahan dunia. Gambaran  masa depan  adalah semakin memburuknya lingkungan alamiah, kesenjangan antara  kaya dan miskin, penurunan status kesehatan untuk berbagai populasi dan penurunan kualitas kehidupan masyarakat ini adalah sebuah skenario  yang sangat buruk.

Public health menawarkan konsep ecological sustainability sebagai jantung dari aspirasi  public health  pada abad ini.  Tekanan dan beban lingkungan yang kita tempati secara bersama-sama memberikan ancaman  terhadap system daya dukung untuk kehidupan manusia dan hal ini akan terus berlanjut pada dekade yang akan datang.  Perubahan suhu  telah mengarah pada puncak perhatian public dan menjadi agenda  politik  di seluruh dunia.

Pemanasan global ini merupakan akibat dari rangkaian fenomena yang saling kait, antara lain pertambahan penduduk, peningkatan permintaan sumber daya alam, industrialisasi, konsumsi BBM, emisi, peningkatan suhu, mencairnya es, makin tingginya uap air, dan perubahan  arah angin muson (Jaya, 2009).

Contoh, dengan pemanasan global, amplitude suhu makin besar. Di siang hari suhu dapat lebih panas dan lebih dingin di malam hari , tergantung daerahnya. Kondisi tersebut menyebabkan kondisi tubuh rawan menurun sehingga lebih mudah terjangkit penyakit. Hal lain penyebaran penyakit semakin cepat dan tak terkendali, beberapa penyakit hanya muncul pada musim tertentu, sekarang sudah menjadi endemic, atau ada sepanjang musim, misalnya cacar air dan DBD.

Kelangkaan sumber air akibat ketidakteraturan musim dan kegagalan manajement air  akan berpengaruh terhadap kelangkaan pangan  dan penyakit kurang gizi . Agen penyakit  gampang bermutasi , hal ini misalnya munculnya kasus flu burung dan influenza A (H1N1), virus Corona , bermutasi menjadi SARS. Berbagai daerah menjadi lebih hangat, sehingga parasit pembawa penyakit seperti nyamuk, menyebar ke daerah baru yang tak siap dengan kedatangan pembawa penyakit itu.

Ecological Public Health  harus menjadi prioritas utama untuk  seluruh praktisi public health. Untuk menjamin sustainabilitas diperlukan perubahan  di komunitas. Perubahan  diperlukan  untuk membuat kota lebih sehat ;mengurangi polusi, efisiensi penggunaan energy, pengurangan pembakaran karbon,  lebih menekankan pada recycle dan mengurangi produksi sampah dan pemenuhan kebutuhan produksi  pangan yang lebih variatif.   Jika perubahan ini  telah dilakukan hal itu akan meningkatkan mutu kesehatan dan membuat kota tempat tinggal kita menjadi lebih sehat sebagai tempat untuk melanjutkan kehidupan.

Bahagian penting  terhadap sebuah perubahan besar yang disebutkan oleh  Ian Lowe yang dibutuhkan untuk mencapai  sustainabilitas pada masa depan. “We are all engaged in the creation of our future. The future is not somewhere we are going, but something we are creating. We take decision every day that make some futures more probable and others less probable. It should be a goal to make  our future a sustainable one. This will involve some big changes. (Lowe, 2005 dalam Baum, 2008).

“Kita semua terlibat dalam membangun masa depan kita, Masa depan bukanlan ke mana kita akan pergi, tetapi sesuatu yang kita buat. Kita mengambil keputusan setiap hari yang membuat  sesuatu menjadi lebih mungkin  dan yang lain menjadi kurang berpeluang.  Hal itu yang seharusnya menjadi sebuah tujuan untuk masa depan yang berkelanjutan.  Ini lah yang akan  menjadi perubahan besar”.

Berbagai pakar mengurai bahwa Determinant kesehatan dan tantangan perubahan global yang akan datang meliputi empat issu yang penting yaitu; 1). Population aging, 2.Environmental crisis, 3. Chronic and emerging infectious diseases, 4. Rapid urbanization (Chu, 2008).

1). Population aging.

Tidak diragukan lagi bahwa populasi dunia bertumbuh dengan cepat.  Kelompok umur 60 tahun ke atas  meningkat lebih dari 3 kali lipat dalam 50 tahun berikutnya. Dari 600 juta  pada tahun 2001 menjadi 2 milyar pada tahun 2050. Issu utama terkait dengan ini adalah pelayanan kesehatan  penduduk lansia pada semua  level pelayanan, membutuhkan perencanaan, kebijakan yang tepat dan dukungan lingkungan dalam merespon transisi  demographic tersebut.

2). Krisis lingkungan dan perubahan iklim

Degradasi lingkungan ini berkaitan dengan populasi dunia yang meningkat menjadi 9 – 10 Milyar pada tahun 2050, dan konsumsi energy  menjadi 3 kali lipat.

Degradasi lingkungan menjadi sangat cepat; peninkatan populasi dan konsumsi, penurunan sumber daya yang tidak terbaharukan dan hutan tropis, peningkatan polusi tanah, air dan udara baik indoor maupun outdoor,

Perubahan iklim dan lingkungan; PBB memperingatkan bahwa  begitu banyak orang yang meninggalkan rumah disebabkan oleh polusi, peningkatan  permukaan air laut dan  meluasnya padang pasir dari 25 juta orang pengungsi pada tahun 2005 menjadi 50 juta pada tahun 2010.

Untuk mengurangi hal tersebut maka dibutuhkn aksi yang tepat, pendidikan lingkungan, management ekologi, partisipasi komunitas dan perencanaan kota yang terintegrasi. Hal inilah yang menjadi esensi dari kota sehat untuk keberlajutan masa depan.

3). Emerging dan re emerging population health problems in the 21st century: non communicable diseses and infectious disease.

Populasi dunia mengalami encaman  besar baik penyakit menular mapun tidak menular. Pada satu sisi perubahan gaya hidup  dan usia populasi, manusia menghadapi  berbagai penyakit kronik dan penyakit degenerative. Beberapa penyakit kronik diantaranya;

  1. Kesehatan mental; depresi, stress kerja dan bunuh diri.
  2. Gaya hidup  yang terkait penyakit kronik;  kanker, jantung, dll.
  3. Penyakit yang terkait dengan rokok;
  4. Food safaety, nutrition, kelebihan konsumsi dan gangguan konsumsi
  5. Diabetes

Dalam penyakit menular, manusia menghadapi ancaman baru new emerging diseases. Setiap tahun , 1500 orang tua di dunia  meninggal karena TB, dan penyakit infeksi baru.

Perubahan lingkungan, ekonomi, social dan science menjadi pemicu peledakan penyakit  lebih dari 35 penyakit infeksi baru  dalam 30 tahun terakhir, diantaranya;

  1. Penyakit dengan vector nyamuk; Malaria dan DHF meningkat karena banjir dan global warming.
  2. Penyakit infeksi baru seperti SARS, Bird Flu, West nile, Ebola, Bloodborne hepatitis C & AIDS dan Swine Flu.

4). Urbanization; Tekanan perubahan  yang dialami pemerintah adalah pertumbuhan penduduk kota yang sangat cepat, Berbagai tekanan  tersebut diantaranya;

a. Inequalitas

b. Perubahan ekosistem

c. perubahan demographi dan  perilaku

d. Perkembangan ekonomi

e. Kemiskinan dan kesenjangan social

f,  Perang dan kelaparan, dll

Selanjutnya PBB mendeklarasikan sebuah perubahan Millenium  yang meliputi; 1. Eradikasi  kemiskinan dan kelaparan, 2. Pencapaian pendidikan dasar, 3. Ekualitas gender dan pemberdayaan perempuan, 4. Menurunkan AKB, 5. Memperbaiki kesehatan ibu, 6. Melawan  HIV/AIDS, malaria dan penyakit menular lain, 7. Environmental sustainability. 8. Global partnership untuk pembangunan (www.UN.org dalam Baum, 2008).

Dalam perubahan tersebut etika baru akan mengalami pergeseran menjadi lebih humanis.

Etika baru terhadap sustainabilitas dan ekuitas

Current ethic Ethic of sustainable place
Individualism, selfishness (mementinhgkan diri sendiri) Interdependence, community (mementingkan orang banyak)
Shortsightedness, present-oriented ethic (orientasi jangka pendek) Farsightedness, future –oriented ethic (orientasi jangka panjang).
Greed, commodity based (rakus) Altruism(peduli orang lain)
Material, consumption based Non-material, community based
Arrogance(angkuh) Humility, caution(rendah hati)
Anthropocentrism Kinship(kekeluargaan)

Sumber; Beatley and Manning, 1997 dalam Baum 2008


Read Full Post | Make a Comment ( None so far )

Recently on "New Paradigm for Public Health"...

STRATEGI PENGENDALIAN ROKOK

Posted on February 6, 2010. Filed under: Uncategorized |

Public Health Leader Masa Depan

Posted on November 26, 2009. Filed under: Uncategorized |

http://www.akademik.unsri.ac.id/download/journal/files/medhas/AA-4-2%20Analisis%20Faktor%20(Ridwan%20Amiruddin).pdf

Posted on November 25, 2009. Filed under: Uncategorized |

SELAMAT IDUL FITRI 1430 H

Posted on September 17, 2009. Filed under: Anouncement |

Agenda UPPK FKM UNHAS 2009

Posted on June 18, 2009. Filed under: Uncategorized |

Langkah pencegahan flu babi

Posted on May 1, 2009. Filed under: Uncategorized |

Awas Flu Babi

Posted on April 27, 2009. Filed under: Uncategorized |

kota kalong

Posted on April 10, 2009. Filed under: artikel populer |

kota kalong

Posted on April 10, 2009. Filed under: Uncategorized |

Fakta tentang tembakau

Posted on February 17, 2009. Filed under: Uncategorized |

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...